Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 19:22 WIB | Kamis, 10 Januari 2019

Selampah Laku IBM Dharma Palguna

IBM Dharma Palguna. (Foto: Bentara Budaya Bali)

GIANYAR, SATUHARAPAN.COM - Bentara Budaya Bali (BBB) kali ini mengetengahkan sebuah Dialog Budaya, membincangkan peran intelektual dan pandangan kebudayaan Ida Bagus Made Dharma Palguna secara holistik. Acara berlangsung pada Jumat (11/01), di Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Sukawati Gianyar, Bali. 

Tajuk dialog adalah “Selampah Laku”,  merujuk karya budayawan mumpuni Bali, Ida Pedanda Made Sidemen (1858-1984), yang juga menjadi guru batin dari IBM Dharma Palguna. Sebagai narasumber yakni sahabat IBM Dharma Palguna, Dr. I Dewa Gede Palguna, dan “murid”-nya yang juga sastrawan Bali, I Gede Agus Darma Putra. 

Keduanya akan menelisik buah perenungan IBM Dharma Palguna seraya menautkannya dengan fenomena kekinian yang bias antara dunia maya dan dunia nyata, sebagai akibat hadirnya era digitalisasi.  

Dialog dimaknai pula penampilan musikalisasi dan pembacaan puisi oleh Ida Ayu Dampaty dan Gus Saka dari  Laboratorium Studi Teater , serta Kelompok Sekali Pentas. 

IBM Dharma Palguna, akrab dipanggil Gus Pal, dilahirkan di Tabanan, Bali, 10 Januari 1962, menuju alam sunya (meninggal) pada 27 Oktober 2017 di Mataram. Di Pelebon pada tanggal 10 Desember 2017. Ngenteg Linggih 13 Desember 2017 di Pakubwan Watulumbang, Sweta, Mataram-Lombok.

“Dalam hidupnya yang relatif singkat itu (1962-2017), Gus Palguna telah mewariskan kekayaan intelektual yang sangat sulit dan jarang dapat diberikan oleh intelektual Bali seusianya. Dengan perantaraan pena tajam yang tersurat dalam tulisan-tulisannya, Gus Palguna telah memberi terang perihal hakikat hidup manusia dalam “pertualangannya” dari dan kembali ke Asal, menurut cara pandang manusia Bali-Hindu, tanpa menggurui, tanpa menghakimi,” ungkap Dewa Gede Palguna.

Sedini masa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Udayana, IBM Dharma Palguna, terdepankan sebagai sosok yang kritis dengan pemikiran-pemikiran yang lintas batas dan cemerlang. Tulisan-tulisannya di Bali Post kala itu (pertengahan 1980-an) merujuk sosok Sakuni, tidak hanya jenaka tapi juga mengandung ironi pada kenyataan sosial kultural Bali. Tidak heran bila skripsinya menyoal Roman “Bumi Manusia” dan sosok Pramoedya Ananta Toer, sesuatu yang masih tabu bahkan terlarang semasa Orde Baru tersebut. 

Dewa Gede Palguna, yang bersahabat erat dengan IBM Dharma Palguna, mengungkapkan bahwa ia tidak tahu mengapa Gus Palguna memilih Sakuni, figur licik dan culas dalam itihasa Mahabharata itu, sebagai “juru bicara” buah pikirannya. Karakter tokoh Sakuni “versi” Post Kampus-nya Gus Palguna lebih merupakan sosok yang merepresentasikan karakter jahil namun kritis.

Ketertarikannya pada sastra Jawa Kuno dan klasik Bali mengantarnya melanjutkan kuliah S-2 dan S-3 hingga postdoctoral di Faculteit der Letteren, Rijksuniversiteit Leiden. Selama kelana budayanya di Belanda dan benua Eropa tersebut serta negara-negara di benua lain membuahkan banyak buku. 

Karya-karya tersebut menggambarkan penjelajahan kreatif IBM Dharma Palguna dan perenungan yang mendalam terhadap kehidupan berikut dinamika sosial budaya yang lintas zaman, serta menceminkan penghayatannya yang tinggi dan tekun pada  spiritualitas. Karya-karyanya bukan hanya catatan kebudayaan serta sikap kritisnya pada kenyataan sosial yang penuh paradoks akibat kehadiran globalisasi dalam masyarakat Timur, khususnya Bali, melainkan juga karya-karya berupa kumpulan puisi : Lawat-Lawat Suwung (1995) serta novel Shintany Rabbhana (2009).

Karya-karyanya yang lain diantaranya : Shiwaratri Dalam Padma Purana [1997], Ida Padanda Ngurah: Pengarang Besar Bali Abad ke-19 [1998], Dharma Sunya: Memuja dan Meneliti Shiwa [Ph.D Thesis, 1999], Cara Mpu Monaguna Memuja Shiwa [2000], Pedofilia dan Tindak Kekerasan Lainnya [2005], Bom Teroris dan Bom Sosial, Narasi dari Balik Harmoni Bali [2006], Dewa Manusia Raksasa [2007], Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran [2007], Tiga Anak Pembual dan Cerita Terpilih Lainnya [2008], Kala : Waktu dan Kematian, Pengantar Mati Cara Bali, Buku Kesatu [2008], Sumanasantaka, Pengantar Mati Cara Bali, Buku Kedua [2008], Leksikon Hindu [ 2008, 2011]. 

Juga buku Lumut-Lumut Watulumbang [2011], Sekar Ura [2012], Dharma Shunya, Memuja dan Meneliti Shiwa, Edisi Baru [2014]; “Bhisma Parwa Jawa Kuno. Terjemahan” [2014].“Perempuan Shakti. Kumpulan Esai” [2014]; “Homa Dhyatmika.. Terjemahan” [2014]; “Watulumbang Watumadeg. Buku I” [2014]; “Watulumbang Watumadeg. Buku II” [2014]. “Shastra Wangsa, Ensiklopedia Wangsa Bali” [2015, 2018], Kamus Istilah Anatomi Mistis Hindu [2015], Manusia Tattwa [2018].  

IBM Dharma Palguna aktif melakukan penelitan dan kajian terhadap persoalan-persoalan  yang mengemuka di masyarakat, menggambarkan kepeduliannya yang tinggi pada ketidakadilan serta ketimpangan sosial. (PR)

 

Back to Home