Google+
Loading...
SMASH AYUB
Penulis: Ayub Yahya 13:10 WIB | Selasa, 20 Februari 2018

Sebuah Awal

Ayub Yahya

SATUHARAPAN.COM - Teman mengajak saya menulis reguler di sini. “Tulisan pendek, ringan, santai, tapi juga menggigit.” katanya. Tentang apa saja; politik, agama, sosial, gereja, dll. “Tapi harus komit, loh. Seminggu sekali pada hari yang sama,” begitu syaratnya. Komitmen menulis reguler, bagi saya, selain sebuah beban, juga berkat. 

 

Beban….

Karena berarti saya harus “ketiban kerjaan” baru. Kalau kerjaannya tidak harus mikir sih enak. Bisa sekalian jadi selingan. Tapi menulis? Bukan hanya harus mikir (menyemai dan mengolah ide, lalu menuangkan jadi tulisan), bahkan juga “menguras jiwa”. 

Apalagi bagi saya yang cenderung perfeksionis kalau menulis. Kadang memilih satu kata yang “dirasa klop” saja bisa sampai harus duduk-berdiri-jongkok berulang kali. Makanya saya paling enggan baca-baca lagi tulisan sendiri, habis selalu ada kurangnya; (hampir) tidak pernah merasa puas.

 

Berkat…

Karena berarti saya punya pendorong untuk menjadi lebih “produktif”. Orang itu ‘kan biasanya bisa kalau harus. Di dalam keharusan di situ ada kekuatan. “Tempatkan dirimu pada posisi harus. Lalu melangkahlah. Dan bertekun. Maka semesta akan mendukungmu.” Begitu kira-kira rumusnya. 

Konon dalam keadaan biasa orang hanya memakai sebagian kecil potensinya. Supaya potensinya “naik” perlu ada sesuatu yang bisa “nge-push”. Contoh orang yang dikejar anjing; saking takut, kemampuan lari atau loncatnya bisa berkali lipat dari biasanya. Atau mahasiswa yang dikejar drop out, bisa punya energi tambahan untuk ngebut menulis skripsi.

Setiap kali memimpin training menulis, kerap saya bertemu dengan orang yang ingin menulis buku, tapi tidak pernah kesampaian. Mengapa? Biasanya karena cuma ingin, tidak menjadikannya sebagai keharusan. Apalagi kalau keinginan itu ditambah juga dengan prinsip mengalir. Jadinya ya, mengalir sampai jauhhhh…. sekali. 

 

Itulah sebabnya….

Ketika teman yang mengajak menulis itu menutup obrolan dengan pertanyaan: “Berani terima tantangan?!” Setelah menimbang sebentar saya jawab, “Siapa takut…!!” Walau dalam hati sih kebat-kebit juga. Lha, dengan yang sudah ada sekarang saja masih suka keteteran, ini masih mau ditambah lagi. “Eeeii, di masa lalu kamu pernah komit bikin tiga tulisan dalam seminggu. Toh bisa.” Itu kata suara lain dalam hati saya.

Dari situlah semua ini berawal…...!!!

 

Editor: Tjhia Yen Nie

 

Back to Home