Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:27 WIB | Selasa, 20 Desember 2016

Singkong, Sumber Pangan Alternatif

Singkong (Manihot utilissima, Pohl.). (Foto: wiki.eanswer.com)

SATUHARAPAN.COM - Singkong adalah tanaman yang memiliki banyak manfaat. Bagian tanaman singkong yang dapat dikonsumsi selain umbinya adalah daunnya.

Singkong dapat dimasak dengan berbagai cara, banyak digunakan dalam berbagai macam masakan, dapat direbus ataupun digoreng dan sebagai pelengkap masakan. Selain itu, singkong juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar olahan makanan, misalnya getuk, tiwul, dan lain sebagainya. Sedangkan daun singkong banyak dijadikan sayuran pada masakan Sunda dan masakan Padang.

Masyarakat Kampung Cireundeu di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Jawa Barat, sudah lama menjadikan singkong makanan pokok. Karena itu, banyak orang menyebut daerah itu sebagai "Kampung Singkong". Mereka punya “rasi”, kependekan dari beras singkong, yaitu olahan singkong yang mereka jadikan bahan utama makanan pokok.

"Karena kesadaran akan budaya itulah, dengan sendirinya kami terbiasa mengikuti aturan-aturan yang diwariskan nenek moyang, sedikit juga bisa mengenyangkan perut, dan kekuatan karbohidratnya lebih tahan lama di tubuh," kata Asep Wardiman, tokoh masyarakat Cireundeu, ketika diwawancarai Antara, 14 Juni 2014.

Sejumlah peneliti Universitas Jember (Unej), Jawa Timur, meluncurkan kuliner masakan "pasta jawa" yang terbuat dari tepung singkong atau yang lebih dikenal dengan nama modified cassava flour (mocaf).

"Produk ini disebut pasta, karena mirip masakan olahan khas Italia yang biasanya dibuat dari campuran tepung terigu, telur, dan garam yang membentuk adonan, namun kami menggunakan dari mocaf," kata Ketua Lembaga Penelitian Unej Prof Achmad Subagio, di sela-sela peluncuran kuliner pasta jawa di Kantor Rektorat kampus setempat, Jumat (16/12), dikutip dari satuharapan.com.

Secara gizi, dia menambahkan, pasta jawa tidak kalah dengan pasta yang terbuat dari tepung terigu yang mempunyai kadar protein berkisar 6-8 persen, karena pasta jawa dalam pembuatannya dapat dicampur dengan aneka produk lokal yang berprotein tinggi seperti ikan, daging ayam, dan daging sapi sesuai kebutuhan. Sementara Rektor Universitas Jember M Hasan mengatakan pasta jawa adalah bentuk dari penelitian yang benar-benar bersentuhan langsung dengan masyarakat karena menu kuliner itu bisa menjadi makanan pengganti nasi, terutama bagi daerah yang tidak mampu memproduksi padi sendiri.

Pemerintah Australia melalui The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), seperti dikutip dari unej.ac.id, berjanji membantu program implementasi cluster singkong di masyarakat dalam rangka mendukung pembangunan pabrik modified cassava flour (mocaf) atau pasta Jawa. Salah satunya dibuktikan dengan dukungan dana sebesar 2,8 miliar rupiah yang dikucurkan hingga tahun 2018 nanti.

Selain sebagai alternatif pangan, singkong ternyata memiliki manfaat herbal. Hal ini terbukti dari daunnya yang  merupakan sumber antioksidan, seperti karoten dan vitamin C. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Gizi dan Kesehatan Universitas Gadjah mada Yogyakarta, yang meneliti aktivitas antikanker dari daun singkong pada sel MCF-7.

Daun singkong mengandung glukosida cyanogenic terutama linamarin. Beberapa studi menunjukkan senyawa aktif itu memiliki aktivitas antikanker, tetapi pengolahan dapat mengurangi konten itu. Hasil penelitian tim  menunjukkan pemberian ekstrak air daun singkong memiliki aktivitas antikanker terhadap sel kanker payudara, MCF-7 baris sel.

Pemerian Botani Singkong

Singkong, mengutip dari agroteknologi.web.id, memiliki batang berbentuk bulat panjang, berbuku-buku, berkayu, dan tumbuh dengan memanjang. Batang dari tanaman singkong ini dapat tumbuh 2 hingga 3 cm. Selain itu ukuran batang tanaman singkong berbeda-beda bergantung pada varietasnya, misalnya besar dan memiliki batang berwarna kecokelatan.

Umbi yang dihasilkan tanaman singkong ini berbentuk panjang dengan berat umbi sekitar 500 gram dan bahkan lebih. Umbi dari tanaman singkong berwarna cokelat keputih-putihan dengan kulit yang sangat tipis.

Tanaman singkong  memiliki daun berbentuk seperti lima jari, lonjong dan memiliki garis pada setiap daun dengan tepi yang rata, serta bagian ujung daun terlihat sangat tajam. Daun singkong memiliki warna hijau tua dan ada juga daun yang berwarna agak kekuningan.

Apabila dilihat dari kandungan yang ada di dalam singkong, tanaman ini memiliki gizi yang cukup tinggi.

Singkong, menurut Wikipedia, mulai dibudidayakan di Amerika Selatan, khususnya di Brasil dan Paraguay, sejak kurang lebih 10.000 tahun lalu. Walaupun demikian, bukti-bukti arkeologis budidaya singkong justru banyak ditemukan di kebudayaan Indian Maya, tepatnya di Meksiko dan El Salvador.

Singkong, mulai ditanam secara komersial di wilayah Indonesia sekitar tahun 1810, setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 dari Brasil. Butuh waktu lama singkong menyebar ke daerah lain, terutama ke Pulau Jawa. Diperkirakan singkong kali pertama diperkenalkan di suatu kabupaten di Jawa Timur pada 1852.

Menurut Wikipedia, singkong yang juga dikenal dengan nama ketela pohon atau ubi kayu, dan memiliki nama ilmiah Manihot utilissima, Pohl., merupakan perdu tahunan tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae. Singkong memiliki banyak nama daerah, di antaranya singkong, huwi dangdeur, sampeu (Sunda), singkong, telo puhung, ketela kaspe (Jawa), puhung, pohong, telo belandha (Madura), wolaang kayu, uwi kayu (Sulawesi Utara), kesawi, ketela kayu (Bali), pangala, kusbin, pekareta (Papua), ubi kayee (Aceh), bungkahe (Sangihe), dan kasubi (Tolitoli).

Manfaat Herbal Singkong

Tanaman singkong, dikutip dari ums.ac.id, kaya kandungan kimia seperti hidrat arang, kalsium, karbohidrat, fosfor, lemak, protein, vitamin A, vitamin B1, vitamin C, dan zat besi (daun). Tanaman ini berkhasiat sebagai antikanker, antioksidan, antitumor, dan penambah nafsu makan.

Singkong, merupakan salah satu sumber karbohidrat lokal Indonesia yang menduduki urutan ketiga terbesar setelah padi dan jagung. Tanaman ini merupakan bahan baku paling potensial untuk diolah menjadi tepung.

Singkong segar, menurut Badan Litbang Pertanian, dikutip dari usu.ac.id, mengandung senyawa glikosida sianogenik dan bila terjadi proses oksidasi oleh enzim linamarase maka akan dihasilkan glukosa dan asam sianida (HCN) yang ditandai dengan bercak warna biru, akan menjadi toxin (racun) bila dikonsumsi pada kadar HCN lebih dari 50 ppm. 

Aulia Rizqi Nurdiana dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Negeri Jember, menguji ekstrak daun singkong terhadap jumlah neutrofil pada proses penyembuhan luka pada tikus. Daun singkong memiliki kandungan flavonoid, triterpenoid, saponin, tannin, dan vitamin C yang lebih tinggi daripada sayuran lain, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal dalam proses penyembuhan luka.

Salah satu luka yang bisa terjadi dalam bidang kedokteran gigi adalah luka eksisi pada gingiva yang sering ditimbulkan oleh tindakan kedokteran gigi. Biopsi eksisi merupakan salah satu terapi dalam bidang kedokteran gigi. Jenis penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan rancangan the posttest only control group design.

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioscience Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Jember, Laboratorium Biomedik bagian Farmakologi dan Histologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. Kesimpulan penelitian menyebutkan ekstrak daun singkong berpotensi menurunkan sel neutrofil pada proses penyembuhan luka. Potensi ekstrak daun singkong setara dengan potensi aspirin.

Tim peneliti  Universa Medicina Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, dikutip dari univmed.org, meneliti aktivitas analgesik dari ekstrak etanol daun singkong  pada tikus. Daun singkong, telah lama digunakan sebagai sayuran di banyak negara dan secara empiris sebagai obat penurun panas. Penelitian itu ditujukan untuk mengevaluasi aktivitas analgesik dari ekstrak etanol daun singkong pada tikus. Hasilnya membuktikan efek analgesikdari ekstrak etanol daun singkong pada tikus adalah potensi yang sama seperti parasetamol.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Institut Mahatma Gandhi dan SMBT Institute of Medical Sciences & Research Centre, Dhamangaon Ghoti, Nashik, Maharashtra India, meneliti aktivitas antidiare ekstrak etanol daun singkong pada tikus Wistar. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antidiare signifikan dengan mengurangi akumulasi cairan usus dan motilitas gastrointestinal pada tikus Wistar.

Tim peneliti dari jurusan farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Lagos, Lagos, Nigeria, meneliti aktivitas analgesik dari ekstrak daun singkong pada tikus. Ekstrak daun singkong telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional Afrika untuk nyeri akut dan kronis dan diklaim aman. Hasil penelitian membuktikan ekstrak daun singkong aman, dan memiliki prinsip analgesik, yang membenarkan penggunaannya dalam pengobatan tradisional Afrika.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home