Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 05:59 WIB | Selasa, 10 Januari 2017

Sarapan Jazz, Bangun Tidur Kuterus nge-Jazz

Ilustrasi. Poster Sarapan Jazz 2017 di Pantai Watu Kodok, Desa Ngestirejo Kecamatan Tanjungsari Gunungkidul 17-18 Januari 2017. (Foto: Jazz Mben Senen)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Setelah melewati lebih 300 episode yang dihelat setiap Senin malam tanpa putus, menginjak usia yang ketujuh komunitas Jazz Mben Senen akan menggelar acara Sarapan Jazz 2017 di Pantai Watu Kodok, Desa Ngestirejo Kecamatan Tanjungsari Gunungkidul 17-18 Januari 2017.

Event “Sarapan Jazz” akan diselenggarakan dalam konsep bincang santai (talkshow), perform berbagai musisi/kelompok band beraliran jazz, Re-launching Album Kompilasi Ngayogjazz 2016, serta perayaan hari jadi Jazz Mben Senen bertepatan pada tanggal 18 Januari yang merupakan episode ke-331 sejak pertama kali Jazz Mben Senen digelar.

“Sarapan Jazz” akan dimeriahkan musisi jazz antara lain Danny Eriawan Project, Djaduk Ferianto, Tricotado, Lani~Frau, the Everyday Band, Diwa Hutomo, Anggrian Hidha, Komunitas Jazz Etawa, Muchichoir, Blackstocking, Bonita and The Hus Band, serta gitaris I Wayan Balawan dipandu Alit Jabang Bayi, Gundhi SOS.

"Sarapan Jazz tahun ini menjadi gelaran pertama kali. Kita berharap (Sarapan Jazz) bisa menjadi acara reguler setiap tahun. Sebenarnya tahun 2011 kita pernah juga menggelar jazz di pantai Indrayanti (Pulang Sawal)," kata Anggrian Hidha, pegiat Jazz Mben Senen dan drummer the Everyday Band) saat ditemui satuharapan.com, hari Senin (9/1) malam pada acara reguler Jazz Mben Senen di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta.

Lebih lanjut Simbah (panggilan Anggrian Hidha ) menjelaskan bahwa Sarapan Jazz adalah upaya menciptakan sarana berkumpulnya para pecinta musik jazz dengan pengalaman yang baru, memberikan tambahan pilihan mengisi musim liburan di Yogyakarta, serta membantu perkembangan pariwisata dan perekonomian di daerah pantai Gunung Kidul.

Keberadaan Jazz Mben Senen di Bentara Budaya Yogya tidak terlepas dari sentuhan tangan dingin Sindhunata (pendiri Bentara Budaya Yogyakarta) biasa dipanggil Romo Sindhu, Djaduk Ferianto (salah satu penggagas Ngayogjazz), koreografer Bambang Paningron, serta Aji Wartono (Warta Jazz).

Cikal bakal Jazz Mben Senen berawal dari Jogja Jazz Club yang melakukan kegiatan jam session musik Jazz di Press Corner Yogyakarta yang sejak tahun 1999 diselenggarakan kegiatan Jazz Gayeng dalam format acara festival tahunan untuk menampung dan mengembangkan musik Jazz di Yogyakarta.

Jazz Mben Senen (JMS) sendiri dimulai dari acara jazz on the street yang diselenggarakan pada awal bulan Maret 2003 namun masih belum terjadwal rutin. Gagasan tersebut diprakarsai oleh Agung Prasetyo (Jogja Jazz Club/pimpinan festival Jazz Gayeng). Tahun 2007, penggemar dan pencinta jazz di Yogyakarta menyelenggarakan Jazz on The Street di Boulevard UGM depan gedung Purna Budaya Yogyakarta. Jazz on The Street mulai dilakukan secara rutin setiap satu bulan sekali pada hari Sabtu minggu pertama setiap bulannya.

Setelah berjalan dua tahun, Jazz on the Street atas prakarsa Romo Sindhu bersama Djaduk Ferianto, Bambang Paningron, Hatta Kawa, Aji Wartono, dan beberapa pencinta jazz di Yogyakarta bersepakat untuk membuat acara jam session rutin seminggu sekali. Dari obrolan yang berkembang, jam session akhirnya disepakati diadakan setiap hari Senin malam di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta. Dari sinilah akhirnya acara tersebut dinamakan "Jazz Mben Senen".

Dengan tagline “Turu Ngejazz tangi Ngejazz”, Sarapan Jazz 2017 dikemas dalam dua sessi perform. Pada sessi pertama tanggal 17 Januari, diawali dengan bincang-bincang santai (talkshow) sesampainya pengunjung di lokasi Pantai Watukodok, dilanjutkan dengan perform beberapa grup/musisi jazz hingga menjelang tengah malam. Acara sessi pertama diakhiri dengan menginap di tenda di sekitar pantai Watu Kodok.

Sessi kedua tanggal 18 Januari diawali dengan jam session mulai pukul 04.30 pagi dilanjutkan dengan perform grup/musisi jazz diselingi Re-launching Album Kompilasi Ngayogjazz 2016.

Guna memfasilitasi para penonton/pengunjung agar lebih praktis, aman, dan nyaman dalam mengikuti jalannya acara, komunitas Jazz Mben Senen menawarkan tiga macam paket tiket yang terdiri dari paket Bus/konsumsi, paket Konsumsi/tenda/bus, paket Konsumsi/tenda. Selain pengelolaan parkir dan penyediaan makanan yang diserahkan kepada warga, penjualan paket sebagian akan didonasikan ke paguyuban warga Pantai Watu Kodok dalam upaya membangun wisata kawasan tersebut.

Melalui “Sarapan Jazz”, Jazz Mben Senen mencoba menciptakan sebuah media dalam penyampaikan karya berbagai musisi lokal dan nasional. Bisa jadi, media berformat acara Sarapan Jazz akan menyuguhkan musik Jazz terpagi di Indonesia. Yang jelas di Jazz Mben Senen dan Sarapan Jazz kita bisa saling ngobrol, berkomunikasi sekaligus belajar mengembangkan kreasi dan kreativitas, sebagaimana pernah disampaikan Romo Shindu: "...di sini kita bisa menghibur diri, melepaskan ketegangan, serta membangun persaudaraan tanpa memandang perbedaan latar belakang."