Loading...
SAINS
Penulis: Wiwin Wirwidya Hendra 14:52 WIB | Kamis, 20 Juni 2013

Singapura Desak Pertanggungjawaban Indonesia atas Masalah Polusi Udara

Polusi kabut asap telah terjadi untuk kesekian kalinya di Singapura akibat kebakaran hutan di Indonesia. Namun kali ini adalah yang terparah sepanjang sejarah. (dok. Guardian)

SINGAPURA, SATUHARAPAN.COM - Kabut polusi asap menyelimuti hampir seluruh kota di Singapura. Asap berbahaya yang mengganggu sistem pernapasan ini merupakan imbas dari kebakaran hutan di Pulau Sumatra, Indonesia.

Merespons hal ini, seperti dilansir BBC, Kementerian Lingkungan Singapura beserta dengan timnya mendesak pemerintah Indonesia untuk segera melakukan tindakan cepat dan konkret.

Pada Rabu (19/6) kemarin, pemerintah Singapura menyatakan bahwa indeks standar polusi (PSI) telah menyentuh level 321, level rekor yang mengalahkan level polusi akibat kebakaran hutan di Indonesia yang pernah berdampak pada Singapura selama ini.

Oleh karena itulah, Kementerian Kesehatan Singapura juga telah memberikan peringatan darurat kesehatan atas hal ini.

Chief Executive Badan Lingkungan Nasional Singapura, Andrew Tan akan segera memimpin delegasi Singapura dalam pertemuan darurat dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia di Jakarta.

Menteri Sumber Daya Air dan Lingkungan Singapura, Dr Vivian Balakrishnan menuliskan pada akun Facebooknya, "Warga Singapura telah kehilangan kesabaran dan kami sudah sangat gusar."

"Tidak ada satupun negara atau bahkan perusahaan yang berhak mengotori udara dan merusak kesehatan warga Singapura," katanya lagi.

Beberapa gedung di Singapura juga telah tertutup oleh kabut asap yang tidak hanya mengganggu jarak pandang tetapi juga berbau tajam yang berasal dari pembakaran kayu.

Perdana Menteri Lee Hsiong Loong telah mengimbau seluruh masyarakat Singapura untuk tetap berada di dalam ruangan dan sebisa mungkin menghindari aktivitas di luar ruangan demi menghindari kerusakan pada pernapasan.

Bahkan, ia juga mengatakan bahwa pasukan militer Singapura juga telah diinstruksikan untuk menunda berbagai kegiatan pelatihan di luar ruangan.

Akibat polusi udara ini, masyarakat Singapura juga banyak yang kekurangan stok pangan karena pusat-pusat perbelanjaan juga terkendala dalam memasok barang-barang mereka.

"Level PSI di atas 200 mengindikasikan kualitas udara yang sangat berbahaya, bayangkan dengan level PSI di atas 300," katanya.

Tidak hanya Singapura yang terdampak polusi udara ini, tetapi juga Malaysia.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan Indonesia mengatakan akan melakukan upaya minimalisasi polusi udara akibat kebakaran hutan ini dengan hujan buatan. Selain itu Indonesia juga telah mengimbau berbagai perusahaan kelapa sawit asing untuk bertanggungjawab atas masalah ini.

Tetapi tampaknya upaya ini pun mendapatkan penolakan dari beberapa perusahaan kelapa sawit asing yang milik Singapura. Mereka mengatakan bahwa pihaknya bukanlah pihak yang harus bertanggungjawab atas kejadian ini. 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home