Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Addi S. Patriabara 07:11 WIB | Sabtu, 14 Juli 2018

Sihir Sepak Bola

Adakah cara hidup, kerja sama, sportifitas para pemeluk agama menjadi tontonan yang asyik dan menghibur?
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – Sepak bola memang mengasyikkan. Piala dunia yang sedang digelar saat ini adalah saksinya. Ribuan orang menyesaki stadion tempat pertandingan digelar. Ratusan juta mata memandang televisi, kotak ajaib yang mampu mengantar secara live pertandingan demi pertandingan dari Rusia.

Dalam ranah domestik, geliat sepak bola cukup terasa. Banyak keluarga mempersiapkan berbagai fasilitas dan penganan untuk menemani begadang menyaksikan pertandingan sepak bola. Ada juga lingkungan RT atau RW yang mengadakan nonton bareng (nobar) di salah satu rumah warga. Seru dan menyenangkan.

Bisnis telah lama mengendus peluang mendapatkan untung lewat sepak bola. Mulai dari judi, sampai penjualan suvenir terkait dengan sepak bola diperdagangkan di mana-mana. Hotel-hotel sibuk menata diri dengan berbagai pernak-pernik terkait sepak bola. Berbagai tawaran nonton bareng juga dipromosikan dengan berbagai hadiah menawan.

Sepak bola memang luar biasa. Ia menyihir penonton dengan berbagai ”kegilaan”. Model rambut, tato, cat tubuh, teriak kegirangan, tangisan tersedu-sedu, dan banyak lagi yang lain. Boleh dikatakan, sepak bola adalah ”agama” bagi para suporternya.

Tentu tidak semua pertandingan sepak bola menarik perhatian. Sepak bola Indonesia, misalnya, kerap kali tidak menarik untuk disaksikan. Mengapa? Tentu saja banyak jawaban. Keterampilan pemain, ulah penonton, wasit yang kurang profesional, tawuran antarsuporter, dan sebagainya bisa saja menjadi penyebab.

Apa yang membuat sepak bola menarik sehingga orang rela mengeluarkan uang, berlelah-lelah, atau cuti bekerja untuk menyaksikan Piala Dunia? Salah satunya permainannya. Para pemain memeragakan keterampilan, kerja sama, dan sportifitas dalam sepak bola sehingga menjadi tontonan yang asyik dan menghibur.

Di sini agama perlu belajar dari sepak bola. Apakah kiprah para pemeluk agama telah menjadi tontonan yang asyik dan menghibur? Atau malah menghadirkan diri dalam sosok yang angker dan menakutkan? Dalam gambaran Alkitab, hal itulah yang terjadi pada gereja perdana. Penulis Kisah Para Rasul memberi kesimpulan ”mereka disukai semua orang” (Kis. 2:47). Umat perdana telah menghadirkan diri sebagai komunitas yang asyik dan menghibur.

Agar menjadi tontonan yang asyik dan menghibur agama perlu membina umatnya agar mampu memeragakan keterampilan, kerja sama, dan sprotifitas. Pada masanya, boleh dikatakan semua agama pernah menjadi tontonan yang asyik dan menghibur.  Umat yang tengah terpuruk oleh beban hidup seakan menemukan oasis lewat agama. Daya tarik itulah yang membentuk para pengikut yang kadang fanatis. Pada bagian ini, ada keserupaan dengan suporter sepak bola.

Namun, harus diakui, makin lama kemenarikan agama memudar. Yang muncul kemudian adalah berbagai aturan atau dogma yang kadang ketat dan menakutkan. Upaya ”menakut-nakuti” itu dilakukan agar orang tetap setia menghidupi agamanya.

Merefleksikan keadaan itu, almarhum Chrisye pernah dengan gundah mempertanyakan lewat syair lagunya: ”Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud pada-Nya. Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut nama-Nya”.

Pertanyaan Chrisye mengajak pemeluk agama memikirkan ulang hal apa yang dapat mereka lakukan untuk menyedot perhatian banyak orang dengan penuh kegembiraan. Menakut-nakuti umat, bagi Chrisye, bukanlah cara yang dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam sejarahnya, kekristenan pernah berulang kali menyedot perhatian khalayak ramai. Sebutlah Yohanes Chrisostomus  sebagai contoh. Bapa gereja yang disebut Si Mulut Emas itu pernah menarik perhatian warga masyarakat dengan khotbah-khotbahnya. Lewat kiprahnya banyak orang yang lebih gemar menghadiri ibadah untuk mendengarkan khotbah yang dilayani Chrisostomus, daripada menonton pertandingan di stadion.

Belajar dari sepak bola, ada pertanyaan yang perlu direnungkan oleh para penganut agama, apakah kiprah beragama telah semenarik sepak bola? Adakah cara hidup, kerja sama, sportifitas para pemeluk agama menjadi tontonan yang asyik dan menghibur?

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

Back to Home