Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 22:38 WIB | Selasa, 24 Desember 2019

Solidaritas dalam Protes dan Korban, Kristen Irak Tidak Rayakan Natal

Pemuda Kristen di Baghdad membagikan makanan bagi para demonstran. (Foto: Ist)

BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM-Gereja Khaldea Irak memutuskan tidak merayakan Natal, dan mengalihkan kegiatan dengan mendistribusikan makanan untuk pengunjuk rasa sebagai solidaritas dan keprihatinan atas situasi negara itu. Lebih dari 40 anggota gereja, misalnya, melakukan kegiatan itu di bawah jembatan Jumariyah dekat Lapangan Tahrir di Baghdad.

"Gerakan protes ini melanda hati kaum muda dan orang miskin, tanpa diskriminasi agama," kenang Pastor Ara Badalian, dikutip Christianity Today. "Itu telah merobohkan semua tembok yang memisahkan Irak."

Kegiatan itu dilakukan di jembatan Sungai Tigris, yang misahkan dua wilayah ibu kota Irak, Baghdad, di mana sebagian besar kekerasan telah terjadi. Gerakan protes, yang dimulai pada awal bulan Oktober, telah mengakibatkan lebih dari 400 tewas, termasuk sekitar selusin petugas keamanan, dan lebih dari 17.000 orang terluka.

Sebagai tanggapan atas situasi itu, Gereja Khaldea pecan lalu memutuskan untuk tidak mengadakan perayaan Natal secara publik, tanpa dekorasi pohon Natal dan resepsi liburan, tetapi lebih pada doa syafaat.

"Alih-alih membawa harapan dan kemakmuran, struktur pemerintahan saat ini telah membawa korupsi dan keputusasaan yang berkelanjutan," Bashar Warda, Uskup Agung Khaldea Erbil, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pekan lalu.

"(Pemuda Irak) telah menegaskan bahwa mereka ingin Irak ... menjadi tempat di mana semua orang dapat hidup bersama sebagai warga negara yang setara di negara yang memiliki pluralisme yang sah dan menghormati semua orang."

Politik Sektarian

Para pengunjuk rasa menuntut pembubaran parlemen, reformasi pemerintah yang meluas, dan amandemen konstitusi 2005 yang berbasis sektarian.

Konstitusi itu disahkan setelah Perang Irak 2003 yang dipimpin Amerika Serikat, dan saat ini memberikan kelompok Syiah menempatkan posisi utama perdana menteri. Penduduk Syiah yang merupakan mayoritas di Irak adalah komunitas terbesar di negara-negara Timur Tengah (55% dari populasi). Kelompon ini juga menempatkan sejumlah orang pada posisi kementerian dalam negeri dan kementerian luar negeri yang berpengaruh.

Minoritas Sunni (40%) mendapatkan jatah jabatan ketua parlemen dan kementerian pertahanan. Suku Kurdi, yang hanya terdiri dari sepertiga populasi Sunni tetapi terkonsentrasi di wilayah utara yang otonom, mendapat jatah jabatan kepresidenan dan kementerian keuangan.

Islam dijadikan sebagai agama negara dan sumber dasar undang-undang. Umat ​​Kristen termasuk di antara tiga agama minoritas yang dijamin kebebasan beragama, meskipun konstitusi melindungi identitas Islam sebagai mayoritas.

Sementara protes telah dilakukan oleh rakyat lintas-sektarian di Baghdad, dan secara paradox, mereka menunjukkan yang terkuat di sembilan provinsi yang myoritas Syiah di Irak selatan.

"Rakyat tidak ingin campur tangan asing dari mana saja, dan terutama Iran," kata Ashur Eskrya, presiden Assyrian Aid Society di Irak. "Minoritas sedang menunggu untuk melihat hasilnya, tetapi protes ini mungkin menjadi solusi untuk memberi mereka hak-hak mereka dan membiarkan mereka hidup dalam damai."

Kelompok Minoritas

Situasi Irak ini ditunjukkan juga oleh Open Doors yang menempatkan Irak pada urutan ke-13 dalam daftar negara-negara yang paling sulit bagi warganya untuk menjadi orang Kristen.

Minoritas agama telah melihat bagian mereka dari populasi menyusut dari delapan menjadi lima persen sejak invasi Amerika, menurut US Institute for Peace (USIP). Yazidi sekarang adalah yang terbesar, dengan antara 600.000 dan 750.000 penganut. Umat ​​Kristen antara 800.000 orang dari 1.250.000 sebelum perang, tetapi sekarang berkurang menjadi kurang dari 250.000. Jumlah kaum Kristen Injili hanya sekitar 3.000.

Meskipun jumlahnya sedikit, mereka semua dari berbagai denominasi berpartisipasi dalam protes. Badalian mengatakan mereka melakukannya sebagai warga negara, bukan sebagai orang Kristen. Namun seringkali gereja-gereja yang memberikan visibilitas kepada para pengunjuk rasa.

"Situasinya adalah bencana" dengan "senjata di setiap sudut," kata Alnaufali Jajou, Uskup Agung Kasdim Basra, kota terkemuka Irak selatan, mengatakan kepada AsiaNews. "Sebagai sebuah gereja, kami dekat dengan orang-orang muda di jalanan dan memberi mereka makanan dan tempat tinggal setiap pekan."

Tetapi kekerasan telah memaksa keuskupannya untuk menangguhkan semua kegiatan non-pastoral. Di seluruh negeri, gereja Kasdim telah menyerukan doa dan puasa selama tiga hari. Dan karena menghormati korban selama protes dan solidaritas dengan semua yang terluka, Patriark Louis Raphael Sako membatalkan semua perayaan Natal berbasis publik dan gereja.

Sako juga mengunjungi pengunjuk rasa di rumah sakit; kebanyakan Muslim, tetapi juga Kristen. "Ada kejahatan dan itu meningkat. Peran orang Kristen di Irak adalah untuk pertobatan dan kembali kepada Tuhan,” kata Salwan, seorang direktur TV Irakjuga mengelola saluran TV satelit Kristen. Dia membandingkan situasi negaranya dengan situasi zaman Yunus di Nineweh.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home