Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Alexander Urbinas 15:38 WIB | Rabu, 05 September 2018

Rindu Asian Games

Alexander Urbinas.

SATUHARAPAN.COM – Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang akhirnya resmi ditutup pada Minggu, 2 September 2018. Ada rasa bangga ketika seluruh perhelatan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Opening Ceremony yang megah dan berkelas, lalu rangkaian pertandingan berbagai cabang olahraga yang memikat animo penonton dari berbagai bangsa dan negara, sampai dengan acara Closing Ceremony yang elegan. Karena itu, ketika Asian Games 2018 ini berakhir, kita merasa seperti ada yang hilang dan dirindukan.

Banyak cerita menarik dalam pelaksanaan Asian Games 2018 dengan motto “Energy of Asia” ini, dimulai ketika Indonesia didapuk sebagai tuan rumah tunggal, yang pada awalnya bersama Vietnam. Namun, karena masalah ekonomi melanda negaranya, Vietnam mengundurkan diri.

Alhasil Indonesia dengan mantap menyanggupi sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Pemerintah Indonesia pun bekerja keras dalam rangka mendukung pelaksanaan Asian Games ini, khususnya dalam pengadaan sarana dan prasarana yang memadai.    

Sebelum pelaksanaan Asian Games 2018 ini juga, pemerintah dengan cukup berani mengatakan bahwa target dalam Asian Games 2018 adalah 16 emas, dan dalam perolehan medali bukan lagi di posisi 2 digit, melainkan 1 digit. Target yang sungguh tinggi. Belum pernah Indonesia mencapainya. Oleh sebab itu, beberapa pihak menyepelekan target yang dianggap tidak realistis itu.

Namun, optimisme dan kerja keras tersebut tidaklah sia-sia. Terlepas karena faktor sebagai tuan rumah, keseriusan dan kerja keras dari para atlet dan pelatih tidak dapat diabaikan. Indonesia menutup perolehan medali dengan total 98 medali, dengan perincian 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu. Di luar ekspektasi dan dugaan. Tidak ada kata lain, selain bangga dengan Indonesia.

Persatuan dan Kesatuan Bukanlah Sebuah Utopia

Cerita epik lain dalam Asian Games ini adalah ketika seorang pesilat asal Jawa Barat, Hanifan Yudani Kusuma meraih medali emas, lalu beraksi memeluk Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto di podium, dengan berselendangkan bendera Merah Putih. Momen ini mendapatkan perhatian dan apresiasi dari masyarakat yang haus akan kebersamaan dan persatuan, karena situasi ini sudah cukup jarang dirasakan.

Mari kita kesampingkan kecurigaan bahwa ini hanyalah kiasan politik dan formalitas, layaknya pelukan Don Corleone dan Don Tattaglia dalam film Godfather (1972), dimana setelah pelukan itu Corleone mengatakan: “it’s not personal, it’s just business”. Mari kita optimistis dan percaya, bahwa atas nama Indonesia dan Merah Putih, persatuan dan kesatuan bukanlah sebuah utopia, namun justru sebuah realita.

Selama Asian Games 2018, saya hadir dan menonton di beberapa venue dan cabang olah raga, seperti sepakbola, badminton, basket, dan akuatik. Sungguh takjub terhadap fasilitas serta sarana dan prasarana di venue-venue tersebut. Indonesia tidaklah memalukan. Malah sangat membanggakan!

Saya sempat berbincang dengan beberapa turis asing di sekitar GBK, dan mereka menyatakan Asian Games 2018 ini merupakan salah satu event yang terbaik yang pernah mereka hadiri. Mendengar itu, dengan bangga saya katakan, terima kasih dan saya adalah seorang Indonesia, sang tuan rumah.

Asian Games 2018 telah berakhir. Saya merindukan momen di bangku penonton yang berteriak dengan energi besar mendukung atlet Indonesia tanpa bertanya ke sesama suporter lain, siapa capres yang mereka dukung? Atau bertanya dulu apa agama atlet yang kita dukung tersebut?

Siapa kita? Indonesia! Bangsa besar yang memang hidup dalam persatuan dan kesatuan. Kami rindu momen Asian Games. Semoga Olimpiade 2032 dapat menjawab kerinduan ini.

Salam kebangsaan.

Editor : Sotyati

Back to Home