Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Martahan Lumban Gaol 12:18 WIB | Kamis, 06 Agustus 2015

"Saatnya Nahdlatul Ulama Bekerja"

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat, Maman Imanulhaq. (Foto: Dok. satuharapan.com)

JOMBANG, SATUHARAPAN.COM – Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, telah ditutup, pada Kamis (6/8) dini hari WIB. Pergelaran yang berlangsung sejak Sabtu (1/8) itu pun telah melahirkan dua pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru, yakni Ma’ruf Amin sebaga Rais Aam dan Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah.

Saat dimintai pendapatnya terkait Muktamar ke-33 NU, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan, Majalengka, Jawa Barat, Maman Imanulhaq, mengaku tidak peduli dengan segala dinamika yang menghiasi pergelaran selama enam hari tersebut. Menurut dia, lima tahun ke depan adalah waktu pertarungan bagi PBNU agar bisa bermanfaat bagi Indonesia.

“Apapun dinamika Muktamar ke-33 NU telah berakhir dengan berbagai rekomendasi dan program. Sudah terpilih juga Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam dan Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. Sekarang saatnya NU bekerja dan bertarung lahirkan produk yang bermanfaat bagi Indonesia,” ujar Maman saat ditemui satuharapan.com, di sela-sela proses Pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2015-2020, di Alun-alun Kabupaten Jombang, Kamis (6/8) dini hari WIB.

Menurut dia, terlalu banyak intrik, isu, dan permasalahan melingkupi bangsa Indonesia saat ini, yang menantang kehadiran NU. Misalnya dalam kemerosotan ekonomi Indonesia dan pengangguran. “Mampukah NU berpihak kepada kelompok marjinal dan buruh migran?” ujar Maman.

Oleh karena itu, dia menegaskan tidak terlalu penting mengetahui sosok terpilih sebagai pemimpin NU. Karena hal terpenting adalah sosok pemimpin terpilih itu harus memperlihatkan watak keberpihakan NU pada kelompok marjinal.

“NU harus dirikan pesantren sebagai pusat perubahan. Muktamar ini hasilkan semangat dan spirit baru,” dia menambahkan.

Editor : Sotyati

Back to Home