Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:08 WIB | Sabtu, 08 September 2018

Semua Sama di Mata-Nya

Si Kaya tak perlu tinggi hati dan Si Miskin tak usah rendah diri. Bagaimanapun, keberadaan mereka tak lepas dari campur tangan Allah.
Warna-warni Kasih

SATUHARAPAN.COM – ”Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus.” (Mrk. 7:24). Sang Guru memang gemar bergerak. Dia tidak mau diam. Dia suka berkarya.

Catatan Penginjil Markus memperlihatkan Yesus sebagai pribadi merdeka. Dia bebas bergerak. Dia tidak bergerak menurut kata orang. Bahkan, gerakannya melampaui garis demarkasi yang dibuat orang pada masa itu.

Frasa ”pergi ke daerah Tirus” berarti melangkahkan kaki ke tempat yang dianggap kafir. Itu bukan perkara biasa. Kebanyakan orang Yahudi menganggap diri umat pilihan. Untuk mempertahankan status tersebut, mereka berupaya agar tidak tercemar. Mereka segan bergaul dengan bangsa non-Yahudi. Sekali lagi, takut tercemar.

Yesus berbeda. Guru dari Nazaret itu sengaja menjejakkan kaki-Nya di Tirus. Dia tak takut terkontaminasi, bahkan berkarya di ”wilayah kafir”.

Di mata-Nya semua orang sama: sama-sama ciptaan Allah. Karena itulah, tak seorang pun berhak membeda-bedakan orang. Sikap membeda-bedakan berarti menghina Allah, yang telah menciptakan mereka.

Dalam pandangan tersebut bergema kembali amsal Yahudi: ”Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.” (Ams. 22:2). Dalam BIMK tertera: ”Orang kaya dan orang miskin mempunyai satu hal yang sama: TUHANlah yang menciptakan mereka semua.”

Memang ada beda di antara keduanya. Namun, satu hal tetap sama: semuanya ciptaan Tuhan. Situasi dan kondisi mereka pun tak lepas dari pemeliharaan Tuhan. Oleh karena itu, Si Kaya tak perlu tinggi hati dan Si Miskin tak usah rendah diri. Bagaimanapun, keberadaan mereka tak lepas dari campur tangan Allah.

Persoalannya memang sering di sini. Manusia acap membeda-bedakan orang berdasarkan SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Dengan tajam, kepada kedua belas suku di perantauan, Yakobus tegas menulis: ”janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.” (Yak. 2:1).

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home