Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 15:40 WIB | Jumat, 05 April 2019

Rekaman Perjalanan Tohjaya Tono dalam “The Days without Frida”

Rekaman Perjalanan Tohjaya Tono dalam “The Days without Frida”
Pameran sketsa-drawing "The Days without Frida" di Galeri Lorong, RT 01 Dusun Jeblok, Dukuh, 3, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, 27 Maret hingga 3 April 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Rekaman Perjalanan Tohjaya Tono dalam “The Days without Frida”
Tohjaya Tono bersama karya sketsa-drawing yang dipamerkan.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – ”..Ketika saya melintasi jalan ke arah Pantai Congot, Kulonprogo saya berhenti sejenak. Ketika saya menoleh ke sebelah kanan ada seekor burung yang sedang terbang di antara ladang dan hinggap pada sebuah pohon. Warna bulunya indah, sayang saya tidak bisa melihat dari dekat. Ekornya agak memanjang. Seingat saya, pada bulu burung ada warna coklat, biru muda, mungkin ada kuning dan warna merahnya. Saya agak lupa. Tapi begitu indah.”

Satu paragraf tersebut melengkapi ilustrasi sketsa dengan objek dua ibu petani, seekor burung, dan goresan-goresan garis-warna pada selembar kertas sketchbook yang dibuat oleh seniman-perupa Tohjaya Tono pada awal Maret 2018, turut dipamerkan bersama karya sketsa-drawing-nya di Galeri Lorong, RT 01 Dusun Jeblok, Dukuh, 3, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul.

Pameran bertajuk “The Days without Frida” tersebut sekaligus menjadi acara peluncuran buku dengan judul yang sama. Sebanyak 152 karya sketsa-drawing tunggal, lima sketsa seri, dan lima lukisan dalam bentuk rontek (round tag) dipamerkan 27 Maret hingga 3 April 2019.

“Dalam buku The Days without Frida, karya sketsa-drawing dikelompokkan ke dalam tiga kategori yakni lanskap alam, peristiwa-kejadian, dan catatan perjalanan. Tema masing-masing karya sifatnya acak. Tidak ada keterhubungan secara langsung satu sama lain, karena saya membuatnya secara on the spots,” jelas Tohjaya Tono saat ditemui satuharapan.com, Kamis (28/3) sore.

Tohjaya menambahkan bahwa sebagian besar karya merupakan catatan perjalanannya dengan merespons medium kertas, cat air, charcoal, pensil, ballpoint, dan tinta cina. Satu karya lanskap dibuat di atas tabloid bekas.

Bagi seniman-perupa, sketsa adalah pintu masuk konsep sebuah karya. Dari sketsa itulah sebuah karya akan tersaji pilihan dimensi, medium, teknik hingga nilai artistik-estetik karya nantinya.

“Ada satu karya yang saya buat saat ke Hong Kong tahun 2011. Sebagian besar saya buat saat keliling Indonesia. Merekam peristiwa maupun aktivitas sehari-hari yang ada di masyarakat,” Tono menambahkan.

Dalam pola acak, tema sosial kerap masuk dalam karya sketsa-drawing Tono, semisal keluhan petani penggarap lahan pasir di Kulonprogo yang tergusur dari lahan pertaniannya, aktivitas di Pelabuhan Sunda Kelapa, suasana dan aktivitas sebuah stasiun kereta api, pabrik gula Madukismo.

Pada karya sketsa seri berjudul Matahari Bersinar Melewati Pundak Bukit Selatan, di atas empat lembar kertas cokelat Tono merekam peristiwa alih fungsi-kepemilikan lahan dengan narasi yang ditulisnya “Lubang-lubang kecil di antara bilik, seberang tanah milik mas Juwan berdiri sebuah pabrik. Seberang selatan sawah miliknya berdiri sebuah perumahan. Sebelah barat di antara rimbunnya pohon berdiri sebuah rumah besar dari seorang pendatang luar negeri."

Sementara pada sketsa seri berjudul Satu Malam di Tuk Tuk Samosir, Tono membuat dua sketsa potret mengapit sketsa lanskap Toba-Samosir dalam goresan garis pena hitam. Bahkan tanpa narasi berlebihan, sketsa-drawing mampu membawa imaji pengunjung langsung pada objek yang dihadapi seniman saat membuat karya.

Sketsa merupakan catatan perupa saat merekam sesuatu yang dilihat atau berupa catatan momen kilasan ide yang bisa menjadi gagasan untuk digunakan dalam proses berkarya. Sketsa merupakan bagian dari proses kreatif perupa dalam menggambarkan citra, gagasan ataupun konsep sebuah karya seni.

Dalam lima tahun terakhir sketsa di Yogyakarta seolah menemukan kembali semangat dan menggeliat di antara seniman-perupa tidak sekadar sebagai awal proses namun telah menjadi sebuah karya seni.

Kekuatan sketsa dalam merekam kejadian/peristiwa ataupun menjadi sebuah rancangan karya lanjutan bagi penciptaan karya seni lainnya sering dilakukan seniman-perupa. Salah satu lukisan masterpiece berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh Syarif Bustaman berawal dari sebuah sketsa pada selembar kertas yang saat ini menjadi koleksi seniman-perupa Nasirun. Maestro tari Bagong Kussudiardja pun sering menciptakan pola langkah dan gerakan sebuah tarian berawal dari sketsa. Menariknya, baik sketsa maupun karya seni lanjutan yang dibuat Raden Saleh dan Bagong Kussudiardja hari ini menjadi karya seni yang berdiri sendiri.

Lima lukisan Tohjaya Tono dalam bentuk rontek merupakan pengembangan dari sketsa yang telah dibuatnya. Kejelian Tono terlihat saat mengalihmediakan sketsa hitam-putih seorang laki-laki yang sedang melintas dengan mengendarai sepeda ke atas kanvas berwarna cokelat, atau suasana gerbong kereta api yang direkam dalam ingatannya dari lorong sambungan antargerbong. Dalam citraan maupun kejadian yang sederhana lukisan-sketsa rontek Tono justru menjadi sebuah karya yang kuat.

Dengan membaca paragraf di awal tulisan ini dan melihat bentuk objek burung dalam karya sketsa seorang pemantau burung (bird watching) akan dengan cepat mengidentifikasi jenis burung tersebut tanpa harus melihat objek aslinya. Itulah salah satu kekuatan sketsa: membawa imajinasi dalam suasana-kondisi aslinya.

Editor : Sotyati

Back to Home