Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 08:08 WIB | Senin, 03 Juni 2019

Si Bodoh, Si Pandai, dan Si Bijak

Si Bodoh menganggap yang baik sebagai buruk dan yang buruk sebagai baik, menyebabkan berbagai masalah. Si Pandai melihat yang baik sebagai baik dan yang buruk sebagai buruk, membawanya kepada pemahaman. Si Bijak tak menilai sesuatu sebagai baik atau buruk, tidak pula memuji maupun mempersalahkan, membawanya kepada tingkat kemanusiaan yang lebih tinggi (Charles Akara)
Menuai kebijakan (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Ada tiga kategori manusia menurut Charles Akara. Ada orang yang memilih menjadi bodoh, ada yang memilih menjadi pandai, dan ada yang memilih menjadi bijak. Bukan inteligen yang membedakan mereka, melainkan pilihan hidup. Cara pandang dalam menjalani kehidupan. Baik itu dalam kehidupan pribadi, pertemanan, bisnis, manajemen, dan banyak lagi.

Charles Akara tampaknya cukup lama merenungkan perihal pilihan cara pandang manusia itu, lalu dikumpulkan hasil perenungannya itu dalam buku kecil, The Foolish, The Clever, The Wise. Saya beruntung menemukan buku itu sewaktu belum lama diterbitkan pada tahun 1999, karena kelihatannya tidak ada terbitan ulang maupun resensi mengenai isi buku tersebut, bahkan mengenai penulisnya. Terbitan aslinya muncul dalam Bahasa Thailand dan sempat diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Buku kecil Akara (mungkin nama samaran) berisi 111 (baca: seratus sebelas) definisi kebodohan, kepandaian, dan kebijakan dilihat dari berbagai segi kehidupan. Mulai dari tujuan hidup, pola pikir, sikap, tujuan kerja, manajemen, kekayaan, daya juang, komitmen, relasi dengan alam, mengatasi masalah, gaya hidup, kekuasaan, sukses, kebenaran sejati, dan lainnya.

Mengapa cara pandang membedakan manusia atas tiga kelompok itu menarik? Karena pembaca akan lebih mudah memahami apa yang ingin dicari dalam membuat pilihan ketika berada pada persimpangan jalan yang tidak mudah.

Ambillah contoh dalam etika berbisnis. Begini kata Akara: si Bodoh dipenuhi keserakahan dalam berbisnis, menyebabkan ketidaknyamanan pelanggannya  yang lalu meninggalkannya. Si Pandai berprinsip azas manfaat. ‘You scratch my back, and I’ll scratch yours’. Ada prinsip untung rugi di sana. Pelanggan akan bersikap hati-hati kepada mereka karena menjaga jangan sampai dimanfaatkan. Si Bijak berorientasi kepada kebaikan layanan, menyebabkan pelanggan merasa nyaman, sekalipun membayar mahal untuk apa yang mereka terima.

Bagaimana dalam hal manajemen? Si Bodoh konon hanya bekerja berdasarkan instruksi, dan karena itu ia akan selamanya menjadi orang suruhan. Si Pandai akan bekerja untuk mencapai tujuan yang jelas, dan karena itu ia akan menjadi eksekutif yang baik. Namun, si Bijak akan bekerja dengan mencari berbagai peluang, dan karena itu ia akan menjadi pemilik usaha.

Lalu mengenai nilai hidup: Si Bodoh menilai sesuatu dari daya tarik fisiknya. Kesenangan sesaat ia peroleh, namun berakhir dengan kekecewaan. Si Pandai menilai segala sesuatu dari kebajikan dan keburukannya, menyebabkan ia berada pada titik ragu terus-menerus. Si Bijak melihat nilai keseluruhannya, sehingga akan menghasilkan segala sesuatu yang optimal.

Menarik juga pengategorian Akara mengenai pilihan orang terhadap komitmen: Si Bodoh tidak berani membuat komitmen, dan menghindari segala tanggung jawab. Ia menjadi orang yang tak dapat diandalkan, bahkan oleh dirinya sendiri. Si Pandai membuat banyak komitmen, sebagian dapat dicapainya, sebagian tidak, yang menyebabkannya kadang dapat dipercaya kadang tidak. Si Bijak akan membuat komitmen dalam kelompok. Anggota kelompok bersinergi satu sama lain untuk mencapai sasaran bersama, sehingga menghasilkan hasil terbaik.

Masalah komitmen ini sangat relevan pada saat ini dalam lingkungan sosial dan berbangsa kita. Dalam keseharian masyarakat akhir akhir ini, sering kita ragu: adakah komitmen yang dijanjikan bisa benar-benar diandalkan? Masyarakat menjadi tidak efektif karena rendahnya komitmen.

Jelaslah Akara membawa pembaca kepada tujuan untuk mencapai kebijakan. Kebodohan hanya berorientasi pada pemenuhan kepuasan diri sendiri, tanpa peduli dampaknya terhadap orang lain. Kepandaian sudah lebih seimbang dalam mencari tujuan pribadi dan dampaknya terhadap orang lain, lebih rasional, namun keseimbangan antara akal dan kearifan belum cukup terasa. Di atas kepandaian ada kebijakan, di mana pertimbangan untung rugi sudah tidak ada, yang ada adalah kebaikan universal. Dan tentunya itu adalah hal yang agung.

Di saat negeri ini dilanda kekacauan nilai akibat kekisruhan politik yang berkepanjangan didukung oleh paham-paham yang ingin memelencengkan arah negara ini, orang butuh pegangan untuk menjadikan diri terbaik. Pada dasarnya tak ada orang yang ingin menjadi orang buruk. Namun, jalan yang dipilih sering kali justru membawanya pada kebodohan. Pegangan yang kokoh dibutuhkan agar hal itu dapat dihindari. Salah satunya dengan membuat pilihan: adakah saya cukup puas menjadi orang bodoh, atau saya ingin menjadi si pandai, atau menjadi si bijak adalah tujuan saya?

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home