Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Melki Pangaribuan 09:50 WIB | Senin, 02 September 2019

Sri Paus Tunjuk Uskup Suharyo Jadi Kardinal, PGI: Proficiat!

Kiri: Mgr. Ignatius Suharyo, Kanan: Paus Fransiskus. (Foto: LDD KAJ – Vatikan News)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta, Romo V.Adi Prasojo, Pr, menyampaikan bahwa pada hari Minggu, 1 September 2019, pukul 12.00 waktu Vatikan, Paus Fransiskus mengumumkan 13 Kardinal baru di Vatikan. Salah satu Kardinal yang diumumkan oleh Paus Fransiskus ialah Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Keuskupan Agung Jakarta, dari Indonesia

“Puji syukur kepada Tuhan atas kepercayaan dan cinta kasih Paus Fransiskus bagi Gereja Katolik Indonesia dengan pengangkatan Mgr. Ignatius Suharyo menjadi Kardinal. Pelantikan menjadi Kardinal akan diselenggarakan dalam Consistorium (Sidang Para Kardinal) pada 5 Oktober 2019 di Vatikan,” kata Romo V.Adi Prasojo, Pr, hari Minggu (1/9/2019).

Proficiat untuk Bapak Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo, dalam mengemban tugas perutusan baru sebagai Kardinal,” kata Romo Adi dalam siaran persnya.

Sebelumnya pada tahun 2016 sempat beredar informasi di media sosial bahwa Uskup Suharyo ditunjuk sebagai Kardinal Indonesia yang baru. Saat itu berita tersebut dibantah bahwa tidak benar atau hoaks.

“Menanggapi adanya berita pada tanggal 9 Oktober 2016 tentang pengangkatan Bapa Uskup Ignatius Suharyo sebagai Kardinal, yang beredar di media sosial, maka Keuskupan Agung Jakarta menyatakan bahwa berita tersebut TIDAK BENAR. Mohon bantuan Bapak/Ibu untuk menghentikan meluasnya berita yang tidak benar tersebut, dengan cara tidak ikut menyebarluaskan. Semoga Tuhan dan Bunda Maria senantiasa membimbing GerejaNya yang kudus,” kata Rm. V. Adi Prasojo, Pr pada 9 Oktober 2016.

Namun tiga tahun kemudian, secara resmi Paus Fransiskus mengumumkan Kardinal baru ketika Doa Malaikat Tuhan (Angelus) yang digelar di Vatikan pada pukul 12.00 waktu setempat.

Berikut video resmi Vatikan yang disiarkan pada hari Minggu, 1 September 2019. Pengumuman nama Mgr. Ignatius Suharyo dapat dilihat pada menit ke 23:16 dan seterusnya.

 

Tanpa Sekat-Sekat Gereja dan Agama

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gomar Gultom, menyampaikan ucapan selamat atas pengangkatan Mgr Ignatius Suharyo menjadi Kardinal oleh Sri Paus, bersama 12 calon lainnya kemarin, Minggu, 1 September 2019.

“Proficiat! Saya menguncapkan selamat atas pengangkatan Mgr Ignatius Suharyo menjadi Kardinal oleh Sri Paus,” kata Pendeta Gomar Gultom dalam  keterangan tertulis yang diterima satuharapan.com, hari Senin (2/9/2019).

Bagi Pdt. Gomar Gultom, kepercayaan Paus kepada Mgr Ignatius Suharyo adalah juga sebuah kepercayaan Vatikan kepada Indonesia, sebagaimana pada kurun waktu sebelumnya, untuk ikut ambil bagian dalam pemerintahan Vatikan.

“Saya mengenal baik Mgr Suharyo dalam kapasitas beliau sebagai Uskup Agung Jakarta dan sebagai Ketua Presidium KWI. Beliau adalah sosok gembala yang sangat mengayomi, bukan saja atas umat Katolik yang menjadi umat genbalaannya, tetapi juga terhadap semua orang, tanpa sekat-sekat gereja dan agama. Berkomunikasi dengan beliau sangat nyaman dengan sentuhannya yang sangat personal,” katanya.

Pdt. Gomar Gultom juga merasakan sekali sikap kerendahan hati Mgr. Suharyo, yang dinilainya menjadi dasar pelayanan beliau selama ini sebagai seorang uskup.

“Saya percaya beliau mampu menjalankan penunjukan ini menjadi amanah, apalagi konsern beliau terhadap dunia pendidikan sangat besar,” kata Pdt. Gomar Gultom.

Awalnya Ingin Jadi Polisi

Mgr Suharyo lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 9 Juli 1950. Putra pasangan Florentinus Amir Hardjodisastra dan Theodora Murni Hardjodisastra ini awalnya tidak berkeinginan menjadi pastor.

Sementara, sang kakak, almarhum RP Suitbertus Ari Sunardi OCSO, masuk seminari hingga akhirnya menjadi pastor pertapa di Pertapaan Trappist Rawaseneng, Jawa Tengah.

Ignatius Suharyo sempat bersikukuh tidak mau menjadi pastor. Harian Kompas, 3 Februari 2016, menuliskan, Suharyo kecil justru bercita-cita menjadi polisi sebelum ada seorang pastor yang kemudian mengubah keinginannya.

Pastor tersebut menghampiri Suharyo dan menawarkan apakah dia mau menjadi pastor atau tidak. Suharyo akhirnya menyatakan "iya" kepada pastor tersebut.

Pada tahun 1961, Suharyo masuk Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang, Jawa Tengah. Saat itu, ia berkeinginan untuk menjadi imam yang religius. Keinginan tersebut muncul mungkin karena terinspirasi dari sang kakak.

Setelah itu, karena ingin menjadi pastor diosesan/praja, Suharyo memutuskan untuk masuk Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta.

"Tujuan saya menjadi imam praja adalah sangat sederhana, supaya bisa menjadi pastor paroki," kata dia.

Pada 26 Januari 1976, Suharyo diminta untuk melanjutkan studi ke Roma, Italia, setelah sebelumnya ditahbiskan menjadi imam diosesan. Ia mampu menyelesaikan studi doktor Teologi Biblis di Universitas Urbaniana pada 1981.

Sepulangnya ke Indonesia, Suharyo berpikir bahwa cita-citanya sebagai paroki akan sirna karena harus mengajar di seminari tinggi selamanya. Namun, pemikiran dari Suharyo salah.

Ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Semarang menggantikan Mgr Julius Darmaatmadja SJ yang pindah ke Keuskupan Agung Jakarta. Penunjukan Suharyo tersebut dilakukan oleh mendiang Paus Yohanes Paulus II.

Pada 22 Agustus 1997, Suharyo ditahbiskan sebagai Uskup Agung Semarang. Perjalanan Suharyo berlanjut saat ia ditunjuk menjadi Uskup Agung Jakarta pada 29 Juni 2010, menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja SJ yang pensiun pada Juli 2009.

Diberitakan Harian Kompas, 9 Oktober 2017, Suharyo juga meluncurkan buku biografi menandai 20 tahun berkarya dalam pelayanan sebagai uskup pada 7 Oktober 2017.

Buku tersebut berjudul "Terima Kasih, Baik, Lanjutkan" yang berarti kematangan iman dan kematangan pribadi.

Mgr Suharyo mengutip kata-kata tersebut hingga dijadikan menjadi judul dalam buku biografinya dari sebuah kalimat dalam buku karangan Kardinal Basil Hume, Uskup Agung Westminster, Inggris. Buku biografi tersebut berisi kisah hidup Mgr Suharyo.

Pada bagian akhir buku terdapat tulisan Mgr Suharyo yang berjudul "Evangelisasi di Kota Metropolitan".

Suharyo menyebutkan, tulisan itu adalah buah pemikiran saat pertama kali dipindahtugaskan dari Uskup Agung Semarang ke Uskup Agung Jakarta dan sebuah analisis situasi kehidupan umat di Jakarta.

"Tulisan itu hanya analisis, tanpa data ataupun statistik. Intinya, banyak orang tersingkir di dalam kehidupan kota besar. Pada situasi seperti itu, gereja harus bertindak," ujar Mgr Suharyo.

Tindakan gereja yang dimaksud ada dua macam, yaitu tindakan ke luar dan tindakan ke dalam. Selain menjelaskan tentang perjalanan hidupnya, Suharyo juga ingin mengisahkan kerendahan hati yang menjadi dasar pelayanan Mgr Suharyo selama menjadi seorang uskup.

13 Kardinal Baru

Berikut 13 nama Kardinal baru yang diumumkan Paus Fransiskus pada 1 September 2019 di Vatikan. Profil mereka diumumkan juga oleh vaticannews.va (klik tautan).

1. Bishop Miguel Angel Ayuso Guixot, mccj – President of the Pontifical Council for Interreligious Dialogue.

2. Archbishop José Tolentino Medonça – Archivist and Librarian of the Holy Roman Church.

3. Archbishop Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo – Archbishop of Jakarta.

4. Archbishop Juan de la Caridad García Rodríguez – Archbishop de San Cristóbal of Habana.

5. Archbishop Fridolin Ambongo Besungu, o.f.m. cap – Archbishop of Kinshasa.

6. Archbishop Jean-Claude Höllerich, sj – Archbishop of Luxembourg.

7. Bishop Alvaro L. Ramazzini Imeri – Bishop of Huehuetenamgo.

8. Archbishop Matteo Zuppi – Archbishop of Bologna.

9. Archbishop Cristóbal López Romero, sdb – Archbishop of Rabat.

10. Father Michael Czerny, sj – Undersecretary of the Migrants and Refugees Section of the Dicastery for Promoting Integral Human Development.

11. Archbishop Michael Louis Fitzgerald – Former Apostolic Nuncio of Egypt.

12. Archbishop Sigitas Tamkevičius, sj – Archbishop Emeritus of Kaunas.

13. Bishop Eugenio Dal Corso, psdp – Bishop Emeritus of Benguela.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home