Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:51 WIB | Kamis, 16 Agustus 2018

Presentasi Karya Lima Perupa Muda "To the Soul"

Presentasi Karya Lima Perupa Muda "To the Soul"
"Unknown Organis Object #4" karya Ludira Yudha (depan) dan "Jadilah dirimu, bagian dari dunia yang terus bergerak dan berputar" karya Dedy Shofianto (belakang) pada pameran "To the Soul" di RuangDalam art house, Dusun Jeblok Tirtonirmolo-Bantul. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Presentasi Karya Lima Perupa Muda "To the Soul"
Memecah Kesunyian - various dimension - keramik tanah liat Bayat - Apri Susanto - 2018
Presentasi Karya Lima Perupa Muda "To the Soul"
01 - 118 cm x 148 cm x 15 cm - triplek, plexy glass - Dery Pratama - 2018.
Presentasi Karya Lima Perupa Muda "To the Soul"
Two Heads - various dimension - kaca daur ulang - Ivan Bestari - 2014.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Lima seniman-perupa muda yang menjadikan kerja craftmanship  sebagai basis karyanya mempresentasikan hasil eksplorasi dan eksperimentasi atas berbagai medium-material menjadi karya seni di RuangDalam art house. Pameran dibuka oleh kolektor karya seni Oei Hong Djien, Selasa (14/8) petang.

Apri Susanto yang menjadikan keramik sebagai basis karya seninya kerap membuat riset-eksperimen yang secara teratur dicatat dan diarsipkan. Dua karya yang dibuatnya menggali keterhubungan antara ruang dan waktu. Pada karya "Memecah Kesunyian", Apri melakukan eksperimen pembakaran keramik dengan menggunakan kayu bakar, hasilnya permukaan karya keramik menjadi tidak clean akibat dari pengaruh pembakaran karbon dari kayu yang turut terserap dalam material-medium keramiknya. Efek yang ditimbulkan dari penggunaan kayu bakar tersebut secara artistik berbeda dengan pembakaran yang menggunakan gas: kesan antik pada karya keramik. 

Ketika studio dengan ruang bakar dianggap sebagai satu kendala bagi seniman keramik karena mahalnya harga perlengkapan-peralatan, Apri seolah mengingatkan bahwa teknologi paling kuno pun masih bisa menghasilkan karya-karya keramik yang tidak kalah menariknya.

Sementara pada karya tiga matra berjudul "Gong (seri petualangan tanpa batas}" Apri merespon kayu bekas yang pernah digunakan untuk menggantung instrumen gamelan Gong. Dengan menambahkan empat gong dari keramik berukuran kecil yang dipajang pada kayu tersebut, Apri tidak sedang membekukan perjalanan sejarah kayu tersebut namun membuat narasi baru jejak langkah dan jasa potongan kayu tersebut di masa lalu dan berlanjut menjadi sebuah karya seni yang masih akan terus bercerita.

"Jadilah dirimu, bagian dari dunia yang terus bergerak dan berputar" karya Dedy Shofianto dengan material kayu yang dibentuk menjadi figur burung Garuda. Dedy melengkapi karya tiga matranya dengan sebuah bola dunia, motor penggerak, dan sensor gerak. Secara visual kebentukan, karya Dedy sudah banyak berbicara: rapi, artistik, elegan, dan provokatif yang memaksa pengunjung untuk mendekat memperhatikan detail. Saat berada pada jarak sekitar dua meteran, pengunjung akan dikejutkan dengan gerakan figur Garuda tersebut. Dengan membaca caption karya, siapapun dengan mudah akan mencerna tawaran-tawaran Dedy.

Perupa Dery Pratama yang pernah terpilih menjadi salah satu The Best Bakaba #5|2016 dan ditunjuk menjadi commision work pada Bakaba #6|2017 dengan mengubah tampilan muka Jogja Gallery dalam warna dominan merah setelahmencoba mengeksplor logam cor untuk membuat karya merespon ruang Gaia cosmo hotel tahun lalu, pada presentasi karya di RuangDalam mencoba kemungkinan material triplek dan plexy glass dalam karya "01" dan "Soul". Pada kedua karya tersebut Dery menyatukan potongan-potongan triplek dikombinasi dengan plexy glass kemudian dibentuk ke dalam huruf-angka membentuk judul karyanya. Huruf-angka adalah simbol-simbol yang bisa membunyikan berbagai kejadian.

Bodas Ludira Yudha pada karya berjudul "Unknown Organis Object #4" merangkai 200 kg kawat besi galvanis menjadi sebuah karya tiga dimensi. Ini menjadi kelanjutan project series Ludira Yuda membuat karya dari kawat besi sebelumnya dengan bentuk beberapa obyek. Sementara pada karya berjudul "Blood boran" yang diadopsi dari kata 'babaran' (melahirkan) Ludira Yudha menambahkan benang merah pada jalinan kawat galvanisnya.

Limbah kaca menjadi presentasi Ivan Bestari dalam dua karya berjudul "Dedaunan" dan "Two heads". Limbah kaca menjadi eksplorasi kebentukan Ivan dalam membuat karya yang artistik-estetik dengan tetap menyisakan bentuk lama material yang digunakan. Pada "Two heads", sebagian badan dan dua mulut botol kaca/beling masih jelas terlihat dan dihubungkan oleh jalinan 'benang' dari kaca yang mengubungkan keduanya. Eksplorasi Ivan Bestari bisa menjadi salah satu tawaran solusi atas limbah kaca/beling yang berbahaya di alam.

Sebagai catatan, untuk bisa terurai di alam kaca memerlukan waktu hingga ratusan ribu tahun. Terbuat dari campuran pasir, produk dari kaca beling sangat sulit terurai dalam tanah. Solusinya adalah dengan mendaur ulang produk dari kaca beling tersebut. 

"Seniman-perupa muda harus berani muncul ke permukaan dengan ide-ide, eksplorasi, gaya, ketertarikan, dan apapun yang berkaitan dengan minat seninya tanpa harus dibatasi dengan pagar-pagar disiplin seni (rupa). Problem sebagian besar seniman-perupa muda hari ini adalah kurangnya kepercayaan diri (konfidensi) ketika mereka justru membatasi dirinya sendiri pada batas-batas disiplin seni (rupa)," jelas kurator pameran Bayu Wardhana kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran.

Pameran presentasi karya "To the Soul" digelar di RuangDalam art house Jalan Kebayan Gang Sawo No. 55 Jeblok, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul akan berlangsung hingga 30 Agustus 2018.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home