Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 14:19 WIB | Kamis, 25 April 2019

Sintrong, Lalapan yang Berkhasiat Antibakteri

Sintrong (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore). (Foto: aryanto.id)

SATUHARAPAN.COM – Tumbuh liar di tepi jalan, di kebun-kebun pekarangan, atau pada lahan-lahan telantar, menyebabkan orang menganggap sintrong tak lebih sebagai gulma, tumbuhan pengganggu. Hanya sebagian orang yang tahu sintrong bisa dimanfaatkan sebagai lalap, dan sebagian kecil yang mengetahui tumbuhan in berkhasiat obat.

Di Indonesia, mengutip dari Wikipedia, berdasarkan tulisan Setiawan Dalimartha, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia (2006), tumbuhan ini biasa disebut junggul, bagini, jambrong, tespong (Sunda), jombloh, mandrung-mandrung, puyung dantaplek (Jawa). Situs pkht.ipb.ac.id, lebih detail menyebutkan sintrong adalah nama yang umum dikenal di tanah Sunda, sementara di Jawa tumbuhan ini dikenal dengan nama salentrong, jalentrong, atau sembung gilang.

Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini dikenal sebagai ebolo, thickhead, redflower ragleaf, atau fireweed. Di situs pfaf.org, tumbuhan ini disebut juga okinawa spinach. Di Filipina, tumbuhan ini disebut bulak manok.

Sintrong, mengutip dari Wikipedia, merupakan lalap yang digemari di Jawa Barat, dan juga dimanfaatkan sebagai sayuran. Di Afrika, menurut studi OA Denton dalam database.prota.org, selain dimanfaatkan sebagai sayuran, beberapa bagian tanaman sintrong digunakan sebagai bahan obat tradisional. Di antaranya, untuk mengatasi gangguan perut, sakit kepala, luka, dan lain-lain.

Sintrong ini bersifat sedikit astringent, dan bersifat netral, bersifat antiradang, hemostatis, tonikum, pencahar, dan emetik (perangsang muntah). Dalam buku Setiawan Dalimartha disebutkan, herba tumbuhan ini bisa digunakan untuk mengobati demam, radang amandel, dan eksem. M Soerjani, AJGH Kostermans, dan G Tjitrosoepomo, dalam buku Weeds of Rice in Indonesia (Balai Pustaka, 1987), menyebutkan gulma ini juga disukai sebagai pakan ternak.

Meskipun demikian, sebuah studi “Pyrrolizidine alkaloids-tumorigenic components in Chinese herbal medicines and dietary supplements” dari para peneliti China yang dimuat di Journal of Food and Drug Analysis, Vol 10, No 4, 2002, mengutip dari Wikipedia, menyebutkan tumbuhan ini ditengarai mengandung alkaloida pirolizidina yang bisa memicu tumor.

Pemerian Tumbuhan Sintrong

Sintrong, mengutip dari Wikipedia, memiliki nama binomial Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore, dan memiliki nama sinonim Erecthites hieraciifolia [L.] Raf. ex DC., Gynura crepidioides Benth., Senecio hieraciifolia L.

Tumbuhan ini berupa terna tegak. Tingginya mencapai hingga 1 m, berbau harum aromatis apabila diremas. Batangnya lunak beralur-alur dangkal.

Daun-daun terletak tersebar, dengan tangkai yang sering bertelinga. Helaian daun jorong memanjang atau bundar telur terbalik, berukuran 8–20 × 3–6 cm, dengan pangkal menyempit berangsur sepanjang tangkai daun dan ujung runcing, bertepi rata, atau berlekuk hingga berbagi menyirip, bergigi bergerigi kasar dan runcing. Daun yang paling atas lebih kecil dan sering berbentuk daun duduk.

Bunganya majemuk berupa bongkol-bongkol yang tersusun dalam malai rata terminal. Bongkol hijau dengan ujung jingga cokelat hingga merah bata, silindris, berukuran 13–16 × 5–6 mm, mengangguk; tegak setelah menjadi buah.

Mahkota bunga berwarna kuning, dengan ujung merah kecokelatan, bertajuk-5. Buahnya buah keras (achene) ramping memanjang, seperti gelendong berusuk 10, sekitar 2,5 mm panjangnya; dengan banyak rambut sikat (pappus) berwarna putih, 9–12 mm.

Sintrong memiliki asal-usul dari Afrika tropis, namun kemudian menyebar ke seluruh wilayah tropis di Asia. Di Indonesia, gulma ini tercatat dijumpai pertama kali di dekat Medan pada tahun 1926, yang kemudian menyebar ke Jawa, dan kemudian meliar ke seluruh Nusantara.

Tumbuhan ini kerap ditemui di tanah-tanah telantar yang subur, di tepi sungai, tepi jalan, kebun-kebun teh dan kina, terutama di bagian yang lembap, hingga ketinggian 2.500 m dpl. Juga di sawah-sawah yang mengering. Biji-biji (buah) menyebar dengan bantuan angin. Walaupun berbunga sepanjang tahun, terna ini merupakan tumbuhan pengganggu yang relatif mudah diatasi.

Situs pkht.ipb.ac.id menyebutkan tumbuhan ini memperbanyak diri dengan biji.

Penelitian Khasiat Sintrong

Pada tahun 2016, Winda Mustika Sari, seperti dapat dibaca di repository.usu.ac.id, meluncurkan penelitian “Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan  Fraksi Daun Sintrong (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus”.

Ia menyebutkan daun sintrong memiliki kandungan kimia saponin, flavonoida dan polifenol, yang berkhasiat sebagai obat bisul. Di Afrika selain dimanfaatkan sebagai sayuran, daun sintrong juga digunakan sebagai bahan obat tradisional. Di antaranya, untuk mengatasi gangguan perut, sakit kepala, dan luka.

Melalui penelitian itu ia ingin mengetahui karakterisasi, golongan senyawa kimia, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksana, etilasetat dan air daun sintrong Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. Moore terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Hasil uji aktivitas antibakteri menyebutkan fraksi etilasetat yang memiliki efektivitas terkuat, dengan konsentrasi 50 mg/ml memberikan diameter daerah hambat (16,37 mm) terhadap bakteri Escherichia coli, dan konsentrasi 25 mg/ml memberikan diameter daerah hambat (14,38 mm) terhadap Staphylococcus aureus.

Ekstrak etanol efektif pada konsentrasi 75 mg/ml (14,26 mm) terhadap bakteri Escherichia coli dan konsentrasi 75 mg/ml (14,36 mm) Staphylococcus aureus. Sementara itu, fraksi air kurang efektif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Fraksi n-heksana tidak memiliki efektivitas menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Pada tahun yang sama, seperti dimuat Prosiding Farmasi (Agustus, 2016), dan dapat dibaca di karyailmiah.unisba.ac.id, Imas Yumniati, Umi Yuniarni, Siti Hazar, menerbitkan penelitian mereka, “Uji Aktivitas Analgetika Ekstrak Etanol Daun Sintrong (Crassocephalum crepidioides (Benth.) S. MOORE) terhadap Mencit Jantan Galur DDY”.

Ketiganya ingin mengetahui aktivitas analgetika ekstrak etanol daun sintrong pada dosis 14 g/kg BB, dan mengetahui potensi dari ekstrak uji terhadap pembanding tramadol. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak etanol daun sintrong pada dosis 14 g/kg memberikan aktivitas analgetika yang sebanding dengan pemberian tramadol pada dosis 6,5 mg/kg.

Dari hasil tersebut mereka menyimpulkan daun sintrong memiliki aktivitas analgetika yang telah diuji terhadap mencit dengan metode jentik ekor.

Penelitian lain tentang daun sintrong dilakukan Rahmawati, seperti dimuat dalam etd.unsyiah.ac.id, tentang uji aktivitas ektrak etil asetat daun sintrong  terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans. Melalui penelitian itu, Rahmawati ingin mengetahui dan mengukur aktivitas antijamur ekstrak etil asetat daun sintrong terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans, jamur patogen penyebab infeksi.

Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak etil asetat daun sintrong mengandung senyawa alkaloid, steroid, dan tanin. Ekstrak etil asetat daun sintrong berkemampuan menghambat pertumbuhan Candida albicans.

Editor : Sotyati

Back to Home