Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Melki Pangaribuan 01:40 WIB | Sabtu, 11 Februari 2017

Polling: Ahok-Djarot Kembali Unggul Mutlak di Debat Terakhir

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut dua menyambut jabat tangan dari pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut tiga sebelum acara debat putaran terakhir digelar di gedung Bidakara, Jakarta Selatan, hari Jumat (10/2). (Foto: Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Debat terakhir dalam rangka Pilkada DKI Jakarta yang berlangsung pada hari Jumat (10/2), menunjukkan pasangan calon (Paslon) nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) kembali unggul mutlak dan semakin meyakinkan untuk lolos ke putaran ke-2. Seperti pada debat kedua, penampilan mereka jauh unggul dibanding paslon nomor urut satu maupun nomor urut tiga.

Kesimpulan ini didasarkan pada polling satuharapan.com dengan peserta sekaligus penilai debat 15 anggota Dewan Redaksi, Kolomnis dan Staf Redaksi pada saat berlangsungnya debat. Jajak pendapat meliputi tiga indikator penilaian, yakni Gaya Komunikasi, Substansi Pemaparan dan Penguasaan Masalah.

Polling menunjukkan Ahok-Djarot menempati peringkat pertama dengan nilai total 351,25 jauh di atas paslon nomor urut satu, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni yang mencatat nilai terendah 235,75, dan paslon nomor urut tiga Anies Baswedan dan Sandiaga Uno di posisi kedua dengan nilai 300,5.

Paslon Ahok-Djarot unggul di semua kategori yang dinilai, kendati dalam kategori Gaya Komunikasi, beberapa peserta menilai mereka kalah tipis oleh paslon nomor urut tiga. Sementara dalam kategori Substansi Program dan Penguasaan Masalah, tidak terbantahkan Ahok-Djarot jauh melampaui paslon nomor urut satu dan tiga.

“Jadi Anies vs Ahok di putaran kedua nanti,” kata salah seorang peserta polling.

Debat kali ini mengangkat tema tentang kependudukan, disabilitas dan perempuan yang dipandu oleh presenter Alvito Deannova. Tema ini diangkat karena masalah kependudukan merupakan  hal krusial bagi Jakarta, mengingat besarnya arus penduduk yang menimbulkan berbagai masalah mulai dari kriminalitas, eksploitasi anak, perdagangan narkoba, dan lain sebagainya.

Dalam proses polling, para penilai diminta memberikan skor dengan skala 0-10 untuk masing-masing kategori, yaitu Gaya Komunikasi, Materi yang Dipaparkan dan Penguasaan Masalah.

Beberapa elemen Gaya Komunikasi yang menjadi pengamatan adalah: Apakah dalam menyampaikan gagasan, menjawab pertanyaan, menyanggah, melontarkan  pertanyaan kandidat melakukannya dengan cara yang simpatik?

Apakah dalam berkomunikasi kandidat dapat menjalin interaksi yang positif dengan audiens dan peserta lainnya?

Apakah kandidat berusaha menjangkau pemilih di luar konstituennya.

Apakah dalam berbicara kandidat mempergunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan dengan cepat dapat dipahami audiens maupun kandidat lainnya?

Sedangkan yang menjadi elemen Substansi Program antara lain, apakah gagasan/program disampaikan dengan jelas?; Apakah gagasan/program tersebut sistematis, komprehensif, mudah dimengerti?; Apakah gagasan/program tersebut realistis, dapat dijalankan dan diwujudkan dalam 5 tahun ke depan?; Apakah program menjawab kebutuhan rakyat Jakarta?

Ada pun elemen-elemen Penguasaan Masalah meliputi, apakah kandidat berbicara dengan rileks, mengandalkan pemikiran sendiri dan tidak tergantung pada bantuan catatan?; Apakah kandidat dapat menjelaskan sesuatu dengan jelas dan singkat?; Apakah kandidat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tak terduga dengan baik dan jelas?; Apakah kandidat dapat dengan cermat dan tegas membedakan mana masalah yang penting dan tidak untuk dijawab?

AHY-Sylvi Stagnan Cenderung Memburuk

Sebagian besar penilai berpendapat paslon nomor urut satu cenderung stagnan bahkan memburuk dalam debat kali ini. Selain karena penampilan paslon lain yang membaik, AHY/Sylvi dinilai cenderung bersifat negatif pada penampilan kali ini.

Skor Paslon AHY-Sylvi
 Agus/Sylviana Komunikasi Substansi Penguasaan Total
Penilai I 6 6 6  
Penilai II 6 4 4  
Penilai III 5 5 6  
Penilai IV 7 6 6  
Penilai V 5 5 5  
Penilai VI 5 5 5  
Penilai VII 5 6 6  
Penilai VIII 4 5 5  
Penilai IX 8 7 8  
Penilai X 7 6.5 7  
Penilai XI 6 5 6  
Penilai XII 4 4 4  
Penilai XIII 4 2 2  
Penilai XIV 6.25 5.5 5.5  
Penilai XV 4 3 3  
Total Nilai 82.25 75 78.5 235.75

 

Beberapa kata kunci berikut ini dipakai untuk menggambarkan penampilan AHY/Sylvi: lebih kaku, menyerang pribadi, kurang akurat, mendramatisir masalah, normatif, perlu belajar banyak, abstrak, tidak simpatik, kurang menguasai masalah, hafalan dan tidak berubah.

Meskipun demikian kata kunci yang bersifat positif juga ada, seperti gesture bagus, artikulasi baik, lebih rileks dan kesan menghafal luntur dan program lebih masuk akal.

“AHY tampak lebih kaku dan seperti gamang pada debat terakhir ini. Sebaliknya Sylvi seperti biasa, tampak terlalu yakin namun tidak berdasar data akurat,” kata salah seorang penilai.

Penilai lainnya ada yang melihat berbeda. Ia mengatakan “AHY kali ini tampil lebih rileks,” dan “cara penyampaian pendapat pun lebih baik daripada debat sebelumnya.”

Penilai lainnya mengatakan, “AHY perlu belajar lebih banyak.”

Ahok-Djarot Semakin Meyakinkan

Penguasaan masalah dengan data yang rinci dan realistis, merupakan faktor yang paling kuat dan meyakinkan dari Ahok. Tidak satu pun penilai yang tidak mengatakan hal ini. Posisi mereka sebagai petahana, dianggap memberi keuntungan. Serangan demi serangan sempat dilontarkan paslon nomor urut satu dan nomor urut tiga, tetapi karena Ahok dan Djarot dinilai memahami secara rinci apa yang ditanyakan, langkah defensif mereka cenderung berbalik unggul tatkala mendapat serangan.

Skor Ahok-Djarot
Basuki/Djarot Komunikasi Substansi Penguasaan Total
Penilai I 8 8 9  
Penilai II 7 8 8  
Penilai III 7 7 7  
Penilai IV 8 8 8  
Penilai V 8 8 8  
Penilai VI 7 8 8  
Penilai VII 5 8 8  
Penilai VIII 7 7 8  
Penilai IX 7 8 9  
Penilai X 7 7 7  
Penilai XI 7.5 8 8  
Penilai XII 7 8 8  
Penilai XIII 8 9 10  
Penilai XIV 7.75 8.5 8.5  
Penilai XV 8 8 9  
Total Nilai 109.25 118.5 123.5 351.25

 

Bagaimana para peserta polling dan penilai menggambarkan Ahok-Djarot? Kata-kata kunci bersifat positif berikut ini, disematkan kepada mereka: menguasai masalah, menjelaskan apa yang dilakukan, bukan janji, empirik dan realistis, faktual dan membumi, terukur tata caranya, riil ide-idenya, spontan, lugas, telah terbukti, konkrit, logis, mengerti tidak hanya teknis tapi strategis dan taktis.

Kalaupun ada yang dianggap menjadi kelemahan Ahok, itu adalah faktor pengendalian emosi. Hal lain yang dipandang masih perlu diperbaiki oleh Ahok adalah adanya kesan kurang apresiatif dalam berkomunikasi dan sedikit kesan jumawa. Ahok dinilai kurang berhasil menarik simpati konstituen lawan, tapi akan sangat disukai pengagum/Ahokers.

Meskipun demikian pada akhirnya kesan negatif itu tertutupi oleh kinerjanya yang dianggap nyata. Apalagi dalam debat kali ini, Ahok dan Djarot dinilai lebih bersinergi.

"Paslon nomor urut dua memang harus tetap tegas memimpin Jakarta karena tanpa ketegasan Jakarta bisa kembali seperti hutan rimba. Sudah jelas pemimpin yang tegas di Jakarta seperti Ali Sadikin dan Ahok membawa kebaikan bagi Jakarta," kata salah seorang penilai.

Anies-Sandi: Mempesona tetapi Tidak Konkrit

Dibanding debat sebelumnya, penampilan Anies-Sandi kali ini dianggap membaik. Gaya komunikasi mereka dianggap merupakan keunggulan. Hanya saja gaya komunikasi yang menawan tersebut berbenturan dengan program dan penguasaan masalah yang tidak sebanding dengan petahana.

Skor Anies-Sandi
  Anies/Sandi Komunikasi Substansi Penguasaan Total
Penilai I 8 7 7  
Penilai II 8 6 6  
Penilai III 6 5 6  
Penilai IV 8 7 7  
Penilai V 7 6 6  
Penilai VI 7 6 7  
Penilai VII 4 7 7  
Penilai VIII 7 6 7  
Penilai IX 8 7 8  
Penilai X 8 7 7.5  
Penilai XI 8 7 6.5  
Penilai XII 6 6 6  
Penilai XIII 7 5 6  
Penilai XIV 7.25 6.75 6.5  
Penilai XV 6 6 7  
Total Nilai 105.25 94.75 100.5 300.5

 

Itu sebabnya, kata kunci tentang mereka terkesan kontradiktif, seperti: mempesona tetapi terkesan penuh teori, banyak melontarkan janji program tetapi tidak memberi penjelasan konkret, retoris walau kaya gagasan, nyinyir dan sinis, mengawang-awang, text book style, cukup bagus dalam komunikasi tapi kurang detail dalam menjelaskan, semakin konkrit walau masih sulit dijabarkan. Sandiaga lebih bersemangat namun Anies masih jadi sentralnya.

Salah satu contoh perlunya penjelasan konkret tetapi tak bisa disuguhkan Anies-Sandi, menurut salah satu penilai adalah dalam hal gagasan pengadaan perumahan untuk rakyat tanpa uang muka. Sampai akhir debat, jawaban atas pertanyaan bagaimana cara mendanainya, tidak pernah diberikan oleh Anies-Sandi.

“Dia tidak menjelaskan secara konkret, walaupun dikatakan dia sudah ada hitung-hitungannya,” kata salah seorang penilai.

Disclaimer

Polling ini diselenggarakan oleh satuharapan.com dengan tujuan semata demi memberikan informasi bagi pembaca. Hasil ini tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi pilihan para pemilih, melainkan memberikan wawasan dalam memahami situasi politik di DKI Jakarta dan Indonesia pada umumnya.

Peserta polling adalah anggota Dewan Redaksi, Staf Redaksi dan kolomnis satuharapan.com yang menyaksikan acara debat melalui layar televisi. Peserta polling maupun satuharapan.com tidak berafiliasi pada salah satu paslon.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home