Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 06:28 WIB | Jumat, 21 Agustus 2020

Sembilan Orang Tewas dalam Bentrokan Pasukan Keamanan dan Demonstran di Ethiopia

Massa protes di Oromiya, Ethiopia, hari Selasa (18/8). (Foto: Anadolu)

ADIS ABABA, SATUHARAPAN.COM-Bentrokan antara pasukan keamanan Ethiopia dan pengunjuk rasa yang menuntut pembebasan seorang politisi oposisi dan seorang raja media telah menewaskan sedikitnya sembilan orang di wilayah Oromiya di sekitar ibu kota, kata pejabat kesehatan pada hari Kamis (20/8).

Kerusuhan tersebut menyoroti perpecahan yang berkembang di basis kekuatan Perdana Menteri Abiy Ahmed di Oromo, ketika aktivis etnis yang kuat yang pernah menjadi sekutunya semakin menantang pemerintahnya.

Protes dimulai pada hari Selasa (18/8) setelah kampanye media sosial untuk pembebasan pemimpin oposisi Oromo terkemuka, Bekele Gerba, dan maestro media, Jawar Mohammed, keduanya ditangkap beberapa hari setelah pembunuhan penyanyi ikonik Oromo, Hacalu Hundesa.

Jawar yang dulunya adalah pendukung setia Abiy kini menjadi kritikus vokal, sementara Bekele adalah pemimpin partai politik oposisi Oromo. Kematian penyanyi itu memicu protes di ibu kota Addis Ababa dan menyebar ke sekitar wilayah Oromiya, menewaskan sedikitnya 178 orang.

Rumah sakit Hiwot Fana dan Jegol di wilayah Harar menerima 32 orang dengan luka tembak pada hari Selasa, sebagian besar dari kota Aweday di Oromiya, dua dokter mengatakan kepada Reuters dengan syarat tidak disebutkan namanya.

Enam dari yang terluka meninggal dan satu dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Hiwot Fana, kata seorang dokter di rumah sakit tersebut. "Mereka ditembak di kepala, dada, dan perut," kata dokter dari Rumah Sakit Hiwot Fana itu.

Di Ciro, 320 kilometer timur Addis Ababa, 30 orang dilarikan ke rumah sakit, 25 di antaranya dengan luka tembak, kata seorang pejabat kesehatan kepada Reuters. Dua meninggal pada hari Selasa dan yang ketiga pada hari Rabu.

Getachew Balcha, juru bicara pemerintah daerah Oromiya, tidak membalas telepon atau pesan teks yang meminta komentar. Sedangkan Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia yang dikelola negara menyerukan penyelidikan. "Pihak berwenang harus memastikan bahwa hak untuk protes damai dapat dilaksanakan, dan tindakan penegakan hukum terhadap apa pun di luar itu tidak melebihi proporsi," kata juru bicaranya, Aaron Maasho dalam sebuah pernyataan. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home