Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 12:12 WIB | Jumat, 08 September 2017

Plastik Ditemukan di Air Minum di Lima Benua

Ilustrasi. Jajaran air minum kemasan botol di sebuah supermarket di Beijing. (Foto: voaindonesia.com)

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Air minum yang dikonsumsi di lima benua, mulai dari Trump Tower di New York hingga ke fasilitas air minum umum di pinggiran-pinggiran Danau Victoria di Uganda, ternyata mengandung serpihan kecil plastik yang mengancam kesehatan masyarakat, demikian dilaporkan para peneliti hari Rabu (6/9).

Plastik akan hancur menjadi partikel-partikel kecil yang dikenal dengan microplastics, yang ditemukan di 83 persen sampel yang dikumpulkan dari Jerman, Kuba, hingga Lebanon dan dianalisa oleh Orb Media, organisasi berita digital bermarkas di Amerika Serikat,.

"Bila Anda bertanya kepada orang-orang apakah mereka mau makan atau minum plastik, mereka akan menjawab 'Tidak, itu pertanyaan bodoh'," kata Sherri Mason, salah satu penulis dari kajian tersebut dan profesor kimia di State University of New York.

"Itu mungkin sesuatu yang tidak mau kita cerna. Tetapi, ternyata kita melakukannya, apakah dari air minum, dari bir, jus. Ini ada di makanan kita, garam laut, kerang-kerang. Tidak ada seorang pun yang aman," katanya kepada Thomson Reuters Foundation, seperti dilansir situs voaindonesia.com.

Microplastics dengan ukuran sampai 5 milimeter juga terdapat dalam air kemasan botol, katanya.

Dampak kesehatan dari mencerna plastik masih belum jelas, namun sejumlah kajian terhadap ikan telah menemukan plastik menghambat penetasan telur, menghambat pertumbuhan dan membuat mereka lebih rentan dimangsa predator sehingga meningkatkan angka kematian.

“Microplastics, menyerap bahan kimia beracun dari lingkungan perairan yang kemudian masuk ke badan ikan dan mamalia, yang mengkonsumsi bahan tersebut,” kata Molly Bingham, kepala eksekutif Orb Media.

Sementara banyak kajian menunjukkan prevalensi microplastics di samudra-samudera di dunia di mana lebih dari 5 triliun serpihan plastik mengambang, ini pertama kalinya penelitian dilakukan terhadap air minum.

 

Editor : Sotyati

Back to Home