Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:08 WIB | Jumat, 17 Februari 2017

Polusi Udara Sebabkan Kelahiran Prematur

Ilustrasi. bangunan terlihat pada hari kabur di Xiangyang, provinsi Hubei, Cina, (31 12/2016) (Foto: voanews.com)

LONDON, SATUHARAPAN.COM – Membatasi polusi udara dapat membantu mencegah 2,7 juta kelahiran prematur per tahun, suatu kondisi yang mengancam kehidupan anak-anak dan meningkatkan risiko masalah fisik dan neurologis jangka panjang, menurut ilmuwan pada hari Kamis (17/2).

Partikel halus di udara dari asap diesel, kebakaran dan sumber-sumber lain dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur bersama risiko lainnya, termasuk usia dan kesehatan ibu, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam the journal Environment International.

"Polusi udara mungkin tidak hanya membahayakan orang-orang yang menghirup udara langsung, bahkan dapat mempengaruhi bayi dalam rahim ibunya," kata Chris Malley, penulis utama studi, yang didasarkan pada data untuk tahun 2010, yang dilansir situs voanews.com.

Mayoritas kelahiran prematur terkait dengan polusi udara terjadi di Asia Selatan dan Timur, kata para peneliti. India sendiri menyumbang sekitar 1 juta kelahiran prematur, dan Tiongkok sebanyak 500.000.

“Kendaraan bermesin diesel, kebakaran hutan, kebakaran hutan dan memasak dengan kayu, kotoran atau arang merupakan kontributor utama untuk masalah ini,” kata para peneliti.

Seorang wanita hamil di sebuah kota di Tiongkok atau India mungkin menghirup lebih dari 10 kali lebih banyak polusi, dibandingkan di pedesaan Inggris atau Perancis, menurut laporan itu.

Gurun Debu

Penelitian menunjukkan bagian barat sub-Sahara Afrika, Afrika Utara dan Timur Tengah, terjadi banyak kelahiran prematur terutama terkait dengan paparan debu padang pasir.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur dan hampir 1 juta dari mereka meninggal.

“Negara harus bekerja sama untuk mengatasi polusi, dan menjadi masalah lintas batas,” kata Johan Kuylenstierna penulis dan Direktur Institut Environment Stockholm.

"Di kota, mungkin hanya setengah pencemaran berasal dari sumber-sumber di dalam kota itu sendiri. Sisanya akan diangkut oleh angin dari daerah lain atau bahkan negara lain," katanya.

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Back to Home