Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 07:23 WIB | Sabtu, 21 September 2019

Setialah!

Kepercayaan itu mahal harganya.
Kesucian (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Allah, melalui Amos, mengecam umat Israel karena mereka tak lagi bertindak selaku hamba Allah. Israel bertindak sesuka hati mereka. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri, ”Bukan main lamanya hari-hari perayaan. Kita ingin cepat-cepat menjual lagi gandum kita, tetapi perayaan itu tidak kunjung selesai. Kapankah hari Sabat berakhir, supaya kita dapat mulai berjualan lagi? Kita ingin sekali mencatut, menipu dengan takaran, dan berbuat curang dengan timbangan” (Am. 8:5, BIMK).

Dengan pola pikir semacam itu, apa yang ada dalam pikiran umat Israel jelaslah tidak lagi menghormati Allah. Perayaan-perayaan agama yang dilakukan hanyalah sekadar ritual. Mereka tak lagi menghayati—apalagi menghidupi—perayaan-perayaan keagamaan tersebut.

Mereka ingin semua perayaan itu cepat selesai agar mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai. Mereka tak lagi bertindak jujur. Bahkan dengan lihai mereka membuat orang miskin menjadi budak karena berutang sepasang kasut (lih. Ams. 8:6).

Perilaku umat Israel pada zaman Amos senada dengan perilaku bendahara yang tidak jujur dalam perumpamaan Yesus (Luk. 16:1-9). Sang Tuan dalam perumpamaan itu memang memujinya karena dia mampu mengantisipasi kesulitan yang mungkin dialaminya.

Namun demikian, dia bukan seorang hamba yang baik. Bahkan dalam keadaan terjepit, dia masih bertindak semaunya. Tindakannya itu jelas-jelas merugikan tuannya.

Kedua kisah ini mengingatkan kita untuk menjalani tugas kehambaan kita dengan setia. Kita dipanggil untuk setia terhadap profesi yang kita emban. Sebab profesi berarti kepercayaan.

Dan kepercayaan itu mahal harganya. Kita punya peribahasa: ”Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.” Artinya: sekali kita menganggap remeh kepercayaan orang, saat itulah kita menggali lubang untuk kuburan kita sendiri. Sebab, tak mudah membangun kepercayaan yang telah kita hancurkan sendiri!

Dengan kata lain, menghargai kepercayaan orang sejatinya—kalau mau ditelusuri dengan cermat—untuk kemaslahatan diri diri sendiri. Menghargai kepercayaan orang lain sesungguhnya menghargai diri sendiri. Sebaliknya, menganggap rendah kepercayaan orang lain berarti kita menganggap rendah diri kita sendiri.

Karena itu, nasihat Sang Guru sungguh logis: ”Setialah dalam perkara kecil!” (lih. Luk. 16:10).  

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home