Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 04:49 WIB | Sabtu, 16 Februari 2019

Seperti Pohon yang Ditanam di Tepi Air

Berkait dengan manusia, pertanyaannya adalah apakah ia mau mendekati atau malah menjauhi Allah?
Di tepi aliran air (foto: pixabay.com)

SATUHARAPAN.COM – ”Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:8). Demikianlah catatan Yeremia mengenai orang yang mengandalkan Allah. Menarik disimak, meski ditanam di tepi air, pohon itu sendiri merasa perlu merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air. Ada usaha di sini untuk mendekati sumber hidup.

Berkait dengan manusia, pertanyaannya adalah apakah ia mau mendekati atau malah menjauhi Allah?  Apakah manusia mau menjadikan Allah sebagai sumber hidupnya? Dengan kata lain: apakah manusia mau menjadikan Allah sebagai pusat hidupnya?

Menjadikan Allah sebagai pusat hidup sejatinya merupakan tindakan logis karena Allahlah pencipta manusia. Menjauh dari Allah bukanlah tindakan logis karena yang ada hanyalah kematian semata.

Aneh rasanya jika pohon yang ditanam di tepi air menjadi sombong dan tak mau merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air. Itu sama halnya dengan pohon yang berada di tanah tandus atau berada di air asin. Dan hasilnya pasti sama: kematian.

Mendekati Allah, menjadikan Allah sebagai pusat hidup, sejatinya merupakan panggilan Allah terhadap manusia. Bagaimanapun, manusia pada awalnya memang diciptakan untuk bersekutu dan bukan berseteru dengan Allah.

Sesungguhnya pula inilah panggilan bagi setiap manusia, yakni manunggaling kawula Gusti, bersatunya manusia dengan Allah. Bagaimanapun manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Dan tetap bersekutu dengan Allah sejatinya merupakan hal terlogis dalam hidup manusia.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home