Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:31 WIB | Rabu, 06 September 2017

Sosialisasi Biennale Jatim: “World is a Hoax"

Ilustrasi. Poster sosialisasi Biennale Jatim 7 bertajuk "World is Hoax". (Foto: Panitia Biennale Jatim)

MALANG, SATUHARAPAN.COM - Biennale Jawa Timur (Biennale Jatim) yang terselenggara untuk ketujuh kalinya sejak dihelat pertama kali tahun 2005, dalam penyelenggaraan tahun 2017 akan digelar pada 9-22 Oktober dengan melibatkan 30 perupa dari dalam dan luar Jawa Timur, yang berkarya secara perseorangan maupun berkelompok. Perupa yang diundang dipilih oleh tim kurator melalui beberapa pertimbangan latar belakang historis, corak kekaryaan, kecenderungan pemikiran, serta kontekstualitas wacana yang ditampilkan.

Sebagai upaya mendekatkan Biennale Jatim 7 pada masyarakat luas, panitia melakukan sosialisasi pada lima kota yakni Tuban, Gresik, Malang, Pasuruan, dan Jember. Rangkaian diskusi dan sosialisasi menghadirkan tim kurator Biennale Jatim 7 yang akan mempresentasikan strategi kuratorial dan pewacanaan yang dibangun atasnya. Acara melibatkan institusi kebudayaan, kelompok perupa, atau ruang-ruang kreatif yang ada di kota-kota tersebut, dengan audiens masyarakat umum.

Biennale Jatim 7 mengambil tema “World is a Hoax”. Hoax atau dalam bahasa Indonesia bermakna olok-olok atau cerita bohong dalam media sosial makin mendapatkan ruang eksistensi yang banal, liar, dan tuna etika. Di sinilah, sinisme, praktik pemelintiran atau pembalikan fakta, dan praktik pengeditan gambar dan teks untuk tujuan tertentu tiap hari telah menjadi kelaziman di dalam media sosial.

Fenomena hoax seakan telah mengantarkan masyarakat yang hidup di abad informasi sekarang ini menjadi masyarakat yang reaksioner, yaitu masyarakat yang dengan sigap tanpa pikir panjang larut dalam gelombang hoax. Masyarakat lantas mempertontonkan dunia bawah sadarnya yang berpotensi destruktif terhadap apa pun, menegasikan liyan, atau malah memberangus liyan yang dianggap berseberangan. Dalam situasi seperti ini, yang terjadi kemudian adalah konflik sosial hasil dari reproduksi berita palsu yang berpotensi memicu kebencian.

Melalui nara-hubung Ana untuk Kota Malang, panitia Biennale Jatim 7 memberikan keterangan fenomena sosial hoax dengan berbagai kejadian di sekelilingnya diangkat sebagai titik eksplorasi seni yang akan dihadirkan dalam Biennale Jatim 7. Kehadiran hoax dalam konten media baru semacam internet pada sisi lain menerbitkan reproduksi visual dan tekstual yang saling tumpang tindih dan dipraktikkan untuk kepentingan tertentu.

Reproduksi terus menerus akan visual dan tekstual berisi sindiran, gurauan, olok-olok sehingga meleburkan batas antara yang nyata dan palsu, antara yang fakta dan fiksi. Jagat berpikir kita kemudian dipenuhi oleh citra dan imaji yang bersifat imitatif, banal, dan tak menyulut kesadaran kritis-reflektif. Bahasa visual yang ditimbulkannya justru mendorong terjadinya dramatisasi visual untuk mereproduksi makna palsu. Sebaliknya, fenomena hoax ini diasumsikan sebagai sebuah persoalan besar yang menjadi bagian intim masyarakat yang hidup di dunia cybermedia dengan segala implikasi sosialnya.

Sosialisasi Biennale Jatim 7 dilaksanakan di Tuban (5/9), Gresik (5/9), Malang (6/9), Pasuruan (8/9), dan Jember (9/9). Informasi seputar Biennale Jatim 7 bisa diperoleh pada sekretariat panitia di kantor Disbudpar Jatim, Jl Wisata Menanggal No 38 Surabaya, Jawa Timur 60234, Tlp: +6285732499993  Email: biennalejatim@gmail.com

Editor : Sotyati

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
7 Dasawarsa BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home