Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Saut Martua Amperamen 09:42 WIB | Senin, 17 April 2017

Pesan Pastoral PGI: Pilih yang Teruji dan Anti Korupsi

Gomar Gultom, sekretaris umum PGI. Foto: Dedy Istanto

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Menjelang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom, mengingatkan kembali pesan pastoral PGI yang telah disampaikan menjelang Pilkada serentak di Indonesia  pada 31 Oktober tahun lalu.

"Terkait dengan Pilkada DKI Jakarta tahap kedua yang akan berlangsung 19 April 2017 yang akan datang, ijinkan saya menggaris-bawahi kembali Pesan Pastoral tersebut seraya menyampaikan imbauan berikut kepada warga gereja dan masyarakat yang berada di Jakarta," tulis Gomar, dalam siaran pers yang diterima satuharapan.com.

Ia mengatakan PGI mengimbau umat untuk menggunakan hak pilih sebagai bentuk tanggung jawab iman percaya.

"Dengan memilih, Saudara bisa menentukan orang yang tepat untuk memimpin Jakarta untuk jangka waktu lima tahun ke depan. Olehnya, sikap menghindari Pilkada oleh rupa-rupa sebab dapat dinilai sebagai penghindaran diri dari rasa tanggung-jawab atas masa depan bersama," tulis Gomar.

Selanjutnya, umat diminta menghindari penentuan pilihan atas dasar transaksional. Dikatakan, kepentingan bersama untuk jangka panjang, terlalu mahal untuk dikorbankan untuk kepentingan segelintir orang dab untuk jangka pendek.

"Olehnya hindarilah politik uang dan pertimbangan-pertimbangan emosional. Politik uang hanya merupakan pembodohan rakyat dan merusak substansi demokrasi kita."

Lebih jauh dikatakan bahwa politik uang adalah dosa yang harus dihindari.

Pesan pastoral itu juga mengutip Kitab Keluaran 18:21 mengatakan bahwa mereka yang layak dipilih sebagai pemimpin haruslah “orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap.” Atas dasar itu, kata Gomar, umat hendaknya  memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Di tengah kebebasan Saudara memilih, kami mengajak Saudara untuk sungguh-sungguh memilih di antara calon yang sudah teruji kecakapannya dalam mengabdikan diri kepada masyarakat, dan tidak terjebak pada janji-jani manis yang belum teruji kebenarannya. Perhatikanlah jejak para calon apakah memang sudah memiliki rekam jejak yang berprestasi.
     
  • Perhatikan pula rekam jejak mereka, apakah memang selama ini membenci suap. Komitmen pada penghapusan korupsi tidak bisa hanya pada ungkapan-ungkapan verbal tetapi harus nyata melalui tindakan nyata. Korupsilah yang membawa masyarakat kita terpuruk pada kemiskinan. Olehnya pilihlah di antara calon yang sudah teruji memang bebas dan anti korupsi.
     
  • Pilihlah pasangan calon yang dapat dipastikan merupakan pasangan yang harmonis dan bisa saling melengkapi. Sebab jika pasangan calon tidak kompak, tidak harmonis, tidak saling mendukung, maka sudah pasti proses pemerintahan akan mengalami hambatan dan rakyat akan merasakan akibatnya.
     
  • Yang tak kurang pentingnya adalah memperhatikan gabungan partai politik yang mengusung pasangan calon. Cermatilah idiologi apa yang ada di balik partai-partai pengusung, rekam jejak mereka, kelompok organisasi sayap pendukung apa yang ada di dalamnya, siapa saja tokoh utama yang berpengaruh terhadap partai tersebut. Apakah ada partai itu yang tidak secara jelas menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan ideologi lain.  Hal-hal ini penting agar jangan sampai pasangan calon terpilih disandera atau dipengaruhi oleh partai-partai tersebut dalam menjalankan pemerintahan.
     
  • Selain itu, perhatikan juga bangunan koalisi para pendukung calon tersebut apakah bersifat transaksional atau memang sungguh-sungguh untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.
     
  • Bagaimana komitmen para pendukung tersebut terhadap pemberantasan korupsi serta kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia.
     
  • Hindarilah memilih pasangan calon yang tidak memiliki komitmen bagi kebangsaan kita, yang  hanya mengedepankan sekelompok orang seraya menegasikan kelompok lainnya dalam masyarakat. Demikian pun calon yang menghalalkan segala cara demi meraih simpati pemilih seperti kampanye jahat yang hanya bertujuan menjelek-jelekkan calon lain, serta selalu mengangkat isu SARA sudah pasti mencederai demokrasi dalam pemilu dan merusak bangunan kebangsaan kita. Marilah kita jadikan Pilkada ini menjadi ajang bagi kita untuk memilih pemimpin yang mampu menjaga tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

Di bagian lain pesan pastoralnya, PGI mengimbau  seluruh warga untuk ikut aktif mengawasi jalannya Pilkada  agar kualitas Pilkada terjamin.

Sementara untuk penyelenggara Pilkada yakni KPU, Bawaslu/Panwas, PGI berdoa dan berharap, mereka mampu melaksanakan mandat secara profesional dan bertanggung jawab, jujur, adil, transparan dan tidak memihak.

Kepada aparat keamanan, sebagai komponen utama dalam proses demokratisasi Indonesia, PGI mendoakan agar  mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan tulus, baik dan professional, sehingga Pilkada dapat berjalan dalam suasana yang kondusif, aman dan tenteram bagi seluruh warga dalam menggunakan hak pilihnya.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home