Google+
Loading...
HAM
Penulis: Sotyati 09:52 WIB | Sabtu, 28 Oktober 2017

Rebecca Dali: “Iman kepada Tuhan Memotivasi Saya Setiap Detik”

Rebecca Dali menerima Penghargaan Kemanusiaan dari Yayasan Sergio Vieira de Mello di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Agustus 2017. (Foto: WCC/Ivars Kupcis)

SATUHARAPAN.COM – Pada peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 Agustus yang lalu, Dr Rebecca Samuel Dali menerima Penghargaan Kemanusiaan 2017 dari Yayasan Sergio Vieira de Mello. Penyerahan penghargaan yang dilakukan di kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa itu merupakan bentuk pengakuan atas usahanya yang berani untuk melakukan reintegrasi perempuan-perempuan yang diculik Boko Haram ke komunitas lokal mereka di Nigeria utara.

Dalam kunjungan ke Ecumenical Centre, Rebecca Dali berbagi kisah tentang sumber keberanian dan komitmennya untuk membantu kaum yang paling rentan.

“Awalnya saya membantu anak-anak yang rentan. Tetapi, ketika krisis kekerasan berlanjut ke Jos, saya mulai membantu janda dan anak yatim,” kata Dali, yang mendirikan dan mengelola Centre for Caring, Empowerment and Peace Initiatives (CCEPI) di Nigeria bagian timur laut.

“Lalu, ketika Boko Haram datang, kami mulai bekerja untuk pengungsi. Kami mendata 380.000 rumah tangga yang harus kami bantu,” kata Dali, yang terpaksa melarikan diri bersama keluarganya, saat militan Boko Haram mengambil alih Kota Michika, Negara Bagian Adamawa pada tahun 2014.

Begitu situasi di negara bagian utara di Nigeria memburuk, pekerjaan bantuan CCEPI pun meningkat bertahap. Tercatat mereka membantu satu juta jiwa sejak 2008. “Dalam jumlah yang besar itu termasuk di dalamnya janda dan anak yatim, dan saya mulai fokus pada yang paling rentan,” kata Dali.

Banyak di antaranya yang datang dari wilayah yang sebelumnya jadi target pemberontakan Boko Haram yang lalu terbengkalai. Pemerintah tak kunjung turun tangan menanganinya, dan celakanya masyarakat menolak korban pemberontakan itu, walaupun adakalanya termasuk di dalamnya keluarga mereka sendiri, “Ketika saya mulai membuka tangan, mereka mulai datang. Ada yang sakit, ada yang lapar, kebanyakan dari mereka mengalami trauma, kekerasan, bahkan pelecehan.”

Dali, bersama rekan-rekannya di CCEPI, mulai melihat lebih terperinci kasus mereka, dan menawarkan bantuan khusus, “Sering kali bantuan yang dulu kecil dan tidak mencukupi. Tetapi, saat saya melihat dan mendengar cerita mereka lebih dekat, saya dapat menawarkan bantuan yang mereka butuhkan.”

Dali memulainya dengan penyembuhan trauma dan menyediakan tempat berlindung. Ia memberikan dukungan bagi korban yang sedang hamil dan yang melahirkan. Bantuan lain berupa pakaian, makanan, perumahan, berlanjut pada pelatihan dan pemberdayaan, dan mendaftarkan orang-orang ke pusat mata pencaharian.

Dali mengakui, terkadang dalam keadaan kelelahan amat sangat, terlintas dalam pikirannya untuk menghentikan semua upaya itu. “Tetapi, kemudian saya ingat, Tuhan juga tidak menolak saya. Dia juga tidak pernah lelah dengan saya. Jadi, bagaimana mungkin saya bisa bosan dengan orang lain? Saya percaya Tuhan Mahakasih, dan Dia bersabda agar kita mengasihi orang lain seperti diri kita sendiri. Dia datang untuk mendamaikan dunia,” kata Dali, seraya menambahkan bertindak sebagai orang yang membantu orang lain berarti berkarya untuk perdamaian juga.

Mengambil Risiko Menjangkau Daerah Berbahaya

CCEPI yang didirikan Dali diakui oleh UNHCR sebagai aktor kemanusiaan pertama yang membuat program matapencaharian bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal dan orang-orang yang kembali di wilayah Madagaskar dan Michika di wilayah Adamawa di Nigeria. Lembaga itu mengambil risiko menjangkau daerah-daerah yang dianggap tidak dapat diakses dan berbahaya pada puncak pemberontakan Boko Haram, pada saat organisasi nonpemerintah lain tidak dapat melakukannya.

“Bahkan jika Anda dianiaya, Anda seharusnya tidak mengalami patah semangat karena penganiayaan, tapi terus membantu orang lain,” demikian keyakinan Dali.

“Saat kami dikejar-kejar oleh Boko Haram, pada hari pertama saya tidak melakukan apa-apa, namun pada hari kedua saya sudah bergabung dengan orang-orang telantar lain, mendaftar mereka, mengumpulkan cerita, mendengarkan kebutuhan mereka, dan kemudian mulai mengajukan permohonan ke agen donor untuk membantu mereka.”

Dali juga termasuk orang pertama yang mengunjungi orang tua dari 276 gadis Chibok setelah penculikan massal oleh Boko Haram pada bulan April 2014. Suami Dali, Pendeta Dr Samuel Dante Dali pada waktu itu adalah kepala Gereja Ikhwan di Nigeria (EYN, Ekklesiyar Yan'uwa a Nigeria), dan sebagian besar gadis Chibok yang diculik adalah warga gereja mereka. Terletak di distrik utara negara tersebut, kongregasi EYN mengalami serangan hebat militan Boko Haram, memaksa hingga 70 persen anggota gereja melarikan diri dan menjadi pengungsi.

Usaha berani dari Rebecca Dali dan CCEPI dalam reintegrasi perempuan yang diculik oleh Boko Haram mendapat pengakuan Yayasan Sergio Vieira de Mello, dengan memberikan Dali Humanitarian Award tahun ini. “Ketika komunitas lokal menolak reintegrasi mereka, kemampuan negosiasi dan rekonsiliasi Anda memainkan peran penting dalam reintegrasi mereka yang sukses,” kata ketua yayasan dan direktur Hubungan Eksternal UNHCR, Anne Willem Bijleveld.

“Kami menyediakan layanan medis dan penyembuhan trauma bagi wanita yang kembali dari Boko Haram,” kata Rebecca Dali. Bagi wanita hamil, CCEPI mendukung mereka dan menunggu sampai mereka melahirkan, membawa mereka ke rumah sakit dan membelikan semua kebutuhan untuk bayi,” ia menggambarkan.

“Sangat menyedihkan. Karena setelah mereka melahirkan, beberapa orang biasa mengatakan anak ini anak Boko Haram,” Dali mengenang dengan sedih. Banyak yang meyakini bayi-bayi itu adalah anak-anak “berdarah buruk”, karena itu mereka berisiko tinggi dibunuh atau ditelantarkan. “Kami harus berada di sana untuk mendorong para ibu merawat bayi-bayi itu, karena itu bukan kesalahan anak-anak itu. Semuanya diciptakan dengan luar biasa dalam citra Tuhan,” kata Dali.

Dorongan semacam itu biasanya berjalan baik. Namun, tantangan sebenarnya terletak pada keluarga para wanita dan suami mereka, yang dalam banyak kasus menolak untuk menerima wanita mereka yang kembali dari penahanan Boko Haram.

“Jadi kami harus melakukan lobi, pergi ke keluarga itu dan berbicara dengan mereka. Kami membuat banyak telepon dan mengatur pertemuan, melibatkan pemimpin masyarakat setempat juga,” kata Dali.

Jika upaya itu tidak berhasil, Dali menyediakan persinggahan bagi wanita-wanita itu di komunitas lain yang tidak mengetahui latar belakang mereka. Dalam beberapa kasus, hubungan kembali dengan keluarga bisa terjalin secara bertahap, setelah trauma kedua belah pihak terkikis.

Dali menerima penghargaan tersebut pada tanggal 21 Agustus di PBB di Jenewa, dalam acara tahunan Hari Kemanusiaan, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pekerjaan bantuan kemanusiaan, memperingati pekerja yang telah meninggal saat bertugas di lapangan, dan menandai hari pada tahun 2003 ketika 22 orang terbunuh dalam sebuah serangan bom di kantor PBB di Irak, termasuk kepala misi Sergio Vierra de Mello.

Dalam pidatonya di Balai Hak Asasi Manusia dan Aliansi Peradaban, Dali berkata, “Bersyukur kepada Tuhan yang memberi saya keberanian dan kesempatan untuk melayani anak-anak, tetangga saya.”

Bagi Dali, penghargaan tersebut merupakan kunci keberhasilan lebih lanjut dari CCEPI. “Ada yang sudah mendekati saya, mengundang untuk berbicara, menawarkan kemitraan, dan sumbangan, untuk membangun klinik penyembuhan trauma dan sebuah sekolah. Saya menyelesaikan pidato saya, dan dalam waktu kurang dari 20 menit saya bertemu dengan banyak orang yang ingin membantu. Tanpa penghargaan itu, saya tidak akan mengenal mereka. Jadi, saya bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan ini!”

Dali mengakui, dukungan dari lembaga donor, yakni Church of the Brethren USA, Christian Aid Ministries, Komite Penyelamatan Internasional, UNHCR, menjadi motivasi penting bagi pekerjaannya. “Anda memiliki dana dan sumber daya untuk membantu, dan Anda melihat banyak kebutuhan dan penderitaan orang-orang di sekitar Anda. Saya tidak lagi bisa mengatakan saya lelah. Ini justru memotivasi saya untuk terus berkarya.”

Di atas segalanya, ia menyoroti cinta kasih Tuhan dan kebaikan tetangganya sebagai pendorong utama komitmennya: “Setiap menit dan setiap detik saya menemukan motivasi untuk mengetahui bahwa Tuhan ada di dekat saya dan melindungi saya. Karena Dia saya melakukan pekerjaan ini.” (oikoumene.org)

Editor : Sotyati

Back to Home