Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 17:33 WIB | Jumat, 01 Maret 2019

Potensi Pangan Lokal untuk Pencegahan Stunting dan Diabetes

Ilustrasi.Singkong sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernutrisi karena memiliki kandungan betakaroten yang tinggi. (Foto: Dok. satuharapan.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi gizi buruk yang memicu masalah stunting (kekerdilan) di Indonesia berada di angka 30,8 persen.

Stunting sendiri adalah kondisi gizi kronis yang masih menjadi persoalan serius yang harus dituntaskan oleh pemerintah. Untuk mencegah stunting, intervensi gizi spesifik diperlukan yang salah satunya melalui pemanfaatan sumber pangan lokal.

LIPI telah melakukan peneltian untuk menekan angka stunting di Indonesia, salah satunya dilakukan Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI lewat pengembangan singkong unggul kaya nutrisi. 

“Singkong sebagai komoditas pangan mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Singkong sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan bernutrisi karena memiliki kandungan betakaroten yang tinggi,” kata peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ahmad Fathoni, yang dilansir situs lipi.go.id pada Kamis (1/3).

Sayangnya, kata Fathoni, singkong belum menjadi sumber pangan utama. “Selama ini konsumsi pangan masih berasal dari komoditas padi, jagung, dan kedelai,” katanya. Menurutnya, salah satu faktor yang menyebabkan singkong kurang populer karena minimya inovasi olahan. “Karena itu LIPI mengembangkan singkong sebagai bahan pangan olahan berupa tepung termodifikasi atau mocaf  kaya beta karoten, untuk bahan baku pembuatan mi sayur,” kata Fathoni.

Untuk pencegahan diabetes, LIPI mengembangkan riset kedondong hutan (Spondias pinnata) untuk pencegahan diabetes.

“Dari hasil uji, daun kedondong hutan memiliki aktivitas antioksidan yang kuat serta mengandung sejumlah besar senyawa fenolik untuk menangkal radikal bebas,” kata Wawan Sudajrwo dari Balai Konservasi tumbuhan Kebun Raya Bali.

Wawan menambahkan, masyarakat Bali telah menggunakan antioksidan dan polifenol dari daun kedondong hutan. “Mereka biasanya mengkonsumsi daun kedondong segar sebagai sayuran atau direbus terlebih dahulu sebagai minuman obat tradisional atau loloh,” katanya.

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home