Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 17:22 WIB | Sabtu, 04 Juni 2016

RI Tolak Gambar Bendera Bintang Kejora di Pusat Kota Darwin

Gambar bendera Bintang Kejora di pusat bisnis kota Darwin, Australia, yang mendapat surat keberatan dari diplomat RI (Foto: abc.net.au)

DARWIN, SATUHARAPAN.COM - Indonesia tampaknya semakin serius untuk menghambat laju kampanye gerakan yang menginginkan penentuan nasib sendiri bagi Papua. Gerakan ini yang dipelopori oleh United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) belakangan ini berhasil menunjukkan kemajuan dalam meraih perhatian internasional dan diplomat Indonesia dikritik terlalu menganggap enteng kekuatan mereka.

Sebuah laporan abc.net.au mengatakan diplomat Indonesia di Australia belum lama ini melayangkan surat kepada pemerintah lokal di Darwin, Australia, yang menyatakan keberatan atas sebuah lukisan mural bendera Bintang Kejora, yang selama ini dianggap sebagai bendera kelompok yang menginginkan Papua menjadi negara merdeka.

BACA JUGA:

 

Diplomat itu, Andre Siregar, dari Konsulat Indonesia di Darwin, mengatakan kepada abc.net.au, ia memahami bahwa ada kebebasan berekspresi di Australia. Namun gambar mural tersebut berada dekat dengan kantor Konsulat Indonesia dan Gedung Parlemen. Hal itu telah memunculkan pertanyaan dari para pejabat Indonesia yang berkunjung ke Negara Kangguru itu, seberapa jauh sebenarnya dukungan Australia terhadap gerakan kemerdekaan Papua.

Gambar mural Bendera Bintang Kejora itu sendiri sebetulnya sudah hampir setahun dipampangkan di sebuah tembok di Central Business District (CBD) di kota Darwin. Menurut June Mills, salah satu pelukis mural di tembok itu, lukisan tersebut pertama kali dibuat pada bulan Juni 2015. Sebagai salah seorang sesepuh Larrakia, yaitu wilayah suku Aborigin di sekitar Darwin, Mills mengatakan lukisan itu dirancang untuk menunjukkan solidaritas antara rakyat Papua dengan rakyat Aborigin.

"Lukisan itu dibuat sebagai hormat, cinta dan solidaritas kepada rakyat Papua," kata dia.

"Orang tidak bisa menaikkan bendera itu di Papua, mereka akan dibunuh, atau jika tidak, dipenjara atau dihukum dalam berbagai bentuk," kata dia.

"Itu sebabnya kami melukis bendera itu di sini, sebagai solidaritas dengan bendera Aborigin -- kedua bangsa itu memahami arti perjuangan," lanjut Mills.

Belakangan ini, pemilik properti tempat tembok itu berada meminta June Mills dan kawan-kawan  menghapus lukisan Bendera Bintang Kejora itu dengan segera dan menggantinya dengan yang lain. Tidak disebutkan dengan terus terang apa alasannya kecuali hanya dikatakan ada tekanan dari pihak eksternal.

abc.net.au mendapatkan sebuah surat elektronik, yang berisikan surat dari seorang karyawan Randazzo Properties, pemilik tembok, yang mengatakan bahwa pemilik gedung ingin lukisan itu dilukis ulang pekan ini.

Kepada abc.net.au, seorang aktivis gerakan pembebasan Papua mengatakan ia telah diberitahu oleh pihak Randazzo bahwa tekanan eksternal yang dimaksudkan adalah permintaan dari pemerintah Indonesia.

June Mills meyakini permintaan agar gambar bendera Bintang Kejora itu dihapus bertujuan untuk menghambat pesan-pesan kelompok rakyat Papua yang menginginkan kemerdekaan.

Dalam waktu dekat, sebuah konferensi tentang Indonesia akan berlangsung di Charles Darwin University. Konferensi itu akan menghadirkan akademisi, peneliti, pengajar dan mahasiswa dari berbagai disiplin untuk membahas berbagai informasi terbaru tentang pembangunan di Indonesia.

Pada hari Sabtu (4/6) sore, sekelompok aktivis berkumpul untuk memprotes penghapusan gambar Bendera Bintang Kejora tersebut.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home