Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 13:57 WIB | Senin, 01 Oktober 2018

Rabbit-Proof Fence

Rabbit-Proof Fence. (Foto: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM - Australia.  Antara 1869-1969 sebuah noda sejarah tergores di sana. Dan menjadi luka. Pemerintah memberlakukan peraturan asimilasi sistematis terhadap anak-anak Aborigin. Puluhan ribu anak diambil paksa dari keluarganya, lalu ditempatkan di keluarga-keluarga kulit putih dan panti-panti asuhan yang dikelola gereja. Mereka dipaksa berganti identitas; bahasa, kebiasaan, bahkan juga agama. Mereka itulah the Stolen Generation.

 

Tentang ini digambarkan dengan bagus sekali dalam film Rabbit-Proof Fence. Dibintangi aktor kawakan Inggris, Kenneth Branagh. Film tersebut bebas ditonton di sana. DVD-nya bisa dipinjam di perpustakaan-perpustakaan umum. Bahkan diputar pula di kelas-kelas bahasa yang dikelola oleh pemerintah untuk para imigran sebagai bahan diskusi.

 

Syukur, tahun 2008 Kevin Ruud, perdana menteri ketika itu, secara terbuka menyatakan permintaan maaf kepada masyarakat Aborigin. Permintaan maaf yang ia sebut sebagai upaya “menghilangkan noda besar dari dalam jiwa bangsa Australia.”

 

Permintaan maaf akan luka sejarah itu penting. Betul, ia tidak akan mengubah masa lalu, tapi setidaknya bisa mengubah masa depan. Sebab masa depan yang damai hanya akan tergapai bila terjadi rekonsiliasi dengan masa lalu. Dan rekonsiliasi hanya mungkin terjadi dengan pengakuan dan maaf.

 

Maka, alangkah baiknya bila terkait peristiwa 1965 pemerintah Indonesia melakukan langkah serupa. Sikap "penyangkalan" seperti sekarang, bukan saja membuat luka itu makin bernanah. Lebih dari itu, mengundang pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terus menghidup-hidupkan hantu yang sudah lama mati. Ini berbahaya. Sebab kengerian yang tidak terselesaikan, pada akhirnya bisa memicu kengerian baru.

 

 

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 

Back to Home