Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Juppa Haloho 16:24 WIB | Jumat, 10 April 2020

Spiritualitas Semasa Pandemi Covid-19

Sekarang—ketika pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—adalah saat yang tepat bagi kita untuk menata spiritualitas kita.
Virus Corona (foto: geotimes.co.id)

SATUHARAPAN.COM – Sebelum tiba di Indonesia, bagi masyarakat Indonesia Corona Virus Disease 19 (Covid-19) tak lebih dari materi guyon. Ada banyak meme mengenai Covid-19 berseliweran di media sosial. Orang-orang (baca: masyarakat Indonesia) yang menganggap dirinya kebal terhadap virus menjadikan Covid-19 sebagai dagelan yang mengundang gelak tawa dalam percakapan di media sosial. Namun, semua berubah semenjak dua WNI dinyatakan positif Covid-19 (2/3). Tidak ada lagi meme Covid-19 di media sosial. Percakapan jenaka Covid-19 berubah menjadi percakapan yang membangkitkan iba.

Covid-19 tak lagi dianggap lelucon melainkan suatu ancaman. Ia bisa menyerang siapa saja tanpa memandang siapa orang yang diserangnya. Ia menyebar begitu cepat sehingga ia berada di berbagai tempat dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia.

 

Ujian Spiritualitas

Salah satu hal yang perlu disadari dalam masa ini adalah bahwa pandemi Covid-19 sedang menguji spiritualitas seseorang. Mengikuti Armand Barus (Spiritualitas Pastoral, 2019), spiritualitas yang dimaksud dalam tulisan ini adalah relasi setiap orang dengan dirinya dan hal-hal lain di luar dirinya sebagai hasil relasinya dengan Allah. Spiritualitas tidak sekadar relasi pribadi seseorang dengan Allah yang bersifat mistik, melainkan juga meliputi relasi orang itu dengan orang lain, alam sekitar, maupun situasi dan keadaan di luar dirinya yang kasat mata. Apa yang keluar dari seseorang adalah hasil dari relasinya dengan Allah. Bagaikan fenomena gunung es, tindakan aktual yang dilakukan seseorang adalah puncak gunung es yang terlihat sebagai ekspresi dari relasi dengan Allah yang tidak terlihat.

Pandemi Covid-19 sedang menyingkapkan apa yang tidak terlihat dalam diri manusia. Ia menyatakan ketakutan dan kerapuhan manusia. Salah satu contohnya adalah perilaku orang-orang yang berduyun-duyun ke pusat perbelanjaan untuk membeli sebanyak-banyaknya apa saja yang dapat disimpan setelah mendengar pernyataan Presiden mengenai dua WNI yang dinyatakan positif Covid-19. Panic buyingistilah bagi perilaku ini—masif terjadi. Ketakutan menggerakkannya untuk menimbun barang di dalam lumbungnya.

Pandemi Covid-19 juga membongkar siapa/apa yang menjadi pusat hidup seseorang. Realitas para penimbun masker untuk dijual dengan harga tinggi menjadi tandanya. Mereka tidak memperhitungkan kelompok prioritas seperti para penyintas kanker. Mereka tak menghiraukan jika para penyintas kanker semakin menderita karena kelangkaan masker akibat ulah mereka. Yang utama bagi mereka adalah keuntungan diri sendiri. Mengapa? Karena hidup mereka ditempatkan sebagai pusat semesta yang mana semua hal bergerak secara sentripetal kepadanya.

Dalam level paling dasar, pandemi Covid-19 memperlihatkan kesejatian ibadah manusia. Ibadah selalu berkaitan dengan otoritas Allah yang disembah dan ketundukan sang penyembah. Masyarakat Indonesia—ditandai keragaman agama dan banyaknya rumah ibadah—adalah makhluk yang beribadah. Namun, perilaku yang disebutkan di atas sedang menunjukkan ketidakselarasan antara otoritas dan ketundukan. Bukankah menimbun perbekalan menunjukkan keraguan terhadap Allah?

Mengikuti teori spiritualitas di atas, meme, ketakutan, panic buying, menimbun barang demi keuntungan besar atau demi kenyamanan pribadi, mengabaikan kepentingan kelompok prioritas menunjukkan spiritualitas masyarakat Indonesia. Semua itu, melalui pandemi Covid-19, menyingkapkan ketidakutuhan spiritualitas masyarakat Indonesia.

 

Memanfaatkan Jarak Sosial

Sekalipun demikian, pandemi Covid-19 memberi kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk membingkai ulang spiritualitasnya. Imbauan pemerintah agar masyarakat menerapkan jarak sosial—bekerja, belajar, dan beribadah di rumah—menjadi kesempatan untuk orang-orang menarik diri dari komunal kepada personal, dari keramaian kepada kesunyian, dari kebisingan ke dalam keheningan.

Keheningan menjadi tempat sakral di mana seseorang secara personal menata kembali spiritualitasnya. Di dalam keheningan, seseorang dapat fokus mendengarkan Sabda Allah bagi dirinya dan mendengarkan realitas dunia yang sedang ia hadapi. Dalam keheningan, seseorang bisa melihat melihat segala sesuatu dalam dunia ciptaan yang menjebak, membuat cemas, dan menindas dirinya.

Keheningan menjadi tempat di mana seseorang bertemu dengan dirinya sendiri. Keheningan adalah ruang di mana seseorang menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti: mengapa aku hidup; untuk apa/siapa aku hidup; apa yang kutakutkan; apa/siapa yang menggerakkan hidupku; apa yang kutakutkan dan mengapa aku menakutkannya; mengapa aku melakukan apa yang sedang aku lakukan. Jawaban yang ditemukan dalam keheningan akan menuntun kepada autentisitas diri yang teraktualisasi keluar. Autentisitas itulah spiritualitas.

Sekarang—ketika pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)—adalah saat yang tepat bagi kita untuk menata spiritualitas kita. Kita harus memanfaatkannya bukan sekadar sebagai mekanisme sosial untuk menahan laju penyebaran Covid-19, melainkan juga mekanisme menakar dan menata spiritualitas diri.

 

Juppa Haloho (mahasiswa program studi Magister Divinitas Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung, Jakarta)

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home