Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 17:18 WIB | Rabu, 06 Februari 2019

Pupuh "Babad Diponegoro" dalam Alih Media Visual

Pupuh "Babad Diponegoro" dalam Alih Media Visual
Lukisan berjudul " Diponegoro Remembering Tegalrejo’s Home” karya Sigit Raharjo dalam pameran sastra rupa “Gambar Babad Diponegoro” berlangsung Jogja Gallery Jalan Pekapalan Yogyakarta, 1-24 Februari 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pupuh "Babad Diponegoro" dalam Alih Media Visual
Pustaka utama Babad Diponegoro beraksara Jawa.
Pupuh "Babad Diponegoro" dalam Alih Media Visual
Dari kiri ke kanan: Cengkerama di bawah Cengkeraman Penjajah (Deddy Paw), Abdulrohim Jokowibowo Namaku (F. Sigit Santoso), The Garden of Earthly Prosperity in Ground Zero (Isur Suroso).
Pupuh "Babad Diponegoro" dalam Alih Media Visual
Pangeran Diponegoro - fiberglass – 240 cm x 120 cm x 403 cm – Yusman – 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Lima puluh satu karya lukisan menginterpretasi pupuh (puisi tradisional Jawa yang memiliki jumlah suku kata dan rima tertentu di setiap barisnya) dalam Babad Diponegoro dipamerkan di Jogja Gallery. Pameran sastra rupa bertajuk “Gambar Babad Diponegoro” dibuka Jumat (1/2) malam.

Selain kelima puluh satu lukisan dipamerkan juga beberapa karya tiga matra berkaitan dengan Diponegoro, buku-buku, artefak, serta benda-benda bersejarah lainnya di antaranya koleksi mata uang dalam bentuk koin maupun kertas, wayang Diponegoro, serta koleksi keris.

Pameran yang dipersiapkan selama hampir setengah tahun melibatkan banyak seniman-perupa yang berganti-ganti mengingat seniman yang terlibat diajak untuk menginterpretasi karya Babad Diponegoro yang berbentuk sastra untuk dialihmediakan dalam visual dua matra. Dalam menyiapkan karyanya, seniman-perupa melakukan pembacaan, riset, observasi, dari naskah-artefak yang ada terkait kehidupan Pangeran Diponegoro. Banyak cerita yang menyertai proses pembuatan karya. Seniman-perupa Eddy Sulityo salah satunya.

Ditemui satuharapan.com Senin (4/2) sore, Eddy menjelaskan dia mendapatkan bagian pupuh XXX (Asmarandana). Pupuh tersebut berkisah tentang Pangeran Diponegoro yang sedang membaca Alquran di padepokan Banyumeneng.

“Dari naskah yang awalnya bertuliskan arab pegon kemudian ditulis dalam aksara Jawa selanjutya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Interpretasinya tentu beragam mengingat tidak ada ilustrasi pada naskah tersebut. Bahkan sketsa wajah Diponegoro sendiri pun tidak ada. Ini menarik, karena selain mendapatkan kebebasan mem-visualkan wajah Diponegoro sekaligus menjadi tantangan bagi seniman-perupa terlibat,” jelas Eddy Sulistyo.

Untuk mendapatkan banyak gambaran, Eddy melakukan riset dengan mendatangi tempat-tempat persinggahan Diponegoro mulai dari kediamannya di Kelurahan Tegalrejo, Yogyakarta, Goa Selarong, tempat Pangeran Diponegoro melakukan kontemplasi di Banyumeneng, hingga penangkapannya di Magelang.

“Secara pribadi saya mengalami suasana yang menuntun dalam proses eksplorasi pada pupuh XXX (Babad Diponegoro). Jika pada karya saya sebelumnya (yang dipamerkan di Omah Petroek tahun lalu) terjadi pergolakan batin dalam diri saya saat mengetahui bahwa Pangeran Diponegoro beristri lebih dari satu, saat berproses dalam pupuh XXX, saya bisa lebih mengendapkan perasaan,” lebih lanjut Eddy menuturkan.

Hasilnya, sebuah karya drawing dalam medium arang (charcoal) dan cat minyak di atas kanvas berukuran 100 cm x 170 cm berjudul Lakuning Pangeran Diponegoro dalam rona monochrome hitam-putih yang impresif.

Pada 21 Juni 2013, Organisasi PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya (UNESCO) menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).

Babad Diponegoro merupakan naskah kuna yang berkisah hidup Pangeran Diponegoro yang ditulis sendiri selama pengasingan di Manado, Sulawesi Utara. Biografi Babad Diponegoro terdiri atas 2.439 bait yang terbagi menjadi 17 pupuh (stanza) sebagai berikut:  1). Sinom (46 bait), 2). Asmaradana (160), 3). Pangkur (134), 4). Mijil (168), 5). Kinanti (140), 6). Sinom (100), 7). Dandanggula (80), 8). Durma (150), 9). Asmaradana (109), 10). Girisa (133), 11). Maskumambang (109), 12). Pangkur (247), 13). Megatruh (160), 14). Pucung (218), 15). Sinom (116), 16). Dandanggula (100) dan 17). Asmarandana (149). 

Keseluruhan isi Babad Diponegoro dimulai dari situasi Yogyakarta  di masa Sultan Hamengku Buwana II termasuk adanya Perang Sepehi di masa Inggris, permusuhan dengan Daendels, Perang Jawa sampai penangkapan dan pembuangan dirinya ke Manado, hingga menjelang meninggalnya Diponegoro.

Babad Diponegoro terdiri atas enam buku. Tiga buku I-III ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro dalam rentang waktu 1820-1836, sementara tiga buku lagi ditulis oleh Raden Nganten Puspitaningrum (buku IV, 1845), Raden Nganten Srengkarahadiningsih (V, 1848), dan R. Ay. Ratnaningsih (VI, 1854).

Babad Diponegoro menjadi salah satu penanda awal munculnya budaya sastra-literasi modern di nusantara dimana dunia penulisan yang belum banyak berkembang saat itu menemui satu titik pencerahan dengan ditulisnya Babad Diponegoro sebagai upaya merekam ingatan kolektif dalam bentuk pupuh-pupuh. Bisa dikatakan Diponegoro adalah salah satu pujangga pada masanya.

Beragam interpretasi karya visual atas dasar Babad Diponegoro dipresentasikan seniman-perupa yang tidak melulu pada visual sosok Pangeran Diponegoro. Eksplorasi seniman Hadi Soesanto pada pupuh XIX Srinata dalam rima (guru lagu-guru wilangan) tembang Dandanggula dituangkan dalam karya visual berjudul Blirik dalam 12 panel akrilik berukuran masing-masing 40 cm x 40 cm dengan kesemua objek adalah cangkir blirik.

Pelukis realis Sigit Raharjo dalam karya berjudul Diponegoro Remembering Tegalrejo’s Home mengolah pupuh XXVI dalam tembang Pucung dengan obyek Diponegoro yang sedang merenung-melamun. Rekonstruksi Sigit pada visual wajah Diponegoro cukup menarik dan kuat sehingga bisa menampilkan wajah Diponegoro yang berbeda dari gambaran wajah Diponegoro yang dikenal masyarakat selama ini. Sementara seniman-perupa Nasirun yang menginterpretasi pupuh XIX divisualkan dalam garis-garis abstrak dan objek wayang untuk menggambarkan Diponegoro dalam karyanya Merapi Meletus dari Awang-awang.

Kenakalan-kenakalan juga muncul dalam interpretasi atas Babad Diponegoro. Seniman-perupa Stefan Buana dalam karya berjudul Balada Diponegosdor dalam media campuran (mix media) justru mengeksplorasi sosok Gusdur (Presiden RI kelima KH Abdurrahman Wahid) dalam karyanya dengan visual-teks yang sangat khas: gitu aja kok repot, jika kamu baik pada orang lain tak seorangpun akan tanya agamamu. Stefan Buana melengkapinya dengan figur-objek Gusdur dalam bentuk karikatural.

Kenakalan pelukis realis Mahdi Abdullah dalam karya berjudul Menyusun Siasat yang seolah menyusupkan sosok dirinya dalam karyanya tidak mengurangi kisah yang diolah dari pupuh XIV. Bahkan seniman-perupa F Sigit Santoso yang mengeksplorasi pupuh XIV dari tembang Sinom secara jenaka dan nakal menuangkannya dalam Abdulrohim Jokowibowo Namaku. Tanpa penjelasan berlebih pengunjung bisa dengan mudah menebak sosok dalam lukisan Sigit.

Pameran sastra rupa “Gambar Babad Diponegoro” berlangsung Jogja Gallery Jalan Pekapalan Yogyakarta hingga 24 Februari 2019.

Editor : Sotyati

Back to Home