Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:10 WIB | Selasa, 18 April 2017

Smart Microgrid Aliri Listrik untuk Daerah Terpencil

Ilustrasi . infografis Smart Micro Grid System yang telah dikembangkan LIPI sejak tahun 2015 lalu. (Foto: lipi.go.id)

SERPONG, SATUHARAPAN.COM – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  telah berhasil mengembangkan Sistem Pembangkit Listrik Hibrid Energi Baru Terbarukan (EBT) Smart Microgrid. Teknologi diaplikasikan untuk melistriki daerah-daerah terpencil, dan telah  diterapkan di Raja Ampat, Papua dan Ciparay, Jawa Barat. “Teknologi ini  menawarkan sistem kelistrikan skala kecil di wilayah tertentu,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Laksana Tri Handoko di Serpong, Tangerang Selatan pada Rabu (12/4), yang dilansir situs lipi.go.id.

Menurut Handoko smart microgrid bukan untuk menggantikan keberadaan genset. “Teknologi ini memadukan genset dengan potensi energi baru terbarukan (EBT) seperti biogas, arus air, atau angin sebagai alternatif bahan bakar selain solar,” kata Handoko.

Smart Microgrid terdiri dari intellegent inverter yang dapat mengkonversi EBT untuk menyuplai beban listrik. “Kelebihan listrik disimpan dalam baterai yang dapat digunakan saat pasokan listrik utama dari PLN mengalami gangguan,” kata Kepala Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI, Budi Prawara.

Untuk ketersediaan komponen pendukung seperti baterai, Pusat Penelitian Fisika LIPI telah mengembangkan riset penyimpanan energi. “Kami telah mengembangkan teknologi pendukung untuk material maju seperti baterai lithium, fuel cell, juga magnet permanen,” kata Kepala Pusat Penelitian Fisika LIPI, Bambang Widiyatmoko.

Teknologi yang dikembangkan sejak tahun 2015 ini, menggabungkan beberapa pembangkit dari sumber EBT antara lain mikrohidro, biomassa, dan surya dan telah diterapkan di Raja Ampat, Papua dan Ciparay, Jawa Barat.

Di Raja Ampat, teknologi ini telah menghemat 50 persen konsumsi bahan bakar diesel untuk genset Kri Eco Resort. “Kami menggabungkan dengan sel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik selama 24 jam,” kata Budi.

Sementara di Ciparay,smart microgrid digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas dan listrik di Pondok Pesantren Baiturrahman seluas 35.000 meter persegi. “Di Ciparay sumber energinya dipasok dari energi mikrohidro dan biogas yang memanfaatkan limbah ternak, kotoran manusia, dan sampah dapur,” katanya.

Belum sentuh komersialisasi

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Alihuddin Sitompul mengatakan,  riset pengembangan EBT seringkali belum menyentuh pada aspek komersialisasi. "Banyak hasil penelitian EBT  terbatas pada forum sendiri, belum dimanfaatkan luas untuk skala bisnis,” kata Alihuddin. Dirinya melanjutkan, pengembangan EBT akhirnya berjalan sendiri-sendiri tanpa dikomunikasikan sehingga tidak ada integrasi antarinstansi.

Lebih lanjut, Alihuddin menambahkan  peluang EBT untuk penyediaan listrik sangat besar. “Apalagi ada Peraturan Menteri ESDM Nomor 38 Tahun 2016, untuk mendorong percepatan upaya menerangi desa-desa yang belum menikmati listrik,” katanya. Pihaknya juga tengah mewacanakan insentif khusus untuk rumah tangga yang menggunakan EBT. “Sedang kita bicarakan dengan Direktorat Jenderal Pajak utuk teknisnya,” katanya.

 

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home