Loading...
BUDAYA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 06:00 WIB | Rabu, 07 Mei 2014

Sulaman Karawo dari Gorontalo, Lestarikan Warisan Budaya

Sulaman Karawo dari Gorontalo, Lestarikan Warisan Budaya
Dari kiri-kanan: Deden Siswanto, Andre, Tuti Cholik, Emilia Hinta. (Foto-foto: Diah A.R)
Sulaman Karawo dari Gorontalo, Lestarikan Warisan Budaya
Contoh hasil sulaman Karawo Gorontalo.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Emilia Hinta, perempuan asli Gorontalo yang berkarir di ibu kota Jakarta bertekad untuk melestarikan warisan budaya daerahnya. Berbekal dorongan dari mendiang ibunya, Emilia mengembangkan ulaman Karawo.

Sulaman Karawo merupakan kerajinan tangan dari daerah Gorontalo yang memiliki arti saling berkaitan di pinggiran lubang kain.

“Dengan banyaknya kesibukan, ketika saya kembali dari Gorontalo saya sempat lupa pesan ibu saya,” kata dia dalam konferensi pers merayakan Hari Ulang Tahun keempat Ibukita Gallery yang diadakan di Hotel Sahid, Jakarta, Selasa (6/5).

“Akhirnya saya membulatkan tekad saya untuk merealisasi keinginan ibu saya untuk mengembangkan kerajinan tangan tersebut. Saya mulai berjalan menyusuri tempat demi tempat pengrajin Karawo. Mulai dari situ saya mengembangkan bisnis dengan mencari bahan yang pas untuk sulam Karawo ini bisa dikombinasi dan terlihat bagus,” kata Emilia Hinta.

Menurutnya, awal membangun bisnisnya ini masih banyak menemui kesulitan seperti desain, warna dan bahan. Selain itu, untuk membina para pengrajin juga tidaklah mudah. Kepada satuharapan.com, dia mengemukakan bahwa para pengrajin hanya membuat sulaman tersebut sebagai pekerjaan sambilan setelah mereka mengerjakan pekerjaan utamanya yaitu bertani.

Pada mulanya para pengrajin menjual sulaman Karawo ini dengan harga yang sangat murah karena terkendala kurang banyak peminat, bahan yang masih kurang baik dan warna yang masih sangat terbatas untuk dieksplorasi.

Walaupun Emilia masih mengandalkan pengrajin rumahan dari Gorontalo, kini bisnis tersebut telah berhasil mendapatkan 1000 orang pelanggan tetap dari seluruh Indonesia dan beberapa warga negara asing.

Emilia juga berharap sulaman Karawo ini tidak hanya dinikmati oleh kalangan orang tua saja tapi juga anak muda. Oleh karena itu, dia meminta kepada para designer seperti Deden Siswanto, Tuti Cholid dan Carmanita dapat membantu agar sulaman Karawo ini bisa dijangkau oleh kalangan manapun.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home