Google+
Loading...
TOPIK PILIHAN
Penulis: Tjhia Yen Nie 05:43 WIB | Rabu, 11 Oktober 2017

Sakitnya Cuma Seizin Kita

Apa yang kita lakukan adalah refleksi dari hidup keimanan kita.
Tetap berkembang (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Kuncinya, kamu jangan terpengaruh dan terbawa emosi dengan hal yang dikisahkannya.  Dia mungkin bisa menceritakan bagaimana dia kaya raya, mempunyai harta melimpah, atau dia mempunyai jet pribadi, untuk membandingkan kamu tidak selevel dengan dirinya. Tapi, kalau semua yang disombongkannya tidak diizinkan kamu untuk melukai kamu, dia tidak dapat melukai kamu.”   Kalimat ini dikatakan seorang kawan ketika saya berkeluh kesah kepadanya, menghadapi orang yang nyinyir kepada saya.

Menahan diri untuk tidak membalas.  Itu adalah respons yang saya lakukan. Tetapi, suasana hati saya menjadi tidak nyaman setiap teringat hal tersebut. Namun, setelah menerapkan apa yang disarankan kawan saya, saya merasa kebal setiap berjumpa dengannya.  ”Apa pun yang kamu katakan tidak dapat merendahkan atau melukai diri saya,” kata saya dalam hati,”karena semua perkataanmu tidak ada artinya bagi saya.”  Dan ternyata memang itulah kenyataannya. Senyinyir apa pun yang dikatakannya, itu hanyalah angin lalu yang tidak berdampak nyata. 

Beberapa hari ini telinga kita kembali mendengar berita tentang seseorang yang mengatakan bahwa hanya satu agama yang dianutnya sajalah yang sesuai dengan Pancasila, sedangkan tidak untuk yang lain, karena itu harus dibubarkan.  Bagaimanakah respons kita?

Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.  Dapatkah kita memperdebatkan iman kita kepada orang yang tidak memiliki iman yang sama?

Saya jadi teringat perkataan teman saya: ”Apa pun yang dikatakan seseorang tidak dapat melukai diri kamu, kalau kamu tidak mengizinkan itu terjadi!” Apakah kita harus memperdebatkan iman kita kepada seseorang yang tidak memiliki iman yang sama dengan kita? Bukankah iman itu adalah anugerah semata?

Jadi, apakah perkataan dari seseorang yang tidak mendapatkan anugerah iman itu dapat menjadi barometer yang menghitamputihkan kebenaran iman seseorang? 

Tentu menjadi pilihan kita masing-masing untuk berespons.  Dan apa pun respons itu, hendaklah kita bijak. Apa yang kita lakukan adalah refleksi dari hidup keimanan kita.  Tidak ada satu hal pun yang dapat menyakiti kita, jika kita tidak mengizinkan itu terjadi.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

 

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home