Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:33 WIB | Selasa, 02 Oktober 2018

Purwoceng, Berpotensi Tingkatkan Stamina Tubuh

Purwoceng (Pimpinella pruatjan). (Foto: unnes.ac.id)

SATUHARAPAN.COM – Purwoceng, atau purwaceng, adalah tanaman asli Indonesia dan banyak ditemukan di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tanaman ini termasuk salah satu tanaman obat yang paling terkenal, karena khasiatnya yang dapat meningkatkan stamina pria. Dikutip dari unnes.ac.id, tanaman ini terkenal dengan sebutan ‘viagra jawa’.

Tanaman ini diolah sebagai campuran minuman kopi atau susu. Rasanya pahit, tapi sangat membantu menghangatkan badan. Sekilas ada rasa pedas seperti mint. Rasa ini sebenarnya berasal dari batang dan akarnya yang juga dihancurkan.  

Purwoceng adalah terna kecil, yang tumbuh mendatar di atas permukaan tanah seperti tumbuhan pegagan atau semanggi gunung, namun tidak merambat. Daunnya kecil-kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1-3 cm.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan beberapa perguruan tinggi dalam negeri, dikutip dari biofarmaka.ipb.ac.id, diketahui ada efek nyata antara tanaman purwoceng terhadap peningkatan kemampuan seksual.

Seperti dikutip dari hasil studi peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007, seluruh bagian tanaman purwoceng dapat digunakan sebagai obat tradisional, namun bagian yang paling berkhasiat adalah akarnya. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan juga membenarkan akarnya mempunyai sifat diuretika dan digunakan sebagai afrosidiak, yakni khasiat obat yang dapat meningkatkan atau menambah stamina tubuh.

Purwoceng bahkan disebutkan sebagai tanaman legendaris yang dijadikan obat kuat oleh para raja atau kalangan istana di daerah Jawa. Di Indonesia tumbuhan atau tanaman obat yang memiliki khasiat penambah stamina, umumnya digunakan atas dasar mitos, kepercayaan, dan pengalaman. Namun, khasiat tanaman purwoceng ini bukan sekadar mitos belaka karena studi sudah membuktikannya.

Seperti yang dilakukan tim peneliti gabungan Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang, Divisi Biokimia dan Andrologi, Fakultas Kedokteran, Unisula, Semarang, Subjek Divisi Bedah Digestif dan Program Doktor, Fakultas Universitas Kedokteran Diponegoro, Bagian Biologi dan Andrologi dan Program Pasca Doktoral Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Tim gabungan itu meneliti pengaruh ekstrak purwoceng pada tikus jantan Spraque Dawley. Kesimpulan menunjukkan ekstrak purwoceng dapat meningkatkan kadar testosteron tikus jantan Spraque Dawley, dan ekstrak purwoceng dapat meningkatkan fungsi ereksi tikus.

Pemerian Botani Purwoceng

Purwoceng, menurut Wikipedia, yang juga disebut antanan gunung, memiliki nama ilmiah Pimpinella pruatjan.

Daun tumbuhan ini kecil-kecil berwarna hijau kemerahan dengan diameter 1-3 cm. Mengutip dari ipb.ac.id, daunnya merupakan daun majemuk berpasangan berhadapan. Bentuk anak daun membulat dengan tepi bergerigi, ujung daun tumpul, pangkal daun bertoreh, tangkai daun berwarna cokelat kehijauan, warna permukaan atas daun hijau dan permukaan bawah hijau keputihan.

Batangnya merupakan batang semu, berbentuk bulat, lunak dan warnanya hijau pucat.

Bunganya merupakan bunga majemuk berbentuk payung, tangkainya silindris, kelopak bunga berbentuk tabung berwarna hijau. Mulai berbunga antara bulan ke-5 sampai bulan ke-6 dan dapat dipanen pada umur 7 – 8 bulan.

Bijinya berbentuk lonjong kecil, berwarna cokelat. Biji yang sudah masak berwarna hitam, berukuran sangat kecil dengan berat sekitar 0,52 gr per 1.000 butir biji. 

Akarnya merupakan akar tunggang yang membesar membentuk struktur seperti umbi pada tanaman ginseng, tapi dengan ukuran lebih kecil dan berwarna putih.

Purwoceng memiliki nama berbeda-beda di setiap daerah. Nama lain tanaman purwoceng di antaranya adalah antanan gunung, gebangan dhepok, rumput dempo, atau suripandak abang.

Tanaman purwoceng menurut Wikipedia selain banyak ditanam di Dieng juga tumbuh di Pegunungan Hyang dan dikenal dengan nama suripandak abang, serta di Pegunungan Tengger dan dikenal sebagai gebangan dhepok.

Usaha-usaha untuk memperbanyak dan budidaya mengalami kesulitan karena tumbuhan ini sulit menghasilkan biji. Penelitian perbanyakan in vitro melalui budidaya jaringan telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini.

Purwoceng dikutip dari unila.ac.id, banyak tumbuh secara liar di kawasan Dieng pada ketinggian 2.000-3.000 m dpl. Potensinya cukup besar, tetapi masih terkendala oleh langkanya penyediaan benih dan keterbatasan lahan yang sesuai untuk tanaman tersebut. Purwoceng termasuk dalam tumbuhan langka di Jawa.

Manfaat Herbal Purwoceng

Purwoceng, dikutip dari peternakan.litbang.pertanian.go.id, merupakan salah satu tumbuhan obat asli Indonesia yang mempunyai efek androgenic, dan digunakan oleh masyarakat sebagai obat afrodisiaka.

Penduduk sekitar dataran tinggi Dieng sejak dulu menggunakannya sebagai salah satu bagian ramuan obat tradisional, untuk mengobati macam-macam penyakit dan gangguan kesehatan. Ekstrak akarnya juga dimanfaatkan sebagai diuretika dan tonika dalam bentuk seduhan. 

Bahan aktif purwoceng paling banyak terdapat pada bagian akarnya yang menyerupai wortel dan berwarna putih, panjangnya sekitar 10 cm. Akar purwoceng mengandung turunan senyawa kumarin yang sering digunakan dalam industri obat modern, bukan untuk afrodisiak melainkan untuk antibakteri, antifungi, dan antikanker.

Mengutip ipb.ac.id, hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat. Namun, bagian akarnya mempunyai sifat diuretika dan digunakan sebagai afrosidiak karena berkhasiat meningkatkan atau menambah stamina.

Purwoceng digolongkan sebagai afrodisiak karena mengandung berbagai komponen kimia seperti turunan steroid, saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa lain yang mampu melancarkan peredaran darah, menimbulkan efek stimulan baik secara hormonal dan nonhormonal, sehingga dapat meningkatkan stamina tubuh.

Tumbuhan afrodisiak pada umumnya menunjukkan efek peningkatan aktivitas hormon androgenik. Hal ini akan memperbaiki aktivitas jaringan tubuh sehingga secara tidak langsung akan memperbaiki fungsi organ.

Purwoceng mengandung komponen kimia berkhasiat antara lain kelompok atsiri yang terdiri atas germacrene, beta besabolene, beta cayophylline, alfa humulene, dan carvacrol; kelompok steroid yang terdiri atas sitosterol, stigmasterol; kelompok turunan furanokumarin yang terdiri atas xanthotoxin dan bergapten, serta mengandung vitamin E.  

Simplisia purwoceng baik akar maupun batang kaya akan komponen kimia yang berfungsi dapat meningkatkan stamina tubuh, sedangkan kelompok komponen kimia yang berfungsi sebagai afrodisiak adalah steroid.

Khasiat afrodisiak purwoceng, menurut Wikipedia, telah dicatat oleh kalangan istana di Jawa. Penelitian-penelitian ilmiah baru mendukung pembuktiannya, sebab itu puwoceng sering dijuluki “viagra tradisional” atau “viagra Indonesia”, selain viagra jawa.

Tim peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Universitas Pakuan, Bogor, meneliti karakterisasi bakteri endofit tanaman purwoceng sebagai hasil senyawa steroid dan antipatogen. 

Tanaman purwoceng diketahui dapat memproduksi beberapa senyawa metabolit sekunder fitosterol (stigmasterol, sitosterol, bergapten, ergosterol, amirin, dan vitamin E). Konsentrasi senyawa fitosterol dalam tanaman ini sangat kecil, namun memiliki banyak manfaat. Hasil penelitian menunjukkan tanaman purwoceng mampu mencegah pertumbuhan patogen  Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), sedangkan Aktino PWC GP-2 dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC).

Suhartinah dari Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta, meneliti efek spermatogenesis dan afrodisiaka herba purwoceng asal Dieng pada tikus putih jantan galur Wistar. Hasil penelitian menunjukkan herba purwoceng Dieng mempunyai efek spermatogenesis dan afrodisiaka pada tikus putih jantan. Infusa herba purwoceng Dieng memiliki aktivitas tinggi terhadap peningkatan jumlah spermatozoa, bobot testis, dan vesikula seminalis.

Tim peneliti dari jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung, Bandar Lampung, meneliti pengaruh ekstrak tanaman purwoceng terhadap agresivitas dan libido mencit jantan.

Pemberian ekstrak tanaman purwoceng diketahui dapat meningkatkan kadar luteinizing hormone (LH) dan kadar hormon testosteron. Kadar testosteron cukup tinggi dalam tubuh dapat meningkatkan libido dan agresivitas. 

Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak tanaman purwoceng dapat meningkatkan agresivitas dengan mempercepat latensi serangan dan meningkatkan frekuensi serangan tetapi tidak dapat mempercepat latensi ancaman. Ekstrak tanaman purwoceng tidak dapat meningkatkan libido.

Tim peneliti Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha Bandung, meneliti perbandingan efek ekstrak etanol purwoceng dengan kombinasi ektrak etanol purwoceng dan zinc terhadap peningkatan jumlah spermatozoid mencit galur Swiss Webster.  

Purwoceng dan zinc banyak digunakan dan diteliti untuk memecahkan masalah infertilitas. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol purwoceng dapat meningkatkan jumlah spermatozoa mencit secara berbeda sangat bermakna, lebih baik dibandingkan peningkatan oleh kombinasi ekstrak etanol purwoceng dan zinc.

Tim peneliti Prosiding Universitas Muhammadiyah Purwokerto meneliti aktivitas antimikroba ekstrak dan fraksi purwoceng. Ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol dari purwoceng memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan isolat bakteri MG42.

Editor : Sotyati

Back to Home