Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 14:16 WIB | Rabu, 31 Januari 2018

Sajian Progressive Rock-Keroncong di Societet Militer Yogyakarta

Sajian Progressive Rock-Keroncong di Societet Militer Yogyakarta
Penampilan grup musik beraliran progressive rock asal Belanda Blaudzun di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Selasa (30/1) malam. (Foto-foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)
Sajian Progressive Rock-Keroncong di Societet Militer Yogyakarta
Penampilan kolaborasi Blaudzun dengan orkes Kroncongan Agawe Santosa.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tiga belas lagu progressive rock dituntaskan oleh grup asal Belanda Blaudzun dari beberapa albumnya Selasa (30/1) malam di Gedung Societet Militer - Taman Budaya Yogyakarta.

Penampilan grup musik Blaudzun yang dimotori Johannes Sigmond sebagai lead vocal tampil bersama enam personilnya termasuk Johannes dibuka oleh direktur Erasmus Huis, Michael Rauner dengan memberikan sedikit penjelasan tentang rencana pementasan Blaudzun di beberapa kota di Indonesia serta latar belakang Johannes dan Jakob yang memiliki kakek-nenek yang lahir di Hindia Belanda (Indonesia).

Orkes keroncong asal Yogyakarta yang telah berusia sepuluh tahun dan kerap memberikan eduasi-workshop maupun mengiringi penyanyi-musisi keroncong lainnya, Kroncongan Agawe Santosa, membuka panggung dengan membawakan dua lagu instrumentalia "Di Tepinya Sungai Serayu", dan "Rangkaian Melati" dalam format keroncong standar.

Mengawali penampilannya, Blaudzun membawakan lagu berjudul "Euphoria" dari album  Promises of No Man’s Land (2014) dilanjutkan dengan lagu-lagu lainnya seperti "Powder Blue", "Too Many Hopes for July", "Promises Of No Man's Land". Dari genre lagu yang dimainkan Blaudzun, ada kemiripan dengan lagu-lagu dari grup musik U2 ataupun Meat Loaf. Beberapa bagian lagu "Too Many Hopes for July" memiliki nada yang hampir sama dengan I'd Do Anything For Love (But I Won't Do That)-Meat Loaf. Begitupun saat Tom Swart memainkan harmonika dan Franc Timmerman memainkan instrumen marimba akan mengingatkan pada permainan akustik grup musik The Corrs. Bisa dipahami mereka mengawali bermusik dan besar dalam era 1990-an dimana musik progressive rock berkembang pesat pada masa itu dengan sentuhan folksong.

Setelah menuntaskan enam lagu, Blaudzun mengajak Kroncongan Agawe Santosa untuk berkolaborasi memainkan lagunya. Diawali dengan pengarep biola dan flute, satu lagu dibawakan dalam komposisi permainan keroncong dan progressive rock secara bergantian, sementara pada lagu "Midnight Room" baik Blaudzun maupun Kroncongan Agawe Santosa memainkan komposisi lagu secara bersamaan. Tempo lagu tidak berubah dari aslinya, justru adanya "genjrengan" cak-cuk, permainan flute, serta cello semakin memperkaya lagu "Midnight Room" dalam sentuhan keroncong tanpa kehilangan warna rock-nya.

Pada tiga lagu terakhir salah satunya berjudul "Rotterdam", Blaudzun mengajak penonton untuk maju ke depan panggung dan bergoyang mengikuti irama yang dimainkan.

Rabu (31/1) malam Blaudzun melanjutkan pementasannya di Taman Budaya Jawa Tengah, Jalan Ir. Sutami No. 1 Surakarta.

 
UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home