Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Stella Warouw 21:05 WIB | Rabu, 26 Juni 2019

Siswa SD PENABUR Jakarta Belajar Cinta Tanah Air di Desa

Siswa SD PENABUR Jakarta Belajar Cinta Tanah Air di Desa
Siswa-siswi kelas 5 SDK di Jakarta, peserta SPIRIT BPK PENABUR Jakarta dalam liburan edukatif ke Yogyakarta, 17 - 25 Juni 2019, mendengarkan pengarahan sebelum berkunjung ke warga lanjut usia di Desa Santan, Guwosari, Bantul. (Foto-foto: Jahja Kristiantara Gunawan)
Siswa SD PENABUR Jakarta Belajar Cinta Tanah Air di Desa
Peserta SPIRIT BPK PENABUR Jakarta berkesempatan belajar mengenakan kain, busana tradisional Yogyakarta.
Siswa SD PENABUR Jakarta Belajar Cinta Tanah Air di Desa
Bersama guru pendamping, peserta SPIRIT BPK PENABUR Jakarta bersabar menunggu untuk bisa menikmati saat-saat matahari terbit di Candi Borobudur.
Siswa SD PENABUR Jakarta Belajar Cinta Tanah Air di Desa
Peserta SPIRIT BPK PENABUR Jakarta berkeliling desa di Borobudur.
Siswa SD PENABUR Jakarta Belajar Cinta Tanah Air di Desa
Antono Yuwono, Ketua BPK PENABUR Jakarta, berbincang dengan peserta SPIRIT dari SD Tirta Marta, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

SATUHARAPAN.COM – Berlibur bersama teman-teman tentulah menyenangkan. Melalui Program SPIRIT, BPK PENABUR Jakarta, mengajak para siswa berkegiatan rekreatif, menambah ilmu, belajar tanggung jawab, dan mandiri.

Kali ini, memasuki penyelenggaraan yang keempat kali, dengan mengusung tema “Bangga Menjadi Indonesia”, BPK PENABUR Jakarta membawa siswa-siswa kelas 5 sekolah dasar dari 20 SDK di Jakarta, ke Yogyakarta, 17 – 25 Juni 2019.

Perjalanan ke Yogyakarta itu diikuti 1.019 siswa-siswi, 102 guru, dan lima kepala sekolah. Bukan tanpa alasan pilihan destinasi ini. Yogyakarta dikenal sebagai kota seni dan budaya, menyuguhkan berbagai wisata edukatif sekaligus menyenangkan. “Selain itu, kesiapan para pengelola wisata budaya dan desa wisatanya kami nilai baik,” kata Antono Yuwono, Ketua BPK PENABUR Jakarta.

Adri Lazuardi, Ketua Pengurus Harian Yayasan BPK PENABUR dalam pesannya, menulis, “Bisa dibayangkan begitu ramai dan serunya suasana yang ada di Desa Santan saat ini. Setelah naik kereta api, yang pasti tidak semua di antara kalian bisa tidur nyenyak di kereta, kalian akan memulai suatu petualangan baru di Jogjakarta ini. Pasti sangat indah pemandangan pagi hari di Candi Borobudur. Betapa Tuhan begitu besar dan ajaib karena menciptakan semua yang indah untuk kita nikmati.”

Dusun Santan, Desa Guwosari, Bantul, Yogyakarta, menjadi tujuan peserta program untuk live in. Mereka tinggal dirumah-rumah  penduduk, agar dapat berinteraksi langsung dengan keluarga dan lingkungan sekitar desa di desa itu.

Mereka  belajar membuat kerajinan dari batok dan membatik, naik sepeda keliling desa, bermain mainan tradisional (karambol, ular tangga, halma, congklak, bola bekel), belajar seni memanah khas Yogyakarta dengan filosofinya, mengunjungi warga lanjut usia, dan tentunya menikmati makanan desa.

“Kegiatan live-in di rumah penduduk menjadi ajang membuka diri terhadap kehidupan dan kepedulian sosial di masyarakat. Selain itu, dipandu oleh warga setempat, mereka mengunjungi para lansia dengan membawa buah tangan yang sudah mereka kumpulkan sebelumnya,” kata Antono.

Anak-anak membagikan kue, gula, susu, minyak angin, yang sudah mereka kumpulkan sebelumnya. Mereka juga berbagi perhatian, bercakap-cakap dengan warga lanjut usia itu, mendengarkan kisah hidup mereka untuk menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala.

Membangkitkan Rasa Bangga dan Cinta Tanah Air dalam Diri Peserta Didik

Keesokan hari, peserta SPIRIT menuju Candi Borobudur, untuk mempelajari sejarah candi dan menikmati matahari terbit. Sekalipun sebagian tampak kurang tidur, tak mengurangi keceriaan mereka. Apalagi setelah makan pagi, siswa-siswi dengan guru pendampingnya diajak keliling dengan mobil VW Safari atau Volkswagen Tipe 181. Secara berkelompok mereka memilih mobil untuk dinaiki mengelilingi Borobudur, melihat hamparan sawah dan rumah-rumah penduduk.

Walaupun selalu memilih lokasi Yogyakarta, ada perbedaan dari tahun ke tahun. Tiga tahun berturut-turut sebelumnya, salah satu acara adalah berkunjung ke objek wisata View Merapi. Tahun ini, peserta program berkunjung ke View Sunrise dari Candi Borobudur.

“Sekalipun ada penggantian acara, intinya adalah untuk memastikan hal positif yang bisa didapat siswa. Siswa bisa belajar mengagumi dan menghargai peninggalan sejarah yang sudah dimasukkan dalam daftar Warisan Dunia UNESCO, UNESCO World Heritage,” kata Antono.

Mereka juga berkesempatan menyaksikan pembuatan kaus motif wayang. Bukan hanya melihat proses pembuatannya, mereka pun berbelanja kaus wayang untuk oleh-oleh bagi orang tua, sebagai tanda terima kasih karena boleh menikmati proses belajar tanpa disertai orang tua, melakukan perjalanan dan menginap di tempat yang jauh.

Menjelang sore, mereka mendapat kesempatan naik andong menuju Alun-alun Yogyakarta, untuk mencicipi kuliner khas Yogyakarta termasuk nasi kucing, sembari menikmati hiruk-pikuk para penikmat yang lalu-lalang menikmati berbagai kuliner.

Acara malam itu ditutup dengan merasakan sensasi berjalan dengan mata tertutup, beriringan dengan tertib, menuju pohon Beringin Kembar di Alun-alun Kidul.

“Kampung Mataraman, di Ringroad Selatan, Sewon, Bantul, sebagai kawasan wisata kuliner sekaligus budaya. Pengenalan seni, budaya, dan sejarah, sembari menikmati dan mensyukuri keindahan alam Indonesia, akan membangkitkan rasa bangga  dan cinta Tanah Air dalam diri peserta didik. Anak-anak diperkenalkan dengan budaya,  dan saat ini budaya Jawa dan Yogyakarta. Diharapkan anak-anak menjadi bangga dengan memiliki budaya dan negeri yang Indah,” Antono menegaskan.

Mereka berkesempatan menari bersama penari-penari yang sudah berkeliling dunia. Hari terakhir di Yogyakarta, mereka tidak menyia-nyiakan waktu, berlatih akapela di bawah asuhan Tim Omah Cangkem. Dalam kesempatan itu, setiap sekolah tampil menunjukkan kebolehan.

Sebelum menuju Stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta, mereka masih meluangkan waktu untuk mengunjungi Museum de Mata.

Harapan dengan Mengikuti SPIRIT

Menjadi pengalaman baru bagi anak-anak, bertemu dan berkenalan dengan siswa SDK lain dari berbagai lokasi sekolah, dalam perjalanan berlibur bersama itu. Ketika Kenny Lim, Ketua Bidang Pendidikan Pengurus Harian Yayasan BPK PENABUR, bertanya kepada salah seorang siswi, berapa teman baru yang ia dapat setelah mengikuti acara SPIRIT, yang ditanya menyebutkan sepuluh teman. Siswi yang lain juga mengaku mendapatkan sepuluh teman, bahkan dari berbagai lokasi sekolah PENABUR.

Berbagai komentar pun bermunculan dari anak didik PENABUR mengikuti program SPIRIT. Seorang siswi mengatakan, “Aku mau menjadi mandiri seperti apa yang aku lakukan di sini.” Tetapi, ada juga yang mengatakan, “Aku nggak bisa tidur.” Bahkan ada yang mengeluh, “Aku nggak bisa mandi.”

Antono menambahkan, PENABUR Jakarta semakin mantap menjalankan kegiatan SPIRIT, dengan tekad terus melakukan perbaikan dalam penyelenggaraannya berdasarkan masukan dan testimoni, terutama dari siswa-siswi dan orang tua. “Merupakan sebuah kebanggaan dan senang bisa memberikan yang terbaik terutama dalam pendidikan karakter,” katanya.

“Kami juga ingin memastikan agar profil karakter siswa-siswi PENABUR Jakarta, yang dikenal dengan BEST (be tough, excel worldwide, share with society, trust in God) bisa betul-betul mendapat ‘suntikan’ yang positif dari kegiatan ini.  Anak-anak belajar mandiri dan tangguh, tidak mudah menyerah dengan berada terpisah dari orang tua selama empat hari, dan tinggal di rumah-rumah penduduk,” ia menambahkan.

Anak-anak diharapkanmampu bersaing mempelajari berbagai hal baru, baik dalam seni, budaya, kuliner, maupun dengan mendatangi objek wisata warisan sejarah dan mendapat penjelasan langsung di lokasi yang didatangi.

Mereka, Antono melanjutkan, juga diharapkan tahu bertenggang rasa, mau melayani dan berbagi, melalui kegiatan bakti sosial dengan membawa bingkisan.

“Kami sungguh berharap orang tua bisa mempercayakan kepada para tenaga pendidik dalam mengawasi anak-anak mereka, karena jumlah pengawas yang hadir sangat cukup dan berlapis. Artinya, ada beberapa pihak yang terlibat dalam memastikan seluruh acara aman. Apabila siswa tahu masih diawasi orang tua walaupun dengan sembunyi-sembunyi, dikhawatirkan hasil pendidikan karakter mereka tidak berhasil secara maksimal,” Antono menjelaskan.

BPK PENABUR Jakarta, menurut Antono, bahkan merencanakan SPIRIT untuk jenjang SMP, yang untuk pertama kalinya diadakan bulan September 2019, juga dengan mengambil waktu libur akademik. Kegiatan direncanakan dilangsungkan di area Malang, Batu, Tengger, Bromo.

“Dengan usia siswa-siswi yang lebih besar, dipilihkan area yang lebih menantang. Mudah-mudahan semua rencana berjalan lancar dan seluruh peserta didik mendapatkan hasil maksimal,” katanya.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home