Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 10:25 WIB | Kamis, 12 Oktober 2017

PKM GKI Cawang Pelayanan Pengobatan Gratis di Jati Tonjong

PKM GKI Cawang Pelayanan Pengobatan Gratis di Jati Tonjong
Dokter Tiurma Pangaribuan dari PKM Cipinang Bali memeriksa pasien cilik yang sedang menderita sakit batuk dalam bakti sosial pengobatan gratis di Kampung Jati, Tonjong, Tajur Halang, Bogor, Minggu, 8 Oktober 2017. (Foto-foto: Sotyati)
PKM GKI Cawang Pelayanan Pengobatan Gratis di Jati Tonjong
Drg Elisa Mavilinda dibantu dua asisten, Paulus Mandiara dan Gawang Deswantoro memeriksa gigi pasien cilik di ruang praktik darurat.
PKM GKI Cawang Pelayanan Pengobatan Gratis di Jati Tonjong
Warga Kampung Jati dan sekitarnya di Desa Tonjong memeriksakan kesehatan di kegiatan bakti sosial pengobatan gartis yang diadakan PKM Cipinang Bali bekerja sama dengan Pos Jemaat Jati Tonjong, Minggu, 8 Oktober 2017.
PKM GKI Cawang Pelayanan Pengobatan Gratis di Jati Tonjong
Warga memeriksakan kadar gula dalam darah dalam kegiatan bakti sosial pengobatan gratis di Kampung Jati, Tonjong, Tajur Halang, Bogor.
PKM GKI Cawang Pelayanan Pengobatan Gratis di Jati Tonjong
Petugas penerimaan resep dalam kegiatan bakti sosial pengobatan gratis di Kampung Jati, Tonjong, Tajur Halang, Bogor, 8 Oktober 2017.

SATUHARAPAN.COM – Selalu ada suka dan duka, juga kisah yang tak mudah dilupakan dalam kegiatan bakti sosial pengobatan gratis. Pada Minggu, 8 Oktober lalu, contohnya.

Gloria, pasien rawat gigi dalam Bakti Sosial Pengobatan Gratis yang diselenggarakan Klinik Pratama Cipinang Bali, Jakarta Timur, merepotkan bukan hanya ibunya yang harus memeganginya sekuat tenaga, namun juga dokter gigi Elisa Mavilinda yang sibuk membujuk, dan dua “asistennya” Paulus Mandiara dan Gawang Deswantoro, yang sigap mengulurkan tangan.

Gadis cilik itu bukan hanya menangis meraung-raung. Bocah kelas satu sekolah dasar itu juga meronta-ronta hingga menendang galon air mineral yang disulap menjadi tempat limbah medis. Tangisnya memecah di siang yang panas dan lembap di Kampung Jati, Desa Tonjong, Kecamatan Tajur Halang, Bogor, lokasi bakti sosial kesehatan.

Menjelang tutup pendaftaran, seorang ibu dengan berat badan 120 kilogram masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Kepada dokter Hari Ani, ia mengemukakan keluhannya. Rupanya dua hari sebelumnya ia tersiram air panas pada perut bagian bawah. Dokter Sri, panggilan akrab dokter bertubuh mungil itu, agak kesulitan memeriksa bagian lukanya yang tertutup lipatan lemak yang tebal, namun ia memberikan resep berupa obat penghilang rasa sakit dan antibiotik.

Si ibu belum juga beranjak dari hadapan dokter Sri. Rupanya ia meminta dokter Sri menuliskan kuitansi tanda berobat. Dengan sabar dokter Sri menjelaskan tidak ada kuitansi apa pun dalam kegiatan bakti sosial. “Ini pengobatan gratis,” katanya.    

Satu per satu warga yang hendak memeriksakan kesehatan berdatangan di bangunan yang biasa dipakai untuk kebaktian remaja Pos Jemaat GKI RE Martadinata Pos Jemaat Jati Tonjong, sejak pukul 09.00. Inge Julianti, Ketua Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM) GKI Cawang, yang bertugas di bagian pendaftaran, tidak kuasa menolak warga yang terus berdatangan ketika jam di dinding menunjukkan angka 12.00. Seharusnya pendaftaran sudah ditutup pukul 11.00.

“Total warga yang memeriksakan kesehatan 139 orang, terdiri ats 111pasien umum dan 28 orang pasien gigi. Kami sebelumnya menargetkan 125 orang, bukan hanya untuk warga Pos Jemaat Jati Tonjong, juga untuk warga sekitar, ” kata Inge.

Warga yang memeriksakan kesehatan umumnya menderita penyakit darah tinggi, pegal-pegal, batuk-pilek, maag, dan gatal-gatal. “Satu pasien anak, dari sebuah panti asuhan di dekat sini, menderita kurang gizi,” dr Tiuma Pangaribuan, menambahkan.

Di bagian “poli gigi”, seperti dikemukakan drg Elisa Mavilinda, umumnya datang dengan keluhan gangrene radix. Ketika seorang pria memasuki ruangan meminta untuk menambal gigi dan membersihkan karang, dokter Elisa tidak segera menolaknya. Ia tetap memeriksa dengan meminta pasien membuka mulut. Mengetahui si pasien seorang perokok, dokter Elisa menasihatinya terlebih dulu sebelum menyarakankan si pasien untuk memeriksakan diri ke puskesmas terdekat. “Kami tidak membawa peralatan yang lengkap,” katanya.   

Bertepatan 11 Tahun Pos Jemaat Jati Tonjong

Kegiatan bakti sosial pengobatan gratis kali itu, menurut Inge, seharusnya diselenggarakan di GKI Cawang di Jalan Cawang Baru Tengah, Jakarta Timur, “Seharusnya bakti sosial ini masuk dalam kegiatan lokal rutin, yang dilakukan tiga bulan sekali di Cawang, untuk warga jemaat GKI Cawang dan warga sekitar gereja.”

Mengingat ada banyak kesibukan di GKI Cawang dalam rangka persiapan  menyambut perayaan 50 tahun perjalanan kehidupan berjemaat pada 19 November mendatang, Tim PKM memindahkan bakti social ke Jati Tonjong.

GKI Cawang mengulurkan tangan membantu GKI Ciputat Jalan RE Martadinata sebagai induk Pos Jemaat Jati Tonjong, sejak tahun 2014, ketika GKI Ciputat menghadapi beberapa keterbatasan. Firman Syukur Gea, anggota majelis jemaat GKI Ciputat di Jati Tonjong mengemukakan kehadiran GKI Cawang sangat membantu keberlangsungan Pos Jemaat Jato Tonjong, terutama dalam hal dukungan finansial.

Dalam perbincangan seusai kebaktian umum pada Minggu, 8 Oktober itu, ia bersyukur bakti sosial itu berlangsung bertepatan dengan perayaan 11 tahun Pos Jemaat Jati Tonjong dan juga pembukaan Bulan Keluarga. Ia berharap bakti sosial pengobatan gratis tidak hanya berlangsung kali itu saja.

Pada kegiatan bakti sosial pengobatan gratis hari itu, Inge mengerahkan kekuatan mencakup dua dokter umum, satu dokter gigi, satu perawat/lab, enam petugas pemeriksa tekanan darah yang lima orang di antaranya mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Indonesia, dua asisten dokter gigi, lima orang menangani penerimaan resep dan penyerahan obat, dua orang yang bertugas di bagian pendaftaran, dan empat orang yang membantu serabutan termasuk dua anggota majelis jemaat GKI Cawang.

Walaupun harus menempuh jarak satu setengah jam dari Jakarta dan menempuh jalan rusak ketika memasuki lokasi, dan bekerja di ruang praktik darurat, drg Elisa masih bersyukur dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. “Jauh lebih baik tempatnya dibandingkan jika harus bakti sosial di tempat terbuka langsung terpapar sinar matahari,” katanya. (*)    

Editor : Sotyati

Back to Home