Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Julianus Mojau 00:31 WIB | Senin, 06 April 2020

Spiritualitas Keragaman Hayati di Tengah Pandemik Covid-19

Sudah saatnya Gereja-gereja di Indonesia dan agama-agama di Indonesia mengembangkan spiritualitas keragaman hayati,

SATUHARAPAN.COM – Pandemik Covid-19 telah membuat masyarakat global berada pada persimpangan jalan krisis kemanusiaan global. Kita tidak dapat menyederhanakan sebab musabab dari tantangan kemanusiaan tragis pada awal abad ke-21 ini. Sebab virus corona jenis ini telah membawa korban di mana-mana.

Krisis kemanusiaan ini telah memberi pesan kepada umat manusia. Sesungguhnya kehebatan manusia—yang mengagungkan rasio yang sejak zaman pencerahan dengan prestasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang penuh kebanggaan itu—kini mengancam kehidupan umat manusia itu sendiri.

Para ahli virus berpendapat bahwa covid-19 tidak berdiri sendiri. Covid-19 adalah mutasi virus melalui banyak faktor. Salah satu faktor ialah pemanasan global, yang disebabkan oleh makin punahnya keragaman hayati. Kepunahan keragaman hayati itulah yang menyebabkan siklus kehidupan mengalami gangguan serius yang dapat membawa musibah. Salah satunya krisis kemanusiaan global yang disebabkan oleh covid-19 (bnd. Joko Pamungkas, ”Jangan Korbankan Kelelawar”, dlm. Kompas, 20 Maret 2020).Kesadaran epistemologis keilmuan pun tidak cukup mempertimbangkan kesadaran hidup yang bersifat siklus.

Pendidikan teologi dan pendidikan keagamaan di Indonesia pun lebih mencerminkan suatu kesadaran epistemologis humanis yang bertumbuh pada watak modernisme yang antroposentris. Konsekuensinya, pembentukan budaya beragama manusia Indonesia pun sangat manusia-sentris.

Saatnya umat manusia kembali merenungkan diri dan menanyakan pada rasionya. Jangan-jangan rasionya itu selama ini lebih dikendalikan oleh egoisme dirinya sendiri dan tidak pernah menghitung kehidupan ciptaan Allah yang lain seperti keragaman pepohonan, sungai-sungai, dan berbagai jenis keragaman hayati yang sedianya memiliki hak hidup juga seperti manusia.

Sejatinya, ciptaan Allah lain dalam bentuk keragaman hayati juga memiliki hak dan martabatnya sendiri. Allah tidak menciptakan keragaman hayati itu hanya demi memenuhi kebutuhan umat manusia seperti seringkali kita dengar dalam penghayatan spiritualitas konsumeristik. Allah menciptakan keragaman hayati itu agar siklus kehidupan itu menjadi siklus kehidupan yang humanis dan ekologis. Bukan sekadar humanis!  Karena tidak saja manusia yang mencerminkan wajah Allah (bnd. Kej. 1:26-27), tetapi juga alam semesta (bnd. Mazmur 104).

Sudah saatnya umat manusia menyadari bahwa puncak penciptaan Allah bukanlah manusia, melainkan seluruh karya pencipta-Nya: manusia, binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan serta segala makhluk hidup lain.

Agar tiba pada kesadaran iman seperti ini kita membutuhkan spiritualitas keragaman hayati! Spritualitas yang memungkinkan manusia dan ciptaan Allah lain selalu saling-merayakan kehidupan untuk memuliakan Pencipta-Nya!

Spiritualitas keragaman hayati yang membentuk mentalitas dan karakter multi-kultural ini mengingatkan kita kepada spiritualitas Fransiskan sebagaimana dirintis oleh Fransiskus dari Asisi yang menekankan sikap hati beriman yang bersahabat dengan alam ciptaan Tuhan (lihat Surip Stanislaus, OFMCap, 2019).

Calvin di kemudiaan hari pada saat Gerakan Pembaruan Gereja yang dikendalikan oleh kesadaran iman humanis-pencerahan pun merasa perlu menghargai keragaman hayati itu sebagai penampakan keindahan dari Allah. Dalam memaknai Kejadian 2:9, dia menulis  : ”Dalam rerumputan, pepohonan, dan buah-buahan, selain berbagai kegunaannya, ada keindahan yang tampak dan menyenangkan…. Apakah Tuhan mendandani bunga-bunga dengan begitu indah sehingga membuat mata kita merasakan keharuman yang dipancarkannya?” (Institutio III, 10:2).

Kita bersyukur bahwa perhatian dokumen-dokumen teologis Kristen semakin memberi perhatian pada perlunya memelihara keragaman hayati. Kekristenan di Indonesia semakin menyadari bahwa kerusakan lingkungan dapat menyebabkan punahnya keragaman hayati di tanah Indonesia.

Di kalangan Gereja-gereja di Indonesia, misalnya, sebagaimana terhimpun dalam wadah oikoumenis Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), sudah biasa juga dengan perbedaan agama dan tradisi iman serta upaya pelestarian alam sekitar. Hal ini telah mulai sejak tahun 1980-an.

Sidang Raya XVII Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (SR XVII PGI), 8-13 November 2019, di Sumba, NTT, kembali menegaskan hal ini di tengah-tengah krisis ekologi yang semakin parah di Indonesia sebagaimana kita baca dalam Dokumen Keesaan Gereja 2019-2024 (DKG 2019-2024). Bahkan Gereja-gereja di Indonesia telah mengembangkan suatu wawasan eklesiologis: Gereja Sahabat Alam (Favor A. Bancin dan Zaimah Adnan (Eds), 2011).

Di tengah-tengah pandemik COVID-19 yang memiliki daya bunuh tinggi ketika bersenyawa dengan sejumlah penyakit lain dan hanya disembuhkan dengan cara meningkatkan imunitas tubuh, maka rasanya pengembangan spiritualitas keragaman hayati menjadi semakin penting.

Gagasan PGI tentang Gereja Sahabat Alam sudah patutnya dikembangkan dalam wujud spiritualitas keragaman hayati yang menjiwai spiritualitas warga jemaat Gereja-gereja anggota PGI sehingga keragaman hayati tidak hanya dilestarikan demi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi manusia tetapi juga menjadi sarana mengalami kehadiran dan kemuliaan Allah!

Di sini Gereja-gereja dan juga agama-agama monoteistik perlu bergeser paradigma pengembangan kesadaran hidup secara spiritual dari karakter spiritual dominatif terhadap alam sekitar ke karakter spiritual relasional dan saling merayakan kehidupan sebagai sesama ciptaan Allah!

Pendek kata: sudah saatnya Gereja-gereja di Indonesia dan agama-agama di Indonesia mengembangkan spiritualitas keragaman hayati, yaitu: spiritualitas yang menumbuhkan karakter hidup warga jemaat dan warga masyarakat yang tidak memandang keragaman hayati di alam sekitar manusia itu hanya memiliki nilai ekonomi dan estetik secara sepihak, tetapi juga saling menghargai sebagai sesama ciptaan Allah yang saling merayakan kehidupan sebagai sesama ciptaan Allah!

Dengan demikian manusia dan alam sekitarnya tidak lagi saling bermusuhan dan saling mematikan, tetapi saling memberi kehidupan dalam sebuah siklus kehidupan yang berkelanjutan sebagai sesama makhluk hidup dengan martabat masing-masing sebagaimana kodrat masing-masing makhluk ciptaan Allah! Karena Tuhan Allah melihat semua baik adanya (bnd. Kejadian 1:1-2:1-7).

Oleh karena itu, keragaman hayati juga bagian dari rantai kehidupan yang diciptakan oleh Allah untuk saling memelihara. Kalau salah satu musnah, maka rantai kehidupan akan terganggu dan perlahan akan memusnahkan yang lain (Joko Pamungkas, Ibid).

Selamat memulihkan relasi yang harmonis dengan alam sekitar dengan mengembangkan spiritualitas keragaman hayati di tengah pandemik covid-19!

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home