Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 20:17 WIB | Kamis, 16 Mei 2019

Petsai alias Sawi Putih, Memerangi Kolesterol Jahat dalam Darah

Sawi putih, alias petsai, atau kubis napa ( Brassica rapa subsp. Pekinensis). (Foto: e-recipe.site)

SATUHARAPAN.COM – Petsai atau sawi putih memang tidak sepopuler sawi hijau, yang di Indonesia biasa dipakai pelengkap mi ayam atau mi bakso yang dijajakan di kaki lima. Petsai atau sawi putih biasanya dipakai untuk pelengkap masakan capcai (capcay), sayur sup bening, atau diolah menjadi sawi asin, dengan cara diawetkan dalam cairan gula dan garam.

Tetapi, sayuran yang disebut napa cabbage dalam bahasa Inggris ini, sangat populer di Tiongkok, Jepang, dan Korea. Kubis napa digunakan sebagai tanda kemakmuran di Tiongkok, dan sering muncul sebagai simbol pada gambar-gambar kaca dan porselen. Patung giok di Museum Istana Nasional Taiwan adalah ukiran dari berbagai kubis napa, demikian juga ditemukan di kota-kota Amerika Utara, Eropa dan Australia, di permukiman imigran Asia.

Dalam masakan Korea, kubis napa adalah bahan utama baechu-kimchi, jenis kimchi yang paling umum. Kimchi adalah makanan tradisional Korea, salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Pengolahan dilakukan dengan menggarami dan mencuci, lalu mencampur sayuran dengan bumbu yang dibuat dari udang krill, kecap ikan, bawang putih, jahe, dan bubuk cabai merah.   

Selain untuk bahan kimchi, sawi putih yang berasa manis, renyah, dan beraroma seledri, juga dimakan mentah sebagai bungkus untuk daging babi atau tiram yang dicelupkan ke dalam gochujang. Bagian luar, daun yang lebih keras digunakan dalam sup. Sawi putih atau kubis napa ini dapat juga diolah dengan cara ditumis dengan bahan lain seperti tahu, jamur, dan zucchini. Atau, disantap dengan makanan hot pot.

Kubis napa sangat populer di Provinsi Gangwon, Korea Selatan bagian utara. Di dapur Eropa, Amerika, dan Australia, lebih umum memakannya dimasak atau mentah sebagai salad.

Karena dimanfaatkan sebagai bahan sayuran yang banyak diolah di dalam masakan Tionghoa, sawi putih ini juga disebut sawi cina.

Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) pada 2018 meluncurkan hasil penelitian tentang kandungan gizi sawi putih ini. Dari 100 gram yang diteliti, sebanyak 87 persen bagian yang dapat dikonsumsi, sawi mengandung 22 kkal energi, protein 2,3 gr, lemak 0,3 gr, karbohidrat 4 gr, kalsium 220 mg, fosfor 38 mg, zat besi 3 mg, vitamin A 6460 IU, vitamin B1 0,09 mg, vitamin C 102 mg.

Pemerian Botani dan Aneka Nama

Habitus tumbuhan ini mudah dikenali, mengutip dari Wikipedia: memanjang, seperti silinder dengan pangkal membulat seperti peluru dengan berat 1 – 3 kg, warnanya putih, daunnya tumbuh membentuk roset yang sangat rapat satu sama lain.

Bunganya berwarna kuning dan memiliki susunan silang yang khas untuk keluarga Brassicaceae, karena itu dinamai Crucifereae, yang berarti “bantalan silang”. Karena tanaman dipanen pada tahap lebih awal daripada berbunga, biasanya bunga tidak pernah sampai terlihat.

Tanaman sayuran ini memiliki nama ilmiah Brassica rapa subsp. Pekinensis, atau biasa dituliskan Brassica rapa Pekinensis Group. Seperti tercermin pada namanya, sayuran ini berasal dari kawasan Beijing di Tiongkok, dan menjadi bagian dari tanaman pangan di kawasan Asia Timur.

Sebuah studi, mengutip dari Wikipedia, menyebutkan kubis napa ini kemungkinan hasil persilangan secara alam antara turnip (Brassica rapa subsp. rapa) dan pak-choi (Brassica rapa subsp. chinensis). Penelitian yang mengawinsilangkan keduanya, menguatkan dugaan tersebut.

Tanaman ini menurut penelusuran, mulai dibudidayakan pada abad ke-15 di salah satu kawasan Sungai Yangtze di Tiongkok, kemudian menyeberang ke Korea dan  Jepang.

Sejak abad ke-19, tanaman sayuran ini menyebar ke daratan Eropa, Amerika, dan Australia, sebagai tanaman pangan, yang dibawa para perantau China.

Dalam bahasa Inggris, sayuran ini disebut napa cabbage. Mengutip dari Wikipedia, kata “napa” atau “nappa” dalam nama kubis napa, berasal dari bahasa sehari-hari dan bahasa daerah di Jepang. Nappa, mengacu pada jenis sayuran daun, apa pun, terutama yang digunakan sebagai makanan.

Dalam bahasa Jepang, nama untuk varietas kubis khusus ini adalah hakusai, dalam bacaan Sino-Jepang, dari nama China báicài, yang secara harfiah berarti “sayur putih”. Nama Korea untuk napa kubis, baechu, adalah kata penyebutan lokal dari bacaan Sino-Korea, baekchae, dari kumpulan karakter China yang sama. Saat ini dalam bahasa Mandarin, kubis napa dikenal sebagai dàbáicài, secara harfiah berarti “sayuran putih besar”, berbeda dengan “sayuran putih kecil” yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai bok choy.

Di luar Asia, sayuran ini juga disebut sebagai kol cina. Di kawasan regional, sayuran ini juga dikenal sebagai sui choy (dari nama Kanton), dan kol seledri. Di Inggris, sayuran ini dikenal sebagai daun China, di Selandia Baru sebagai wong bok atau won bok, dan di Filipina sebagai wombok atau pechay baguio. Nama wombok juga digunakan di Australia. Nama lain yang digunakan dalam bahasa Inggris adalah petsai atau pe-tsai. Di Rusia, sayuran ini disebut pekinskaya kapusta, yang secara harfiah berarti “kubis peking”.

Sawi putih hanya tumbuh baik di tempat-tempat sejuk, sehingga di Indonesia ditanam di dataran tinggi. Tanaman ini dipanen selagi masih pada tahap vegetatif (belum berbunga). Bagian yang dipanen adalah keseluruhan bagian tubuh yang berada di permukaan tanah. Produksinya tidak terlalu tinggi di Indonesia.

Khasiat

Belum banyak penelitian tentang khasiat sawi putih alias petsai di Indonesia. Membuka-buka berbagai situs web, sebagian besar penelitian di Indonesia masih berkaitan dengan cocok tanamnya.

Dari belahan dunia Barat, situs nutrition-and-you.com menyebutkan kubis napa sangat rendah kalori. Setiap 100 g daun segar mengandung 16 kkal (USDA menyebutkan 22 kkal), tak jauh berbeda dengan seledri dan bok-choy. Tidak mengherankan, selain para ahli gizi sering menganjurkan mengonsumsinya, sayuran ini sangat populer di kalangan orang yang sadar tentang kesehatan.

Kubis napa mengandung senyawa antioksidan seperti karoten, tiosianat, indole-3-karbinol, lutein, zeaxanthin, sulforaphane dan isothiocyanate. Juga, ini merupakan sumber serat makanan yang larut dan tidak larut. Studi ilmiah menunjukkan senyawa ini diketahui menawarkan perlindungan terhadap kanker payudara, usus besar, dan prostat, dan membantu mengurangi kadar LDL atau kolesterol jahat dalam darah.

Kubis napa, atau sawi putih, atau petsai, memiliki banyak manfaat kesehatan. Dari situs elmaskincare.com, sayuran ini kaya vitamin C. Dari 100 gram daun, sayuran ini memberi kita sekitar 35 persen hingga 40 persen dari nutrisi itu yang penting untuk orang dewasa setiap hari. Vitamin itu membantu kita melawan berbagai jenis infeksi.

Serat makanan yang terkandung dalam kubis napa membantu menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi), mengurangi risiko stroke, dan mengembangkan batu empedu. Ini juga membantu untuk menghindari penyakit divertikular, wasir, dan lainnya. Selain itu, sampai batas tertentu, serat makanan juga membantu mengurangi kemungkinan berkembangnya bentuk kanker tertentu.

Kubis napa juga mengandung konsentrasi vitamin K yang signifikan, yang memiliki peran vital dalam memperkuat tulang. Selain itu, nutrisi ini juga membantu menunda osteoporosis. Vitamin K juga dikatakan untuk menyembuhkan pasien Alzheimer dengan agak membatasi kerusakan saraf.

Sawi putih atau petsai ini membungkus beberapa senyawa bermanfaat seperti karoten, xanthins, dan lutein, yang berubah menjadi vitamin A ketika berada di dalam tubuh kita.

Tak jauh berbeda dengan situs nutrition-and-you.com, situs elmaskincare.com juga menyebutkan sayuran ini juga mengandung sejumlah phytochemical antioksidan seperti karoten, lutein, isothiocyanate, indole-3-carbinol, sulforaphane, zeaxanthin, dan thiocyanate. Kubis napa melindungi sel-sel tubuh dari oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas, selain melindungi kita dari penyakit jantung dan kanker.

Editor : Sotyati

Back to Home