Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 01:50 WIB | Jumat, 02 Oktober 2015

Stage Bus Jazz Tour 2015 Menuju Solo

Rene van Helsdingen, driver di panggung dan di jalan raya
Stage Bus Jazz Tour 2015 Menuju Solo
Rene van Helsdingen, pianis dan pimpinan MP3 menyopiri sendiri Stage Bus Jazz Tour 2015 dalam tur 23 kota di Indonesia dari 11 September - 29 November 2015 dalam perjalanan Jogja-Solo Kamis (1/10). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Stage Bus Jazz Tour 2015 Menuju Solo
Ruang dalam bis ditata semaksimal mungkin sebagai stage sekaligus tempat penyimpanan perlengkapan selama tur
Stage Bus Jazz Tour 2015 Menuju Solo
Bersama-sama menikmati perjalanan Bus Stage Jazz Tour 2015.
Stage Bus Jazz Tour 2015 Menuju Solo
Rene van Helsdingen mantan suami Luluk Purwanto tertawa melihat tulisan di bak truk.
Stage Bus Jazz Tour 2015 Menuju Solo
Pemasangan dan persiapan stage di Graha Strategic Seturan, Sleman Yogyakarta, Minggu (27/9)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Waktu menunjukkan pukul 13.03 WIB saat bis yang digunakan untuk mengangkut sekaligus menjadi panggung dalam Stage Bus Jazz Tour (SBJT) 2015 meninggalkan halaman Hotel Sheraton Yogyakarta. Kamis (1/10) siang itu rombongan musisi jazz MP3 asal Belanda pimpinan René van Helsdingen menaiki SBTJ akan menuju ke Solo untuk pementasan di hari Jumat (2/10) di Benteng Vastenburg setelah sebelumnya pada Minggu (27/9) di Graha Strategic Seturan, Sleman. 

Bis merk DAF produksi Belanda yang dibuat tahun 1978, dimodifikasi ulang oleh René van Helsdingen -mantan suami musisi jazz Luluk Purwanto- dengan menambahkan beberapa peralatan untuk keperluan pementasan.

Siang itu jalanan menuju Solo cukup lancar sehingga bis bisa dipacu dengan laju 60 km/jam, bahkan dalam beberapa ruas jalan yang cukup lengang menyentuh kecepatan 80 km/jam. Dari suara mesin yang terdengar serta sistem suspensi yang memanfaatkan angin/udara sebagai bantalannya, meskipun bis cukup tua namun performanya masih cukup bisa diandalkan. Rene menjelaskan pada jalanan bebas hambatan, bisa masih mampu dipacu hingga 120 km/jam.

Untuk sebuah pementasan jazz tour, bis berlantai kayu yang dilengkapi dengan alat musik (piano, bass, drum), sound system 5.000 watt, tata lampu 5.000 watt, dengan panggung yang bisa dibongkar pasang dalam waktu 1,5-2 jam, bus stage cukup mumpuni untuk touring menjelajahi 23 kota selama 3 bulan sejak 11 September 2015.

"Ok, mas. Kanan aman. Salip...," kata Moch. Athar, co-driver memberikan aba-aba saat bis hendak mendahului truk di depannya. Aba-aba maupun peringatan dari co-driver sangat membantu mengingat bis yang didatangkan langsung dari Belanda masih menggunakan stri kiri. Bahkan plat nomornya pun masih aslinya: 41-NB-14.

"Ok, mas. Di pertigaan depan kita belok kanan. Kita lewat jalan arteri Klaten," kata Moch. Athar. Di antara kesadaran pengguna jalan masyarakat Indonesia yang bisa dibilang masih rendah, aba-aba tersebut sangat diperlukan selain untuk keselamatan sendiri maupun keselamatan pengguna jalan lainnya. Bisa dipahami, mengingat muatan bis selain penumpang juga mengangkut seluruh peralatan pementasan mulai dari Piano, Bass, Drum, sound system, tata pencahayaan, generator set, peralatan kelistrikan serta dekorasi stage itu sendiri yang meskipun sudah terkunci pada tempatnya, namun tetap rentan rusak terhadap manuver bis yang tiba-tiba atau bahkan jika terjadi kecelakaan. Dari dalam perjalanan bis yang cukup menguras energi, kekompakan dan kerja tim dimulai.

Kerja tim selama tour bis dengan berkendara secara aman menjadi suatu yang menarik ketika diperlukan konsentrasi tinggi dari semua anggota pada saat yang bersamaan tetap harus santai mengingat perjalanan yang ditempuh dalam tour cukup jauh dan melelahkan. Kondisi demikian justru memunculkan kelucuan selama perjalanan. Semisal ketika berada di belakang truk yang memuat batu dengan jalan yang tidak terlalu kencang. Tulisan serta gambar khas pada belakang bak truk menjadi bahan joke yang muncul secara spontan sehingga sopir tidak berkeinginan untuk menyalipnya meskipun ada kesempatan untuk mendahului truk tersebut.

Atau ketika ada kendaraan di depan yang berjalan membahayakan kendaraan lainnya, sopir bis memainkan klakson seolah mengiringi alunan lagu yang terputar dari cakram padat di bis. Suara klakson yang mungkin terdengar aneh bagi telinga masyarakat kita ketika mengingatkan pengendara lainnya dengan bunyi klakson yang tidak terputus dengan suara kencang seolah meminta diberikan jalan untuknya.

Kelucuan lainnya muncul saat jalanan agak macet ataupun berhenti di perlintasan rel kereta api yang cukup lama, tiba-tiba sopir membuka botol air mineral dan menyipratkan pada celana anggota lainnya yang sedang tertidur dengan berkelakar "ehh.. ngompol dia". Mendapatkan perlakuan demikian tidak membuat orang yang diciprat air tersinggung ataupun marah. Hanya tersenyum terus melanjutkan tidurnya. Inilah sebentuk menikmati perjalanan ataupun mengingatkan satu sama lain, karena dia akan punya kesempatan melakukan hal yang sama jika sampai sopir terlihat ngantuk.

"Ok, mas. Right free. Go..." Athar memberikan aba-aba pada sopir sesaat akan mendahului truk bermuatan pasir di sebuah ruas jalan di Klaten. Sopir itu adalah Rene van Helsdingen, pianis sekaligus pimpinan Stage Bus Jazz Tour 2015.

Menyopiri bis stir kiri di Indonesia bagi Rene tentu bukanlah hal yang mudah dan sudah pasti melelahkan karena harus ekstra hati-hati mengingat di tempat asalnya karena kepatuhan pengguna jalannya membuat pengendara sepeda pun dapat berkendara dengan aman dan nyaman.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home