Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Sotyati 20:14 WIB | Jumat, 15 Mei 2020

Sudamala alias Barucina, Tumbuhan Pengganggu Berkhasiat Obat

Sudamala alias barucina (Artemisia vulgaris, L). (Foto: bimbina.com)

SATUHARAPAN.COM – Tumbuhan ini luas penyebarannya, mulai dari daerah beriklim sedang di Asia, Eropa, Afrika Utara, Amerika Utara, hingga Alaska. Di sebagian besar wilayah, tumbuhan ini dianggap gulma, tumbuhan pengganggu, yang invasif pertumbuhannya.

Namun, di mana pun ditemukan, tumbuhan ini sebaliknya dikenal berkhasiat obat. Karena penyebaran yang sangat luas itu pula, tumbuhan ini memiliki banyak nama lokal.

Dr A Seno Sastroamidjojo Arts, dalam bukunya, Obat Asli Indonesia - Khusus dari Tumbuhan-tumbuhan yang Terdapat di Indonesia (1967, Penerbit Dian Rakyat) menyebutnya sudamala. Sementara di dalam Wikipedia, tumbuhan ini dimasukkan dengan nama barucina.

Masih banyak lagi nama lokal tumbuhan ini. Mengutip dari Wikipedia, nama daerah yang dikenal di antaranya barucina (Melayu), daun sundamala (Melayu), daun manis (Melayu), beungkar kucing, beungkar kucicing (Sunda), suket gajahan (Jawa Tengah), rumput gajah (Jawa Tengah), kolo (Halmahera), goro-goro cina (Ternate).

A Seno Sastroamidjojo masih menambahkan beberapa nama lokal baree cina, beunghar kuciting, jukut lokot mata, camcao, dan brobos kebo.

Situs pdpersi.co.id, menyebutkan di Tiongkok tumbuhan ini dikenal dengan nama hia, ai ye, sementara di Thailand dinamakan ngai curu, nha ngai.

Hal yang sama, tumbuhan ini pun mempunyai banyak nama dalam bahasa Inggris. Paling sering, mengutip Wikipedia, tumbuhan ini disebut mugwort. Namun, juga dikenal dengan nama riverside wormwood, felon herb, chrysanthemum weed, wild wormwood, old Uncle Henry, sailor’s tobacco, naughty man, old man atau St John’s plant.

Semua nama tersebut, dalam penyebarannya di Nusantara ataupun di belahan bumi lain, mengerucut pada nama ilmiah Artemisia vulgaris, L. Dan, tanaman ini secara tradisional telah digunakan sebagai tumbuhan berkhasiat obat dan bahan masakan.

Tumbuhan ini, seperti disebutkan Seno Sastroamidjojo dalam bukunya, secara tradisional dimanfaatkan sebagai diureticum. Melalui pengolahan, juga dicampurkan pada air mandi sebagai pengganti chamomile, untuk aromaterapi.

Daunnya, dipanaskan untuk obat wasir, atau diseduh dan diminium untuk ibu sesudah bersalin. Seno Sasatoamidjojo juga menyebutkan daunnya dimanfaatkan sebagai obat mulas, obat membersihkan borok, hingga aphrodisiacum.

Membuka-buka situs web pdpersi.co.id, disebutkan sudamala atau barucina merupakan salah satu tumbuhan obat yang berkhasiat untuk pengobatan penyakit pada perempuan. Sering dimasak dengan daging berlemak sebagai sayuran. Seperti daun adas, barucina merupakan satu dari sembilan tumbuhan obat sakral di Anglo Saxon.

Pemerian Botani

Artemisia vulgaris L., dari Keluarga Asteraceae (Compositae), menurut Wikipedia memiliki sinonim Artemisia chinensis, Artemisia igniaria, Artemisia indica, Artemisia integrifolia, Artemisia moxa, Artemisia lavandulaefolia, dan Crossostephium artemesioides.

Tumbuhan ini berupa semak menahun, berambut halus, tegak, dengan tinggi di atas 2 m, namun tak lebih dari 2,5 m, dan berbau tajam. Akarnya akar tunggang berwarna kuning kecokelatan.

Batangnya berkayu, bulat, percabangan banyak, putih susu. Sering kali ada warna ungu kemerahan.

Daunnya daun tunggal, berbentuk bulat telur dengan tepi berbagi menjari, ujung meruncing, tersebar, berbagi menyirip, berbulu, panjang 8-12 cm, lebar 6-8 cm, pertulangan menyirip, permukaan daun atas hijau, permukaan bawah keputih-putihan. Bagian bawah daun berbulu lebat (tomentose) putih.

Bunga merupakan bunga majemuk, kecil-kecil (lebar 5 mm), warna kuning muda berbentuk bonggol, tersusun dalam rangkaian berbentuk malai (radially symmetrical) yang tumbuh menunduk, keluar dari ketiak daun. Ujung tangkai benang sari berwarna kuning, kepala putik bercabang dua, berwarna ungu kecokelatan. Capitula (kepala bunga) sempit dan banyak jumlahnya. Tumbuhan ini biasa berbunga dari bulan Juli sampai September.

Buahnya berukuran kecil, berbentuk jarum, berwarna cokelat. Biji kecil, cokelat.

Perbanyakan tumbuhan ini dengan setek atau biji.

Mengutip dari pdpersi.co.id, tumbuhan ini menyenangi tanah yang cukup lembap dan kaya humus. Dapat ditemukan tumbuh liar di hutan dan di ladang sampai ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan air laut.

Sifat, Khasiat, dan Penelitian

Daun sudamala rasanya pahit, pedas, hangat, berbau aromatik. Mengenai kandungan kimia, situs web pdpersi.co.id menyebutkan daun barucina mengandung minyak atsiri (phellandrene, cadinene,α-thujone), α-amirin, fernenol, dihydromatricaria ester, cineole, 1-α-terpineol, β-kariophilene, 1-quebrachitol, dan tanin. Akar dan batangnya mengandung inulin (yang mengandung artemose). Sedangkan cabang kecil mengandung oxytocin, yomogi alcohol, dan ridentin.

Disebutkan pula, tumbuhan ini berkhasiat menghangatkan meridian, menghilangkan rasa dingin, penghilang nyeri (analgesik), penghenti perdarahan (hemostatis), peluruh kencing (diuretik), peluruh kentut, peluruh keringat, meningkatkan nafsu makan (stomakik), astringent, tonik, stimulant, melancarkan peredaran darah dan menghilangkan pembekuan, mencegah keguguran, dan menormalkan haid.

Daun, biji, akar, adalah bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat, baik dalam keadaan segar atau yang telah dikeringkan.

Daun disebutkan berkhasiat mengatasi gangguan haid, mulai dari darah haid terlalu banyak (hipermenore), nyeri haid (dismenore), haid tidak teratur, tidak datang haid (amenore), hingga keputihan (leukorea), mempermudah persalinan, serta mengatasi keram perut setelah melahirkan.

Daun ini juga disebutkan mengobati disentri, perut kembung, nyeri ulu hati, batuk berdahak, sakit tenggorokan, dan wasir.

Beberapa penelitian sudah dilakukan, termasuk di Indonesia. Sudamala menarik perhatian Ira Arundina, Theresia Indah Budhy S, Muhammad Luthfi, dan Retno Indrawati. Pada tahun 2015, mereka melakukan penelitian “Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis Sudamala (Artemisia vulgaris L.)”, yang dipublikasikan di Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 1 (2). pp. 167-171. ISSN 2460-0164 (print); 2442-2576 (online).

Seperti dapat dibaca di repository.unair.ac.id, mereka mendasari penelitiannya pada fakta karsinoma sel skuamosa rongga mulut merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan di rongga mulut. Faktor risiko utama terjadi keganasan di rongga mulut meliputi riwayat serta kebiasaan mengkonsumsi tembakau dan atau alkohol.

Hasil studi mereka menemukan tanaman sudamala sering digunakan di masyarakat sebagai antitumor pada organ pencernaan, termasuk di rongga mulut, namun belum ada penelitian tentang bahan aktif yang berperan sebagai antikanker di rongga mulut.

Melalui penelitian itu mereka berkeinginan menjelaskan identifikasi menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dari sudamala. Penelitian meliputi ekstraksi sudamala, identifikasi ekstrak sudamala, fraksinasi sudamala menggunakan Kromatografi Kolom Vakum dan identifikasi dari fraksi sudamala menggunakan KLT.

Ekstrak heksan sudamala yang dilakukan fraksinasi menggunakan n-heksan: etil asetat menghasilkan 11 fraksi. Fraksi n-heksan: etil asetat (3:7,v/v) dari sudamala yang teridentifikasi menggunakan KLT, mengandung terpenoid.

Penelitian lain dilakukan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Sudamala atau barucina memiliki bau tajam yang khas, yang tidak disukai nyamuk. Tergerak oleh fakta demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi penyakit yang mengancam kesehatan masyarakat Indonesia, pada tahun 2017 lima mahasiswa UGM membuat formula antinyamuk dari daun sudamala.

Berada di kawasan tropis, menjadikan Indonesia rentan terhadap serangan penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Bahkan, menjadi negara endemis DBD dengan prevalensi kasus mencapai angka 43,4 persen pada tahun 2016.

Pada 7 Juni 2017, situs resmi ugm.ac.id, memublikasikan karya Vika Ichsania Ninditya, Endah Purwanti, dan Ajeng Tyas Utami dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Aprillyani Sofa Marwaningtyaz dan Nadia Khairunnisa dari Fakultas Farmasi. Mereka membuat formula antinyamuk sebagai salah satu langkah pencegahan penyakit demam berdarah.

Vika dan keempat temannya membuat formula antinyamuk dari bahan herbal yang tidak hanya mampu mencegah gigitan nyamuk di kulit, tetapi juga aman bagi tubuh. Spray antinyamuk karya mereka yang dinamai ARTS, kependekan dari Artemisia vulgaris, dibuat dari ekstrak daun sudamala, yang banyak tumbuh di dataran tinggi seperti Wonosobo, Jawa Tengah itu.

Mereka melakukan penelitian dengan menguji ekstrak daun sudamala. Uji pertama yaitu uji efektivitas ekstrak daun sudamala, dan yang kedua uji repellent assay untuk membuktikan keampuhan ekstrak daun dalam mencegah gigitan nyamuk.

Hasil penelitian mereka menyebutkan spray berbahan sudamala itu ampuh dalam mencegah gigitan nyamuk.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home