Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 22:35 WIB | Sabtu, 22 Februari 2020

Sudan Selatan Sepakat Berdamai Bentuk Pemerintahan Koalisi

Pemimpin oposisi Riek Machar dan Presiden Salva Kiir, kduanya sepakat untuk membentuk pemerintahan koalisi. (Foto: dok. Reuters)

SATUHARAPAN.COM-Sudan Selatan membuka babak baru dengan para pihak yang bertikai dalam perang saudara, hari Sabtu (22/2) membentuk pemerintahan koalisi.

Sehari setelah Presiden Salva Kiir membubarkan pemerintahan, pemimpin oposisi, Riek Machar, dilantik sebagai wakilnya. Pengaturan seperti ini pernah dua kali dilakukan dan gagal dalam konflik yang telah menewaskan hampir 400.000 orang.

Negara termuda di dunia ini terjerumus dalam perang saudara pada tahun 2013, dua tahun setelah kemerdekaan dari Sudan, dan disusul bentrokn antara pendukung Kiir dan Machar. Berbagai upaya perdamaian telah gagal, termasuk kesepakatan yang menjadikan Machar kembali sebagai wakil presiden pada tahun 2016. Dia melarikan diri, dan beberapa bulan kemudian terjadi kembali baku tembak.

Tekanan internasional yang kuat mendorong kesepakatan damai pada tahun 2018, di mana Paus Fransiskus dengan dramatis mencium kaki Kiir dan Machar untuk membujuk mereka agar mengesampingkan perbedaan. Upacara hari Sabtu (22/2) itu dimulai dengan presentasi kepada mereka tentang foto peristiwa dengan Paus itu sebagai pengingat.

Kiir mengumumkan keputusan tentang masalah sensitif di sejumlah negara bagian, dan Machar setuju untuk meminta Kiir bertanggung jawab atas keamanannya. Pada hari Kamis (20/2), mereka mengumumkan bahwa mereka sepakat membentuk pemerintahan untuk menyelnggarakan pemilihan dalam waktu tiga tahun, itu akan menjadi pemilihan pertama sejak kemerdekaan.

Kiir dan Machar mengatakan masalah luar biasa akan dinegosiasikan di bawah pemerintahan baru.

"Akhirnya, perdamaian ada di depan pintu kami," seorang reporter Radio Miraya yang didukung oleh Amerika Serikat menyatakan dari Bor, negara bagian Jonglei. Di Yambio, par pemuda membawa bendera turun ke jalanan. "Saya bersukacita dengan orang-orang Sudan Selatan, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal, lapar dan berduka yang menunggu begitu lama,'' kata uskup agung Canterbury, Justin Welby, di akun Twitter.

Komunitas kemanusiaan, yang telah menyaksikan lebih dari 100 pekerja terbunuh sejak perang saudara dimulai, berharap pemerintah baru akan mengarah pada pengiriman makanan yang jauh lebih mudah, dan dukungan lain yang sangat dibutuhkan. Sebab, sekitar setengah dari 12 juta populasi Sudan Selatan masih kelaparan. Sekitar 40.000 orang dalam kondisi kelaparan, dan sekarang wabah belalang besar di Afrika Timur telah tiba di negeri itu. Lebih dari dua juta orang lainnya melarikan diri dari Sudan Selatan selama perang saudara, dan Kiir mendesak mereka untuk pulang.

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home