Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 12:31 WIB | Kamis, 23 November 2017

"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa

"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
"Babilonia" | cetak saring di atas kertas | V9 collective. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Bincang santai pameran "Prega-sol" di Survive! garage Jalan Nitiprayan No. 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul, Rabu (22/11) malam.
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Live sablon oleh Adam Gruba dari V9 collective.
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Desain karya "Prega-sol" yang dicetak pada sebuah t-shirt.
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Beberapa karya sablon V9 collective yang dipamerkan pada "Prega-sol".
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Karya sablon V9 collective dalam warna grayscale.
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Karya grafis dari seniman Polandia Krik yang turut dipamerkan.
"Prega-sol": Bergerak, Bersiasat dan Berdoa
Seniman grafis Andres Busrianto yang beberapa kali membuat karya grafiti di Polandia bersama V9 collective.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Empat seniman grafis asal Polandia yang sedang menjalani program residensi di Sesama, Tirtonirmolo Kasihan-Bantul memamerkan sekitar 70-an karya grafis dengan teknik cetak saring (silk screen printing) atau lebih dikenal dengan nama sablon dalam teknik pewarnaan berbasis air (water based). 

Keempat seniman yang tergabung dalam V9 collective, sebuah kolektif yang mengolah dinding menjadi ruang pameran sekaligus kolektif seniman memamerkan karya grafisnya bertajuk "Prega-sol" di SURVIVE!garage Jalan Nitiprayan No. 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul 17-22 November 2017.

Pada penutupan pameran Rabu (22/11) V9 collective membuat acara live sablon dan bincang santai bersama Survieve! fun familia.

Dalam dunia seni grafis cetak saring, pregasol adalah sejenis emulsi peka cahaya yang digunakan untuk menutup silk screen. Emulsi ini jarang digunakan pesablon di Indonesia, selain susah dicari juga harganya relatif lebih mahal. Jika emulsi lain setelah mengalami penyinaran berubah warna menjadi hijau, warna pregasol tetap bening tanpa perubahan warna setelah disinari. Hanya bagian yang tertutup film setelah dilakukan penyemprotan yang tembus pasta pewarna.

"Prega-sol" sendiri merujuk pada perjalalan kreativitas V9 collective sejak 2003 sebagai sebuah gerakan perlawanan seniman jalanan (street art) di Warzsawa (Polandia). Melalui stiker, pamflet, selebaran, poster, hingga grafiti mereka melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah, kritik permasalahan sosial, dalam bentuk desain satire yang dilakukan secara kolektif.

"Kritik yang dilakukan di sana (Warszama-Polandia) tidaklah terlalu terbuka jika dibandingkan dengan di Berlin misalnya. Namun pengerjaan desain dan karyanya (pada ruang-ruang publik) tetap serius sehingga sulit dibedakan mana yang dihasilkan oleh seniman individu-kolektif ataupun dari jasa advertising. Ada seniman yang muncul ke permukaan by name, namun yang bergerilya dengan karya-karya yang bagus juga banyak meskipun resikonya harus sembunyi-sembunyi dari pihak keamanan setempat. Seniman dengan inisial Krik, misalnya yang karya-karyanya cukup terkenal menghiasi ruang publik di kota Warszawa dan orang tidak tahu siapa itu Krik." kata Andres Busrianto seniman asal Indonesia yang beberapa kali membuat grafiti secara sembunyi-sembunyi di Warszawa.

Lebih lanjut Andres menjelaskan kekuatan teknik dan pengerjaan yang detail pada karya grafis menjadi salah satu ciri khas seniman grafis Polandia. Sejak tahun 1970-an poster, pamfet dari seniman Polandia banyak mempengaruhi dan mewarnai seni grafis dunia.

Karya grafis menjadi salah satu media propaganda di Eropa Timur hingga tahun 1990-an. Stiker, pamflet, grafiti, menjadi media yang efektif menyuarakan keresahan masyarakat serta krisis politik-ekonomi saat itu di berbagai belahan negara Eropa Timur.

Dalam penjelasan singkatnya di sela-sela penutupan acara pameran, Kevin Murf kepada satiharapan.com mengatakan bahwa tema "Prega-sol" tidak semata-mata tentang teknik cetak saring (sablon), namun juga sebuah sikap relijius untuk menghubungkan kepada yang di atas (Tuhan). Prega sendiri diambil dari bahasa Italia pregare yang artinya doa. Desain tiga ekor harimau dengan bulatan di tengah yang diperlambangkan sebagai matahari menjadi salah satu desain V9 collective selama residensi.

Hingga tahun 2003, empat seniman street-art yang tergabung dalam V9 collective secara sembunyi-sembunyi melakukan kritik sosial di berbagai ruang publik di kota Warsawa. Periode 2003-2004 menjadi titik penting bagi V9 collective untuk serius membuat movement dalam bentuk berbagai stiker, pamflet, ataupun grafiti sebagai bentuk perlawanan, namun sekaligus V9 collective muncul ke permukaan sebagai seniman "legal" dengan studio yang mendapatkan ijin dan support dari pemerintah. Langkah tersebut sebagai siasat, karena hingga saat ini V9 collective masih kerap memberikan kritik pada pemerintahnya.

Sebuah karya dalam medium kertas merah berukuran A0 bertuliskan "Babilon" dengan empat panel foto yang menggambarkan dinamika-konflik sosial dicetak dengan menggunakan teknik saring dengan film raster, menghasilkan sebuah karya cetak saring yang mendekati foto asli dalam rona hitam-putih. Begitupun sebuah foto jembatan bertuliskan "Warszawa" yang diambil gambarnya dari samping hanya bisa dihasilkan oleh penguasaan teknik, tingkat ketelitian tinggi serta detail yang sangat rapi. 

Selembar karya grayscale yang menggambarkan tentang ibu yang sedang menyusui, anak-anak dan orang dewasa yang menyusu pada binatang seolah menegaskan bahwa V9 collective tidak semata-mata bicara tentang fine art. Ada fenomena sosial yang ditangkapnya dan divisualkan ke dalam karya grafisnya.

 
Back to Home