Google+
Loading...
HAM
Penulis: Melki Pangaribuan 13:58 WIB | Rabu, 12 September 2018

Stigma Hambat Perempuan Berkiprah di Sektor Infrastruktur

Aktivitas pekerja proyek PT Intan Cipta Perdana dalam proses pembangunan pondasi jembatan layang di perempatan Jalan Rawa Panjang, Bekasi, Jawa Barat, Senin 30 Juli 2018. Jembatan layang itu nantinya akan menghubungkan Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Raya Narogong Kota Bekasi, Jawa Barat. (Foto: Melki Pangaribuan)

BEKASI, SATUHARAPAN.COM – Matahari menjunjung tinggi di langit. Sinarnya panas terik meliputi sekitar wilayah Kota Bekasi, Senin 30 Juli 2018. Kepala tanpa penutup seperti topi atau helm dapat mempercepat peningkatan radiasi matahari kepada suhu tubuh bahkan dapat mengakibatkan dehidrasi bila berdiri lama antara 15-30 menit. Debu tanah dan butiran pasir sesekali mengudara tertiup angin. Lalu lalang kendaraan bermotor terlihat ramai di area proyek pembangunan jembatan layang di perempatan Jalan Rawa Panjang, yang akan menghubungkan Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Raya Narogong Kota Bekasi. Siang itu sekitar pukul 11.30 WIB, beberapa laki-laki pekerja infrastruktur cekatan mengerjakan pemasangan besi pondasi jembatan layang yang melintasi jalur Sungai Bekasi.

Para pekerja sebagian menggunakan helm proyek berwarna kuning dan putih, ada juga pekerja yang memakai topi atau kain penutup kepala. Mereka terlihat mengenakan perlengkapan kerja seadanya ketika memeriksa besi pondasi. Satu orang terlihat sedang mengoperasikan alat berat pengeruk tanah untuk pemasangan dasar tiang pondasi. Tiga-empat orang lainnya memasang kawat tulang besi untuk pondasi lainnya, dan seorang pekerja mengatur lalu lintas keluar masuk kendaraan di area SPBU dekat proyek tersebut. Beberapa langkah dari situ sebagian pekerja lainnya terlihat sedang duduk-duduk beristirahat di pos bedeng mereka.

Pekerja proyek yang ditemui saat itu mengatakan perusahaan kontraktornya berasal dari salah satu jasa konstruksi swasta (ICP). Mereka terbata-bata saat ditanyai siapa pemimpin proyek dan di mana mandornya. Ketika ditanya apakah mereka memiliki rekan kerja perempuan di dalam proyek tersebut, salah satu pihak keamanan yang menyebut nama panggilannya “Ucok” menjawab tidak ada pekerja perempuan pada proyek itu, meski pernah ada mahasiswi yang magang beberapa waktu lalu. Pekerja itu takut berbicara lebih lanjut pada orang lain untuk diwawancarai.

Pekerja yang ditanyai itu meminta untuk lebih baik menanyakan langsung kepada pihak mandor atau pelaksana proyek PT Intan Cipta Perdana yang berada di lapangan dekat pengerukan tanah pondasi. Namun ketika dihampiri saat itu tidak ada satu pun pelaksana proyek dan mandor dapat ditemui.

Kasihan Jika Pulang Malam

Di waktu terpisah, karyawan bagian Hubungan Masyarakat (Humas) di proyek PT Intan Cipta Perdana, Muh Ridha, membenarkan bahwa perusahaan mereka tidak melibatkan karyawan perempuan dalam segala pengerjaan proyek jembatan layang, terkecuali mahasiswa-mahasiswi yang sedang praktik kerja lapangan (PKL).

“Tidak ada (karyawan) perempuan, kalau pun ada perempuan itu mungkin orang-orang di warung, yang masak-masak bukan karyawan kami. Karena kami menakutkan adanya indikasi-indikasi kalau (pekerja perempuan) pulang malam kasihan. Tapi kalau yang PKL ada pernah dua laki-laki dan dua cewek (perempuan), mereka PKL bukan karyawan kami,” kata Ridha yang biasanya dipanggil Daeng itu, saat dihubungi satuharapan.com, Senin (10/9).

Aktivitas pekerja proyek PT Intan Cipta Perdana dalam proses pembangunan pondasi jembatan layang di perempatan Jalan Rawa Panjang, Bekasi, Jawa Barat, Senin 30 Juli 2018. (Foto: Melki Pangaribuan)

Di pojok belakang proyek itu, ada bedeng bangunan seukuran 5x5 meter dari triplek kayu yang merupakan warung penjual nasi, rokok, dan kopi. Rumah sederhana untuk makan dan minum bagi para pekerja sehari-hari. Wawan, pemilik warung merupakan warga Kampung Pangkalan Bambu Kelurahan Marga Jaya Kota Bekasi sedang mencuci piring saat ditemui. Ia mengaku warung nasinya didirikan sejak proyek jembatan layang itu dimulai. Ia dibantu empat orang anggota keluarga yang semuanya perempuan.

Tak banyak informasi yang dapat diperoleh dari Wawan. Ia mengaku terpaksa bangun meski semalam baru saja begadang hingga dini hari. Keadaannya masih sedikit kantuk, kedua tangannya bergerak seraya membilas piring dan gelas. Saat itu ada juga dua orang ibu masih sibuk menyiapkan pesanan makanan. Kedua perempuan itu malu-malu dan enggan ditanyai. Sedangkan dua perempuan lain yang merupakan keponakan Wawan tidak berada di warung nasi itu.

Tak jauh dari pekerjaan proyek jembatan layang itu, berjarak sekitar 50 meter ada proyek pembangunan lainnya terlihat menjulang tinggi sekitar 30 lantai dari lokasi pembangunan jalan layang Rawa Panjang. Gedung itu merupakan proyek pembangunan apartement di Jalan Cut Meutia, Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat. Seorang laki-laki pekerja proyek yang sedang istirahat siang di sebuah warung nasi tidak bersedia diwawancarai tanpa seizin perusahaannya. Bahkan ketika ditanya mengenai apakah mempunyai rekan kerja perempuan di proyek tersebut dia memilih bungkam.

Senada dengan pekerja itu, pihak keamanan yang ditemui, Mamat tidak berani memberikan banyak keterangan. Ia hanya mengatakan di proyek gedung itu tidak ada pekerja perempuan. Mamat juga meminta untuk menghubungi pihak proyek yang berkantor di sebelah gedung bangunan supaya mendapatkan keterangan lebih jelas. Kemudian permohonan wawancara disampaikan ke PT Wijaya Karya (WIKA).

Tidak Mudah Ditemukan

Ada sejumlah proyek lainnya melintasi wilayah Bekasi, seperti proyek jalur lintasan light rail transit (LRT) atau kereta api ringan, pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated. Ada juga pekerjaan proyek pembangunan sambungan jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) area dekat gerbang tol (GT) Jakasampurna, Jalan KH Noer Ali atau sekitar 15-20 menit dari arah kantor pusat pemerintahan Kota Bekasi. Para pekerja laki-laki sedang sibuk bekerja di samping Saluran Kalimalang Bekasi. Paku-paku bumi sebagian masih ditidurkan di atas tanah coklat. Alat berat sedang tidak beroperasi siang itu. Kendaraan keluar masuk melewati papan seng pembatas jalan proyek. Pekerja laki-laki yang ditemui tidak bersedia memberikan pernyataan terkait ada atau tidaknya perempuan pekerja infrastruktur.

Saat itu memang tak terlihat satu pun pekerja perempuan di lokasi proyek lanjutan Tol Becakayu. Mereka meminta untuk menanyakan langsung ke perusahaan kontraktornya, PT Waskita Karya. Kemudian permohonan wawancara disampaikan kepada Kepala Divisi III perusahaan Waskita, namun sejak 1 Agustus 2018 dengan berbagai alasan hingga awal September 2018 tidak ada penjelasan kepastian dari pihak Waskita untuk kesediaan diwawancarai.

Laki-laki pekerja konstruksi di sektor infrastruktur lebih mudah ditemukan ketimbang pekerja perempuan pada berbagai proyek pembangunan di Bekasi. Tetapi untuk mendapatkan perempuan pekerja konstruksi untuk diwawancarai, hal itu tidak mudah ditemukan.

Gambar gedung proyek pembangunan apartement di Jalan Cut Meutia, Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin 10 September 2018. (Foto: Melki Pangaribuan)

Di wilayah Bekasi dan sekitarnya hampir tidak mungkin dapat menemukan pekerja/buruh perempuan dalam pembangunan infrastruktur. Umumnya di lapangan kebanyakan laki-laki yang bekerja seperti mengecor, mengaduk pasir-semen, memasang kawat besi, dan sebagainya. Perempuan biasanya ditemui sebagai penyedia makanan atau minuman untuk konsumsi bagi buruh bangunan laki-laki di sekitar tempat proyek. Kalau pun ada pekerja perempuan biasanya sebagai staf administrasi atau staf keuangan. Itu pun mereka enggan diwawancarai dan mesti izin berbelit-belit dengan pemimpin perusahaan proyeknya.

Salah satu perempuan pekerja infrastruktur yang tidak mudah ditemukan di berbagai proyek di Bekasi dan sekitarnya, yaitu Anastasya Yolanda (32). Ia saat ini menjabat sebagai Kasie Enjiniring Proyek Jakarta International Velodrome, PT Wijaya Karya (WIKA). Banyak tempat dan berbagai proyek telah ia kerjakan di badan usaha milik negara (BUMN) ini.

Perempuan kelahiran Jakarta, 1986 itu awal mulanya bekerja di WIKA dengan melamar melalui jalur management trainee setelah lulus dari perguruan tinggi. Ia memilih menjadi pekerja infrastruktur karena sesuai dengan latar belakang pendidikannya sebagai arsitektur, selain dari tenaga profesional bidang konsultan yang digelutinya.

Sehari-hari Tasya, sapaan akrabnya, bertugas berkaitan dengan aspek engineering bangunan gedung meliputi yang meliputi perencanaan dan gambar-gambar terkait, metode pelaksanaan pekerjaan, time schedule, dan value engineering. Dia bekerja antara delapan hingga 10 jam sehari dari Senin hingga Jumat, dan enam jam pada hari Sabtu.

Selama ini Ibu dari dua anak ini mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan, seperti cuti haid, cuti hamil, libur atau istirahat dan lainnya. Tetapi khusus mengenai cuti haid ia tidak pernah mengajukan haknya ke perusahaan.

"Selama ini hak cuti saya selalu dipenuhi perusahaan namun saya pribadi tidak pernah mengajukan untuk cuti haid," kata Anastasya Yolanda dalam keterangannya kepada satuharapan.com awal bulan September 2018 di Jakarta setelah sibuk mempersiapkan Pesta Olahraga Asia ke-18 Jakarta-Palembang 2018. Ia mengaku memiliki empat rekan perempuan yang membantunya dalam pekerjaan sehari-hari.

Kuat Batin

Anastasya memberikan pandangannya tentang perempuan yang bekerja dalam pembangunan infrastruktur, menurutnya, perempuan yang bekerja pada sektor pembangunan infrastruktur adalah perempuan yang tangguh. Mereka tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik saja karena waktu kerja yang kadang lebih panjang, namun bagi seorang ibu juga harus kuat secara batin karena harus merelakan waktu bersama keluarga hanya untuk memastikan pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik.

Ia menilai perempuan pekerja infrastruktur tidak banyak karena pekerjaan konstruksi dikenal dengan pekerjaan lapangan, sehingga mungkin tidak terlalu sesuai bagi sebagian perempuan dan lebih dirasa cocok untuk kaum pria. "Dominasi kaum pria dalam pekerjaan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri," katanya.

Tasya tidak menampik kemungkinan jika perempuan tidak tertarik karena alasan fisik maupun kemungkinan karena adanya stigmatisasi bahwa perempuan tidak bisa bekerja di sektor infrastruktur. Menurutnya, bagi sebagian perempuan ada yang tidak nyaman harus bekerja di lapangan dengan kondisi cuaca dan terkena debu sewaktu-waktu. Perempuan, katanya, mungkin tidak nyaman jika harus bekerja di lapangan dengan kodisi panas dan berdebu, tapi bagi sebagian lainnya, justru menjadi hal yang menyenangkan seperti dirinya.

"Kami bisa membuktikan bahwa untuk membangun karya-karya infrastruktur bertaraf internasional dan terbaik juga turut didukung oleh peran penting kaum perempuan," ungkap perasaan bangga perempuan asal keturunan dari Pekanbaru-Riau itu.

Tasya yang bekerja di sektor infrastruktur sejak 2010, mengakui selama ini keluarganya mendukung penuh pekerjaannya. Sementara dukungan di tempat kerja ia rasakan sebagai budaya kerja di WIKA yang selalu unggul dalam kerja sama dari seluruh rekan kerja untuk secara bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan.

Terhadap kesetaraan gender di dunia kerja, khususnya sebagai perempuan pekerja di sektor infrastruktur, Tasya menilai stigma dunia konstruksi saat ini memang masih didominasi pria akan tetapi wanita pun mampu berperan sesuai dengan tugas dan wewenang sebaik pria. Menurutnya wanita harus diberikan kesempatan dan kepercayaan selayaknya pria.

Dia berharap di masa depan akan lebih banyak wanita yang mampu berperan dalam sektor infrastruktur. Terkhusus bagi para wanita yang sudah berkeluarga atau yang sudah menjadi seorang ibu, harus mampu bekerja cerdas dan seefisien mungkin agar dapat menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan tanggungjawab rumah tangga.

171.364 Orang di Bidang Bangunan

Kota Bekasi memiliki visi “Bekasi Maju, Sejahtera dan Ihsan”. Secara khusus dijelaskan dalam “Bekasi Maju” yaitu menggambarkan pembangunan Kota Bekasi dan kehidupan warga yang dinamis, inovatif dan kreatif yang didukung ketersediaan prasarana dan sarana sebagai bentuk perwujudan kota yang maju.

Data BAPPEDA Kota Bekasi yang diperoleh dari aplikasi Data Pintar Kota Bekasi v2.0 (diakses 19-07-2018) tidak dapat menyebutkan secara rinci berapa jumlah perempuan pekerja di sektor konstruksi. Beberapa serikat buruh/pekerja bahkan tidak memilki anggota perempuan dalam sektor pembangunan infrastruktur. Sedangkan pembangunan diberbagai sarana dan prasarana serta proyek-proyek di Bekasi terus dilakukan. Sementara kesetaraan gender di dunia kerja khususnya perempuan dalam pembangunan infrastruktur terbatas.

Berdasarkan “Profil Daerah Kota Bekasi Tahun Anggaran 2017” yang dikeluarkan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bekasi, disebutkan dari total penduduk yang bekerja di Kota Bekasi yang berjumlah 2.110.427 orang pada tahun 2016, sebanyak 8 persen bekerja di bidang bangunan yaitu 171.364 orang. Namun tidak ada keterangan rinci jumlah pekerja perempuan dan laki-laki di sektor ini.

Sementara laju implisit produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Bekasi berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 2013-2016 di sektor konstruksi sebesar 4,47 pada tahun 2013 dan sebesar 1,43 persen pada tahun 2016. 

Dalam Laporan Ketenagakerjaan Indonesia 2017: Memanfaatkan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Penciptaan Lapangan Kerja yang diterbitkan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) Kantor Jakarta, siswa diminta untuk menyebutkan sektor di mana mereka ingin bekerja setelah lulus (Gambar 35, panel a & b). Tiga sektor yang paling diinginkan oleh perempuan Indonesia adalah konstruksi (15,6 persen), manufaktur (12,2 persen) dan layanan komunikasi dan teknologi (10,9 persen) (lihat Gambar 35, panel a).

Pada laporan ILO itu yang menarik, meskipun konstruksi merupakan salah satu sektor yang menjadi keinginan bekerja siswa perempuan, jumlah perempuan yang bekerja di sektor ini relatif lebih rendah. Pada 2016, dari 7,9 juta pekerja di sektor konstruksi, hanya 165.148 orang atau sedikit lebih dari 2 persen adalah perempuan. Hampir 91 persen pekerja di sektor konstruksi dipekerjakan sebagai operator dan pekerja kasar/buruh. Sebagai proporsi dari jumlah total perempuan yang bekerja di sektor konstruksi, 55 persen di antaranya bekerja sebagai operator dan buruh. Namun proporsi perempuan yang bekerja di bidang administrasi dan yang berhubungan dengan hal itu lebih tinggi (26,9 persen) bila dibandingkan dengan laki-laki (1,3 persen). Jumlah perempuan yang ingin bekerja di sektor konstruksi dan manufaktur lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki (27,8 persen dibandingkan dengan 15,7 persen). 

Sementara itu dalam laporan ILO di Jenewa tahun 2015, “Good Practices and Challenges in Promoting Decent Work in Construction and Infrastructure Projects” disebutkan tingkat partisipasi perempuan dalam sektor konstruksi di Asia lebih tinggi daripada di wilayah lain. Tingginya pangsa perempuan di beberapa negara, seperti Kazakhstan (23,5 persen), Singapura (22,9 persen), Mongolia (21,1 persen) dan Ethiopia (17,8 persen), sebagian perempuan bekerja di administrasi, sumber daya manusia, klerus dan bidang pekerjaan yang berhubungan dengan kantor dan teknis lainnya.

Ada tantangan lain untuk merekrut lebih banyak perempuan ke dalam industri konstruksi, bahkan di negara-negara maju. Menurut Building and Wood Worker’s International (BWI), partisipasi perempuan terhalang oleh budaya dan praktik yang berfokus pada laki-laki yang mendominasi industri dan mempengaruhi banyak aspek kehidupan sehari-hari dan pekerjaan, seperti persepsi bahwa perempuan yang bekerja di bidang konstruksi lebih menyukai pekerjaan yang tidak terampil.

Mengelola dengan Perasaan

Syailendra Ogan, General Manager Human Capital WIKA mengatakan selama ini, setiap sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh WIKA dipilih berdasarkan kapabilitas, bukan gender, dan pekerja perempuan sudah membuktikan mereka punya kemampuan setara dengan laki-laki. Menurutnya, yang membedakan mereka dengan laki-laki adalah bagaimana perempuan memandang berbagai hal dengan menggunakan hati.

"Mereka (perempuan) mengelola dengan perasaan," katanya di tengah kesibukan Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018.

WIKA itu, kata Syailendra, dikenal dengan nilai kekeluargaan yang tinggi, ketika dihadapkan pada masalah, kaum perempuan akan menunjukkan sikap kewanitaan dan keibuannya sehingga masalah bisa diselesaikan dengan lebih soft. Perusahaan memandang sama antara pekerja laki-laki dan perempuan dalam satu pekerjaan yang menuntut waktu ekstra untuk mencapai target yang mengharuskan kerja lembur pekerja tersebut, baik perempuan maupun laki-laki wajib lembur untuk menyelesaikannya.

Menurut Syailendra, pekerjaan kita sebagai kontraktor banyak bersentuhan dengan mandor, subkon, serta pekerja konstruksi lainnya yang biasanya bersifat keras, pendekatan yang sifatnya soft dibutuhkan dalam situasi tertentu, pendekatan secara soft akan lebih mencairkan suasana, dan pekerja perempuan sangat cocok untuk bertindak lebih soft dan lebih sabar ketimbang pekerja laki-laki.

Ketika memperkerjakan perempuan sebagai pekerja konstruksi, kita sudah paham konsekuensinya. Salah satu contoh konsekuensinya adalah ketika mereka hamil dan hendak melahirkan. WIKA harus memenuhi kewajibannya sesuai peraturan yang berlaku berkaitan dengan pemberian jatah cutinya, tapi ini telah disikapi dengan baik. Jika undang-undang ketenagakerjaan mewajibkan karyawan yang hamil untuk cuti tiga bulan, kita bahkan memberikan hak mereka untuk cuti selama 3,5 bulan.

"Secara hitung-hitungan mungkin nampak tidak produktif, tetapi di WIKA mengukur pekerjaan bukan berdasarkan kehadiran atau jumlah jam kerja, melainkan dengan target yang harus dicapai, dan selama ini pencapaian target WIKA selalu dapat terpenuhi," katanya.

Lebih lanjut Syailendra mengatakan karyawan perempuan WIKA kini bahkan telah dipercaya untuk mengambil peran lebih di proyek-proyek WIKA hingga ke luar negeri. Saat ini, tanggungjawab yang diberikan didasarkan pada kompetensi yang dimiliki, semua ditentukan pada saat assessement yang menilai kapabilitas karyawan, sehingga ketika dia lulus, perusahaan tidak akan segan-segan untuk memberikan tanggungjawab yang lebih besar.

Di WIKA sendiri, kata Syailendra, dari 14 General Manager yang merupakan posisi strategis di perusahaan, dua diantaranya dijabat oleh sosok perempuan yang luar biasa. "Mereka berdua dianggap mampu untuk meningkatkan kualitas departemen yang mereka pimpin," katanya.

Cara Pandang (Mindset)

Sementara di waktu terpisah, Sarinah (30) dari Divisi Kampanye dan Hubungan Internasional Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (FSEDAR) di Bekasi mengatakan tidak memiliki anggota pekerja konstruksi perempuan dari sekitar 1.000 orang anggota FSEDAR.

FSEDAR lebih banyak mengorganisir buruh manufaktur yang bekerja di pabrik. Buruh perempuan yang menjadi anggota FSEDAR berasal dari pabrik komponen mobil, makanan dan minuman. Menurut dia, buruh bangunan pada umumnya tidak terorganisir di dalam satu perusahaan. Buruh bangunan lebih banyak sebagai pekerja lepas yang terpencar-pencar dan dianggap sebagai pekerja informal.

“Buruh (perempuan) sangat jarang berada di sektor infrastruktur karena pekerjaan konstruksi dianggap sebagai area pekerjaan laki-laki,” kata Sarinah kepada satuharapan.com, hari Selasa (7/8).

Di sektor konstruksi, kata dia, perempuan biasanya mengisi jabatan staf administrasi di perusahaan konstruksi. Untuk kerja di lapangan, perempuan biasanya jadi tukang masak untuk pekerja.

Aktivitas proyek pembangunan infrastruktur yang melintasi wilayah Bekasi, seperti proyek pembangunan lintasan jalur light rail transit (LRT) atau kereta api ringan (kiri) dan pembangunan jalan tol layang Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated (kanan), Senin 10 September 2018.(Foto: Melki Pangaribuan)

Sarinah menilai, kebanyakan karena alasan fisik perempuan dianggap tidak cukup kuat secara fisik untuk bekerja di sektor konstruksi yang memerlukan banyak tenaga. Perempuan juga dianggap tidak ahli di bidang ini.

Menurutnya, gejala ini merupakan bentukan masyarakat yang tidak memperkenankan perempuan menjadi pekerja bangunan. Masyarakat mendidik perempuan untuk bekerja di sektor-sektor tertentu yang dianggap bidang perempuan, misalnya sekretaris, staf, administrasi dan garmen. Sektor konstruksi dianggap sebagai sektor yang maskulin di mana perempuan tidak diizinkan terlibat. Para mandor juga biasanya mencari pekerja laki-laki dan bukan perempuan.

Pada umumnya, kata dia, buruh bangunan tidak menerima hak normatif selain upah saja. Tunjangan kesehatan saja tidak ada. Buruh perempuan juga tidak akan mendapatkan cuti haid, hamil, libur dan lainnya. Sistem kerjanya adalah sistem kerja harian.

“Kalau tidak masuk, ya, tidak dapat bayaran,” katanya.

Sarinah menyakini, banyak perempuan yang senang dengan sektor pekerjaan konstruksi. Dia mengenal beberapa perempuan yang kuliah arsitek, tapi adanya pandangan yang menganggap konstruksi sebagai bidang laki-laki jadi menyulitkan perempuan. Kalau masih di pintu gerbang saja, perempuan sudah tidak diizinkan berpartisipasi, kita tidak akan pernah tahu kapasitas dan kontribusinya untuk kemajuan dunia konstruksi. Contohnya, lowongan kerja buruh bangunan biasanya mencari laki-laki, tidak pernah perempuan.

Sarinah mengatakan, seharusnya perempuan diberikan kesempatan untuk terlibat dalam bidang pekerjaan konstruksi. Pertama bisa dimulai dari pendidikan yang harus mengakomodir perempuan yang ingin bersekolah di jurusan yang terkait konstruksi. Apakah perempuan ingin menjadi arsitek, pekerja konstruksi di lapangan, teknik sipil, dan lainnya, tidak menjadi masalah.

Kedua, dunia kerja konstruksi harus terbuka terhadap tenaga kerja perempuan. Karena orang tidak akan mau sekolah di suatu jurusan kalau lapangan pekerjaannya tidak dibukakan. Ketiga, teknologi bisa mempercepat kesetaraan gender karena kemajuan teknologi memungkinkan semua gender terlibat.

“Tinggal paradigma dalam pikiran saja yang diubah, jangan lagi ada dikotomi ini pekerjaan laki-laki, dan yang ini pekerjaan perempuan. Bagaimanapun juga suara perempuan itu dibutuhkan termasuk dalam membangun infrastruktur. Bangunan, rumah, gedung harus lebih mengakomodir kebutuhan perempuan,” katanya.

Keempat, hak-hak normatif perempuan harus dipenuhi, misalnya cuti melahirkan, cuti haid, hak menyusui, penghapusan pelecehan seksual dan perlindungan dari kekerasan seksual.

Sarinah berharap, lebih banyak lagi perempuan yang berpartisipasi dalam dunia kerja sekalipun di sektor-sektor yang dianggap tabu bagi perempuan, misalnya konstruksi, alat berat, perbengkelan, dan lain sebagainya karena perempuan juga butuh menjadi pribadi-pribadi yang mandiri sehingga tidak bergantung pada laki-laki. Ketergantungan perempuan kepada laki-laki memunculkan banyak implikasi seperti kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran, feminisasi kemiskinan sampai gangguan kesehatan mental.

Kerja yang Njlimet

Mike Verawati Tangka (40), Sekretaris Wilayah Koalisi Perempuan Indonesia Wilayah DKI Jakarta, mengatakan cara pandang masyarakat (pemilik perusahaan) yang masih dipengaruhi oleh konstruksi gender, bahwa perempuan ini adalah kelompok pekerja domestik, urusan infrastruktur atau konstruksi adalah dunianya laki-laki sehingga dengan sendirinya membuat perempuan tidak cukup percaya diri untuk masuk dalam sektor ini.

“Pekerjaan infrastruktur adalah pekerjaan yang risiko tinggi, sehingga perempuan "masih dianggap" kurang memiliki kapasitas dalam hal konstruksi dan sejenisnya,” kata Mike kepada satuharapan.com, hari Senin (6/8).

Menurut Mike, kalaupun ada hanya sedikit sekali perempuan yang terlibat dalam sektor konstruksi infrastruktur. Biasanya perempuan ada dalam posisi-posisi administratif di perusahaan konstruksi. Menurutnya, masih ada anggapan bahwa perempuan tidak cocok bekerja di sektor ini. Beberapa pengalaman perempuan bisa terlibat dalam kerja-kerja sektor konstruksi, misalnya pemecah batu, atau mengangkat batu-batu, dengan status kontrak harian, karena perempuan bukan target perekrutan pekerja sektor konstruksi. Jadi kalau ada laki-laki ya prioritas laki dulu.

Proyek pembangunan sambungan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) area dekat gerbang tol (GT) Jakasampurna, Jalan KH Noer Ali, Bekasi, Jawa Barat, Selasa 31 Juli 2018. (Foto: Melki Pangaribuan)

Mike menilai, tidak banyaknya perempuan di sektor konstruksi infrastruktur bukan karena perempuan tidak tertarik, tetapi lebih pada peluangnya tidak cukup besar dan terbuka untuk perempuan bekerja di sektor infrastruktur. Sekali lagi karena cara pandang (mindset) konstruksi peran gender yang sudah membentuk cara pandang (bahkan cara pandang perempuan sendiri) bahwa yang namanya perempuan itu ranahnya domestik, kerja di rumah, urus anak dan keluarga. Kalaupun bekerja di sektor industri perempuan jadi buruh untuk kerja-kerja ketrampilan tangan seperti menjahit, bikin kancing, linting rokok, lipat kemasan, bikin kok bulu tangkis.

“Semua juga karena pelabelan perempuan cocoknya kerja yang njlimet gitu, karena alasannya perempuan lebih telaten dan rapi. Padahal sebenarnya laki-laki juga bisa bekerja seperti itu, hanya budaya pikir yang akhirnya membuat peremuan sendiri tidak memiliki kerja di sektor konstruksi atau infrastruktur,” katanya.

Mike mengatakan, kesetaraan gender di dunia kerja, khususnya di sektor infrastruktur masih jauh sekali, karena sebenarnya kesetaraan gender di dunia kerja juga masih berkutat pada hal kebijakan ketenagakerjaan juga. Secara umum perempuan dalam dunia kerja masih diperhadapkan pada masalah diskriminasi karena wujud perempuan itu sendiri.

Misalnya, secara gaji dan tunjangan saja masih dibedakan, perempuan punya rate yang lebih rendah, dikarenakan posisi perempuan dalam keluarga sebagai penunjang ekonomi, bukan penunjang ekonomi utama, dimana selama ini kepala keluarga adalah laki-laki, walau aktualnya banyak juga perempuan yang menjadi penyokog ekonomi tunggal dalam keluarga, dikarenakan menjadi single parent, janda dan lain-lainnya.

Perempuan rentan kekerasan, baik seksual, verbal, dan psikis di dunia kerja. Kemudian posisi kerja atau jabatan, memang sekarang perempuan juga ada di posisi-posisi leading, tapi tentunya tidak banyak, lagi-lagi prioritasnya adalah laki-laki, sebab laki-laki dinilai oleh publik lebih memiliki kapasitas memimpin ketimbang perempuan.

“Walau tesis ini bisa runtuh karena banyak pemimpin perempuan yang bagus dan berprestasi,” katanya.

Aktivitas di area proyek pembangunan jembatan layang (kiri) perempatan Jalan Rawa Panjang yang akan menghubungkan Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Raya Narogong Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin 10 September 2018. Tampak dalam gambar (kanan) proyek pembangunan apartemen berjarak sekitar 50 meter dari lokasi proyek jembatan layang itu. (Foto: Melki Pangaribuan)

 

Back to Home