Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 07:31 WIB | Sabtu, 15 Agustus 2020

Sejumlah Negara Sambut Perdamaian Israel dan UEA

Turki da Iran kecam kesepkatan itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri) dan Putra Mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed. (Foto: dok. AFP)

SATUHARAPAN.COM-Sejumlah negara menyuarakan harapan bahwa kesepakatan perdamaian bersejarah antara UEA dan Israel dapat memulai pembicaraan perdamaian di Timur Tengah yang hampir mati, bahkan ketika Palestina dan pendukung mereka mengecam langkah untuk menormalisasi hubungan itu sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan mereka.

Perjanjian tersebut, yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis, hanyalah perjanjian ketiga yang dicapai Israel dengan negara Arab, dan meningkatkan prospek kesepakatan serupa dengan negara-negara Teluk lainnya.

Di dalam kesepakan, Israel berjanji untuk menangguhkan rencana aneksasi tanah Palestina, sebuah konsesi yang disambut oleh negara-negara Eropa dan beberapa pemerintah Arab yang pro Barat sebagai dorongan untuk harapan perdamaian.

Tetapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menekankan bahwa kesepakatan itu tidak berarti Israel meninggalkan rencananya suatu hari nanti untuk mencaplok Lembah Yordania dan permukiman Yahudi di seluruh Tepi Barat yang diduduki.

Presiden AS, Donald Trump, menyebutkan hal itu "terobosan besar" dan "Perjanjian Perdamaian Bersejarah antara dua teman besar kita."

Dia mengatakan para pemimpin dari kedua negara akan menandatangani kesepakatan di Gedung Putih dalam waktu sekitar tiga pekan, membangkitkan ingatan tentang penandatanganan perdamaian Timur Tengah sebelumnya di Washington.

Membangun hubungan diplomatik antara Israel dan sekutu Washington di Timur Tengah, termasuk monarki Teluk yang kaya minyak, telah menjadi inti dari strategi regional Trump untuk menahan Iran, yang juga musuh bebuyutan Israel.

Kemarahan Palestina

Netanyahu memuji kesepakatan itu "hari bersejarah" yang katanya akan meluncurkan "era baru" bagi dunia Arab dan Israel. Namun Palestina dengan keras menolak kesepakatan itu, menyebutnya sebagai "pengkhianatan" terhadap perjuangan mereka, termasuk klaim mereka atas Yerusalem sebagai ibu kota negara masa depan mereka. Mereka juga mengumumkan penarikan duta besar mereka dari UEA, dan menuntut pertemuan darurat Liga Arab.

Mengumumkan kesepakatan itu dalam pernyataan bersama, Trump, Netanyahu dan pemimpin UEA ,Sheikh Mohamed bin Zayed Al-Nahyan, mengatakan bahwa mereka telah "menyetujui normalisasi penuh hubungan antara Israel dan Uni Emirat Arab".

Mereka menambahkan bahwa Israel akan "menangguhkan deklarasi kedaulatan" atas wilayah Tepi Barat Palestina yang diduduki, sebuah gagasan yang diusulkan dalam rencana kontroversial Trump sebelumnya untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Sheikh Mohamed dengan cepat menekankan dalam tweet bahwa "selama panggilan dengan Presiden Trump dan Perdana Menteri Netanyahu, kesepakatan dicapai untuk menghentikan pencaplokan Israel lebih lanjut atas wilayah Palestina".

Tapi Netanyahu mengatakan tak lama kemudian dalam pidatonya di televisi bahwa dia hanya setuju untuk menunda, bukan membatalkan, pencaplokan, bahwa rencana itu tetap "di atas meja" dan bahwa dia tidak akan "pernah menyerahkan hak kami atas tanah kami".

Di antara sekutu AS lainnya di Teluk, Bahrain dan Oman mengeluarkan pernyataan yang mendukung kesepakatan normalisasi itu. Tetapi tidak ada kabar segera dari pemimpin Arab Saudi, yang kemungkinan akan berhati-hati, karena melibatkan perhitungan politik yang rumit.

Soal Aneksasi

Rencana kontroversial Trump, yang diluncurkan pada Januari, telah menawarkan jalan bagi Israel untuk aneksasi Lembah Jordan dan pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang diduduki, komunitas yang dianggap ilegal menurut hukum internasional. Palestina langsung menolak rencana itu, karena bias dan tidak dapat dipertahankan, dan itu memicu kekhawatiran eskalasi lebih lanjut di wilayah yang tegang.

Sekjen PBB, Antonio Guterres, mengatakan dia berharap penangguhan aneksasi Israel berdasarkan rencana tersebut dapat membantu mewujudkan solusi dua negara dengan Palestina.

Aneksasi akan "secara efektif menutup pintu" pada negosiasi antara para pemimpin Israel dan Palestina dan "menghancurkan prospek" sebuah negara Palestina yang layak, katanya.

Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi dari Mesir, negara yang menandatangani perjanjian dengan Israel pada tahun1979, dan beroposisi dengan seluruh dunia Arab, memuji kesepakatan tentang "penghentian pencaplokan Israel atas tanah Palestina," dan mengatakan dia berharap itu akan membawa "perdamaian" .

Sikap Sekutu AS di Eropa.

"Keputusan yang diambil dalam kerangka (perjanjian damai) ini oleh otoritas Israel untuk menangguhkan pencaplokan wilayah Palestina adalah langkah positif, yang harus menjadi langkah definitif," kata Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian.

Sementara itu Iran dan Turki, keduanya pendukung Hamas, kelompok Islamis Palestina yang mengontrol Jalur Gaza, mengecam tindakan itu sebagai "pengkhianatan" oleh UEA.

“Sementara mengkhianati perjuangan Palestina untuk melayani kepentingannya yang sempit, UEA mencoba menampilkan ini sebagai semacam tindakan pengorbanan diri untuk Palestina," kata kementerian luar negeri Turki.

Kementerian luar negeri Iran mengatakan Palestina "tidak akan pernah memaafkan normalisasi hubungan dengan rezim kriminal pendudukan Israel."

Kesepakatan itu menandai pencapaian kebijakan luar negeri utama bagi Trump saat ia menuju kampanye yang sulit untuk pemilihan kembali pada November. Penantangnya dari Partai Demokrat untuk kursi kepresidenan, Joe Biden, menyambut baik perjanjian "bersejarah" dan menyebut langkah UEA sebagai "tindakan kenegarawanan yang sangat dibutuhkan". (AFP)

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home