Loading...
OPINI
Penulis: Riduan Situmorang 00:00 WIB | Kamis, 06 Oktober 2016

Sekolah Berkebudayaan

Gagasan sekolah seharian rupanya terus bergulir. Bahkan Presiden Jokowi mencanangkan akan mengujicoba gagasan itu. Dan salah satunya ide untuk mengundang para budayawan terlibat di dalamnya. Apa yang mendasari pikiran itu?

SATUHARAPAN.COM - Isu sekolah seharian ternyata bukan hanya wacana. Pemerintah masih mencari rumusan yang tepat dengan isu ini. Berbagai masukan pemikiran sudah mulai digali. Salah satunya yang menarik bagi saya adalah adanya usul agar budayawan/seniman/penyair diundang ke sekolah. Dasar berpikirnya adalah agar siswa dapat mengembangkan daya imajinasinya. Sebab, kita tahu, budayawan/seniman/penyair sangat dekat dengan kegiatan literasi. Mereka ini bahkan boleh disebut hidup dari kegiatan literasi.

Dasar berpikir ini dipijakkan pada asa revolusi mental. Bahwa yang perlu dibangun saat ini adalah mental. Tak cukup lagi semata berevolusi dengan fisik. Ini kemudian dijangkarkan pada lagu kebangsaan kita, yaitu bahwa yang harus dibangun lebih dahulu adalah jiwa, lalu raga. Jiwa adalah napas bagi tubuh. Tubuh tak akan berdaya apa-apa jika tanpa napas. Jiwa harus dihidupkan. Akan tetapi, meski saling bertautan, membangun jiwa dan raga tak sama. Jika raga hanya perlu dilatih, jiwa justru sebaliknya.

Jiwa harus diinspirasi. Mengisi jiwa tak seperti bagaimana kita mengisi gelas kosong. Sebab, jiwa bukan gelas yang kosong. Jika diibaratkan dengan analogi petani dengan sawahnya, maka jiwa adalah benihnya. Petani tentu saja tak akan bisa mengubah benih padi menjadi benih jagung. Petani hanya bisa memaksimalkan agar benih padi itu berbuah banyak. Petani hanya bisa menyingkirkan ilalang-ilalang yang tumbuh di sekitar padi. Mungkin, mencerabut akar ilalang itu akan pula melukai akar padi.

Formula yang Tepat
Akan tetapi, membiarkan ilalang agar akar padi tak terluka sama sekali bukan pilihan yang baik. Nah, di sinilah dibutuhkan kontur tanah yang lentur agar akar ilalang itu tak mencengkeram akar padi. Di sinilah dibutuhkan tangan petani yang kreatif agar sawah menjadi atmosfer yang baik. Petani itu adalah guru. Guru yang baik tentu akan mencari mitra dari berbagai tempat. Mitra itu adalah masyarakat. Bisa jadi mereka adalah budayawan/seniman/penyair.

Dengan mitra itulah kita dapat mencari formula yang tepat bagaimana mengolah sawah agar bisa ditumbuhi benih dengan subur. Sebab, mitra itulah yang tahu bagaimana keadaan sekitar. Sebaik-baik benih adalah benih yang membuahkan hasil. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan manfaat. Siswa dididik bukan untuk menjauhi kehidupan, tetapi untuk mendekatkannya pada kehidupan. Jadi, mengekang siswa di sekolah dengan asumsi bahwa pembelajaran hanya akan berhasil di gedung sekolah adalah sebuah kesalahan besar.

Apalagi kalau mengekangnya sampai seharian! Justru, pada titik paling ekstremnya, gedung sekolah malah mengekang siswa. Gedung sekolah ibarat ruang penjara di mana guru adalah sipirnya. Makanan di ruang penjara tentu sangat terbatas. Itu-itu saja menunya setiap hari. Tak bisa dimungkiri bahwa beginilah deskripsi sekolah kita saat ini. Asupan makanannya selalu pembelajaran dan pembelajaran. Yang menyuguhkan makanannya pun selalu itu-itu saja, bahkan dengan piring, meja, dan kursi yang sama.

Sebagai hasilnya, acara makan siang pun—jika sekolah boleh diibaratkan makan siang—menjadi acara yang paling membosankan. Sekolah yang digadang menjadi mesin pencetak karakter pun berubah menjadi mesin penjagal karakter. Siswa menjadi bosan ke sekolah, bahkan muak. Lalu, bagaimana kalau pada akhirnya sekolah itu menjadi benar-benar seharian? Apakah akan semakin membosankan? Jika berpijak pada kondisi kekinian di sekolah, tentu saja kita bisa mengklaim bahwa sekolah akan semakin membosankan.

Akan tetapi, jika kita melihat lagi cara-cara yang mulai digadang-gadang, seperti niat Mendikbud mengundang para pegiat literasi ke sekolah, tentu ada optimisme yang bisa kita harapkan. Apalagi, pada kondisi kekinian, meski gurunya sudah bertahun-tahun dilatih, prestasi persekolahan kita di dunia masih rendah. Karena itu, mengaharapkan guru dengan gedung sekolahnya bukan lagi jawaban tunggal. Perlu “guru-guru” yang lain. Perlu “gedung-gedung” sekolah lain. Perlu suplemen sebagai penambah asupan makanan.

Perlu Cara Baru
Ini sangat beralasan karena kalau mengekor pada hasil tes PIAAC atau Programme for the International Assessment of Adult Competencies (digunakan untuk melihat tingkat kecakapan orang dewasa) terbaru yang dilakukan OECD, di sana akan tersajikan bahwa betapa kualitas pendidikan kita sangat buruk. 

Indonesia terpuruk di bawah, hampir di semua jenis kompetensi yang diujikan, seperti literasi, numerasi, problem solving. Sebagaimana dikutip Victoria Vanggidae (Kompas, 02/09/2016) lebih dari separuh responden Indonesia mendapatkan skor kurang dari level 1 (kategori pencapaian paling bawah) dalam hal kemampuan literasi. Indonesia selalu memiliki proporsi paling besar di level <1 di antara 34 negara yang disurvei.

Ini berlaku di semua kategori umur (16-24 tahun sampai 55-65 tahun) dan di semua tingkat pendidikan (SMP ke bawah sampai perguruan tinggi). Di ranah “adikan” PIAAC, yaitu PISA, kita juga hampir terpuruk dan terburuk. Bahkan, kita disebut-sebut sebagai “orang bodoh, tapi bahagia” (Pisani, 2013). Dengan kata lain, baik generasi muda maupun generasi tua kita kini sangat memprihantinkan. Dengan kata lain pula, kita tak bisa mengagungkan salah satu dari keduanya karena, toh, keduanya mendapat peringkat yang sama buruknya.

Karena itulah, saya menyambut baik ide Mendikbud yang akan mengintegrasikan pendidikan dengan masyarakat, seperti dengan mengundang para budayawan. Saya membaca ini sebagai adanya niat konkret dari Mendikbud untuk menumbuhkan karakter dan budaya. Saya juga membaca bahwa dengan ini, manusia Indonesia bukan lagi dicetak untuk bekerja, tetapi berkarya. Karena itu, sekolah adalah ruang untuk berinspirasi, bukan sebagai alat atau mesin pencetak manusia-manusia dengan tipikal pekerja. Semoga ide ini segera terlaksana agar setidaknya peringkat literasi kita tak lagi buruk.

Bagaimanapun, budaya literasi akan melahirkan karakter. David C. McClelland, psikolog sosial asal Amerika, yang pernah meneliti masalah-masalah literasi dan pembangunan telah membuktikan itu. Bahwa ada pengaruh positif literasi terhadap pembangunan (karakter). Dan memang, ide ini mendesak untuk segera dieksekusi. Sebab, kalau melihat data-data dari survei di atas (tak adanya perbedaan yang signifikan antara yang muda dan tua) telah membuktikan kepada kita bahwa selama ini pendidikan kita sudah salah urus. Perlu gebarakan baru dan cara berbeda agar sekolah tak salah urus lagi dan tak hanya menyentuh revolusi fisik, tetapi juga jiwa. 

Semoga! 

Penulis adalah pegiat Literasi di PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) dan Toba Writers Forum (TWF) 

Editor : Trisno S Sutanto


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home