Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 22:43 WIB | Jumat, 02 Februari 2018

Pribadi yang Sibuk

Terlalu sibuk, jusru harus berdoa!
Kesibukan (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu” (Mrk. 1:32-33). Agaknya inilah tekanan penginjil Markus: Yesus adalah Pribadi yang Sibuk.

 

Hakikat Allah Bapa

Kelihatannya Yesus—Allah yang menjadi manusia—hendak memperlihatkan bahwa itu jugalah hakikat Allah Bapa: sibuk melayani umat-Nya.

Bertaburannya kata kerja yang dipakai Pemazmur—”membangun”, ”mengumpulkan”, ”menyembuhkan”, ”membalut”, ”menentukan”, ”menyebut”, ”menegakkan”, ”merendahkan”, ”menutupi”, ”menyediakan”, ”membuat”, ”memberi makanan” (Mzm. 147)—menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang sibuk melayani ciptaan-Nya.

Lelahkah Yesus? Jawabnya tentu saja! Yesus adalah manusia sejati. Dia bukan superman. Dan karena itu Dia lelah.

 

Rahasia di Balik Kesibukan Yesus

Akan tetapi, inilah rahasianya: semua pelayanan itu bersumber pada hubungan-Nya dengan Bapa. Markus mencatat: ”Keesokan harinya, waktu masih subuh, Yesus bangun lalu meninggalkan rumah. Ia pergi ke tempat yang sunyi di luar kota, dan berdoa di sana” (Mrk. 1:35, BIMK).

Kesibukan tidak membuat Sang Anak melupakan Bapa-Nya. Kesibukan justru mendorong Dia lebih intens dalam persekutuan dengan Bapa.

Ini mungkin persoalan banyak orang: mengira Allah sungguh maklum dengan kesibukannya. Akhirnya mereka menjadi lelah sendiri dan kehilangan orientasi. Ujung-ujungnya perasaan hampa.

Kesibukan bisa mendorong manusia hanya berorientasi pada hasil. Untuk hal macam begini, Bunda Teresa punya nasihat: ”Kita tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi untuk setia”. Dan itu hanya mungkin terjadi dalam persekutuan dengan Allah.

Itulah yang dilakukan Sang Anak. Demam penyembuhan telah melanda Kota Kapernaum. Seusai hiruk pikuk dan urusan dengan orang banyak, Yesus mencari tempat sepi untuk merenungkan kehendak Bapa terhadap diri-Nya. Kesimpulannya: tak perlu lama-lama di Kapernaum. Kota-kota lain juga perlu disapa karena itulah maksud kedatangan-Nya!

 

Bagaimana dengan Kita?

Kita boleh sibuk, tetapi jangan larut! Terlalu sibuk hanya akan membuat kita lupa apa yang terpenting dalam hidup!

Terlalu sibuk juga dapat menjerumuskan kita pada pengandalan diri sendiri. Hudson Taylor, misionaris di Cina dan pendiri OMF mengatakan: ”Kalau kita bekerja, kita bekerja; tetapi kalau kita berdoa, Tuhan [turut] bekerja.” Terlalu sibuk, justru harus berdoa!

Yesaya bernubuat: ”orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes. 40:30-31). Yesaya tidak menubuatkan bahwa orang-orang yang mengandalkan Tuhan itu tidak akan menjadi lelah. Tidak. Tetapi, mereka mendapat kekuatan baru, atau mendapat kesegaran baru.

Dengan kata lain, jangan hanya andalkan diri sendiri” Itu akan membawa kita pada kesombongan pribadi. Hanya orang yang tinggi hatilah yang bisa jatuh. Dan akhirnya frustasi karena manusia memang bukan superman.

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home