Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 16:27 WIB | Jumat, 15 Juni 2018

Santri di Pesantren Lirboyo, Ramadan Artinya Puasa dan Belajar Intensif

Ilustrasi. Para santri berbuka puasa pada bulan Ramadan di Pesantren Lirboyo di Kediri, 24 Mei 2018. (Foto: Voaindonesia.com)

KEDIRI, SATUHARAPAN.COM – Bagi beberapa santri di salah satu pesantren tertua di Indonesia, bulan suci Ramadan tidak hanya puasa dari pagi hingga petang, tapi juga mengkaji Alquran dengan intensif.

Pesantren Lirboyo yang didirikan pada tahun 1910 di Provinsi Jawa Timur menganjurkan 21.000 santrinya agar memaksimalkan bulan suci Ramadan untuk mempelajari kajian agama Islam dengan intensif.

Ketua pesantren, Ahmad Zulfa Sholeh, mengatakan pesantrennya menolak ajaran radikal, dan fokus menafsirkan Alquran untuk pembangunan karakter yang baik.

"Kita tidak setuju dengan pandangan radikal karena masyarakat Muslim harus menghindari pertikaian dengan agama-agama lain. Justru kita harus menjaga mereka," katanya.

Bulan lalu, rangkaian bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga, termasuk anak-anak, telah membunuh setidaknya 30 orang.

Mereka memandan kejadian itu sebagai serangan agresif terburuk sejak Bom Bali pada tahun 2015, dan ini terjadi di sebuah lokasi yang hanya berjarak dua jam dari sebuah pesantren di kota Surabaya.

Para santri menyatakan kepada Reuters bahwa pesantren mereka menekankan ajaran toleransi, menghargai adat lokal dan perdamaian.

Pesantren ini merupakan salah satu dari 28.000 pesantren di Indonesia. Lirboyo dioperasikan oleh organisasi Islam moderat yang terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama.

Meskipun kajian-kajiannya diajarkan dalam bahasa Jawa, para santri juga mempelajari bahasa Arab dan bagaimana menerjemahkan teks-teks kajian Islam.

Para santri membayar Rp 35.000 untuk ikut kajian Alquran selama bulan Ramadan, dan mereka harus memasak makanan mereka dan mencuci pakaian mereka sendiri.

Ahmad Jauhari, santri remaja yang berasal dari Provinsi Kalimantan Barat, telah belajar di pesantren itu selama sembilan tahun dan merasakan bahwa kajian keagamaan intensif ini menyenangkan dan menyejukkan.

"Bagi saya, puasa itu mudah, jika hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum. Yang sulit adalah tidak terlalu banyak bermain, menggunakan telepon genggam, atau pacaran," katanya. (Voaindonesia.com)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home