Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 10:40 WIB | Senin, 25 November 2013

STT JAKARTA: Konstruksi Sosial atas Gender dan Seksualitas

Pdt. Stephen Suleeman, Th.M pada sesi Konstruksi Sosial atas Gender dan Seksualitas. (foto: Diah Anggraeni Retnaningrum)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Konstruksi gender terjadi dalam pola pikir kita yang hidup bermasyarakat. Banyak sekali pola pikir dan asumsi atas gender dan seksualitas yang diberikan dan sudah tertanam di pikiran kita selama berabad-abad. Pengaruh dari dunia barat pun turut mempengaruhi kita dalam hal konstruksi sosial atas gender dan seksualitas. Hal ini disampaikan langsung oleh Pdt. Stephen Suleeman, Th.M pada acara Pekan Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender Intersex, Queer (LGBTIQ) di STT Jakarta, Sabtu (23/11).

Gender adalah golongan manusia dalam seksual tertentu. Hal ini berkaitan dengan sifat. Misalnya kelaki-lakian dan keperempuanan. Sedangkan, seksualitas itu sendiri adalah status atau jenis kelamin seseorang yaitu jantan dan betina.

Lingkungan membentuk seseorang menjadi pribadi yang mempunyai karakter dan pola pikir tertentu. Dalam lingkungan secara global, laki-laki diajarkan untuk mempunyai karakter dan sifat yang kuat, mereka diajarkan dengan keras untuk tidak boleh menangis, menjadi penakluk perempuan, sehat secara fisik maupun seksual.

Konstruksi gender terjadi tanpa kita sadari, misalnya bayi laki-laki diberi pakaian warna biru sedangkan perempuan berwarna merah jambu, mainan anak laki-laki berupa mobil-mobilan atau pistol-pistolan sedangkan perempuan berupa boneka atau alat masak-masakan.

Gender Sangat Dipengaruhi Budaya Masyarakat dan Lingkungan

Di dunia barat, mereka terkenal sangat seksis. Hal ini terlihat dalam penggunaan bahasa, misalnya pembedaan antara He dan She. He khusus digunakan untuk menunjuk kepada laki-laki dan she digunakan untuk perempuan.

Isu LGBTIQ sangat kompleks di dalam masyarakat. Orientasi seks bukan hanya heteroseksual (penyuka lawan jenis). Ketika manusia lahir, mereka yakin bahwa mereka adalah heteroseksual. Namun, dalam perkembangannya lingkungan tempat mereka tumbuh membentuk pribadi bahkan dalam hal orientasi seksual mereka menjadi LGBTIQ.

Bagaimana kita semua hidup dalam kesetaraan? Tuhan mengajarkan kita tentang kasih dan kasih itu tidak terbatas pada siapa dan apapun. Tuhan mau kita menggandeng kaum LGBTIQ karena mereka sama berharganya seperti kaum heteroseksual.

Gerakan Feminis dalam Deskonstruksi Gender

Salah satu pemikiran yang menjadi dasar gerakan feminis adalah deskontruksi gender saat perempuan tidak lagi terkungkung dalam ruang domestik tapi juga bisa aktif di ruang publik. Contoh: Golda Meir (Perdana Menteri Israel), Indira Gandhi (Perdana Menteri India) yang merupakan seorang perempuan yang berkiprah dalam bidang politik.

Editor : Bayu Probo

Back to Home