Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 10:59 WIB | Minggu, 05 Mei 2019

Sunggingan Subandi Giyanto dalam “Nunggak Semi”

Sunggingan Subandi Giyanto dalam “Nunggak Semi”
Lukisan berjudul “Menembus Langit Berbintang” (kanan) karya Subandi Giyanto dalam pameran tunggal bertajuk “Nunggak Semi” di Bentara Budaya Yogyakarta, 3-10 Mei 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Sunggingan Subandi Giyanto dalam “Nunggak Semi”
Potongan lukisan berjudul “Jangan Rakus” karya Subandi Giyanto.
Sunggingan Subandi Giyanto dalam “Nunggak Semi”
Wuku Julungpujud – cat akrilik, prada/emas di atas fiberglass – Subandi Giyanto – 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Setelah 15 tahun tidak berpameran tunggal, seniman-perupa dan guru purna tugas SMKN 3 Kasihan Bantul, Subandi Giyanto, menggelar pameran tunggal keduanya di Bentara Budaya Yogyakarta.

Dua puluh sembilan karya lukisan di atas kanvas serta 12 lukisan kaca-cermin dipresentasikan Subandi bersama tiga buah karya tiga matra-instalasi. Pameran bertajuk “Nunggak Semi” dibuka Jumat (3/5) malam.

Keseluruhan karya Subandi lebih banyak mengeksplorasi tradisi sebagai ide penciptaan karyanya dengan objek dunia pewayangan sebagai narasi utama. Tidak berlebihan mengingat sejak usia tujuh tahun Subandi telah belajar natah dan nyungging wayang kulit yang dipelajari langsung dari ayahnya, Ngatiman, atau dikenal dengan nama Giyanto Wiguna, seniman pembuat wayang kulit pakem Yogyakarta.

Karya lukisan wayang Subandi Giyanto secara garis besar terbagi dalam tiga hal: eksplorasi-pengembangan cerita pakem wayang, wayang sebagai medium kritik sosial, serta eksperimen kisah pewayangan dalam konteks hari ini.

Eksplorasi-pengembangan cerita pakem wayang terlihat dalam karya Subandi berjudul Perjalanan Raden Gunungsari, Perjalanan Raden Mangunjoyo, Pisowanan Prabu Brawijaya, ataupun lukisan kaca berjudul Rama-Shinta.

Pada karya berjudul Apakah Bisa Melegenda Subandi melengkapi drawing sekuel wayangnya dengan objek sebuah mobil mewah. Sebuah lontaran pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah ukuran menjadi sebuah legenda hari ini?

Kritik sosial dan nasihat disampaikan Subandi dalam banyak karyanya. Sepuluh lukisan kaca seri Kaca Pitutur dibuat dengan objek karaktek Punakawan dengan penggunaan paribasan Jawa seperti Asu gedhe menang kerahe, Aja cedhak kebo gupak, Aja watak wani wirang, Sing duga lan prayoga, Aja luntur ing panggoda, Wong miskin dilarang sakit, Yen ning buri aja nggendholi, Aja rebutan kursi, Yen bareng aja jegali, Melik nggendhong lali, serta satu lukisan cermin berjudul Becik ketitik ala ketara.

Penggunaan karakter Punakawan memberikan keleluasaan Subandi dalam menyampaikan pesan-kritik secara ringan-jenaka kepada pihak lain. Sebuah pilihan yang menarik.

Nasihat/pitutur juga dibuat Subandi pada lukisan kanvas berjudul Jangan Rakus, Jangan Korupsi Mari Membangun Negeri, Hentikan Kerakusanmu. Menjadikan wayang sebagai objek-karakter sebagai penggambaran bayang-bayang perilaku kehidupan manusia menjadi medium yang efektif bagi Subandi untuk menyampaikan pesan-pesan moral.

Pada karya instalasi berjudul Aja Adigang, Adigung, Adiguna, selain objek karakter wayang Subandi melengkapi dengan objek manusia dan binatang, sebuah nasihat untuk menghindari bersikap menyombongkan diri karena kekuatan-kekuasaan, tinggi hati karena kekayaan dan harta benda, serta merendahkan pihak lain karena kepandaian yang dimiliki.

Pada karya tiga matra berjudul Wuku Julungpujud Subandi menggambarkan sifat-watak individu yang memiliki wuku Julungpujud di atas badan seekor anak sapi.

Menyampaikan Pesan

Ditemui satuharapan.com saat pembukaan pameran Jumat (3/5) malam, Subandi Giyanto menjelaskan tentang penggunaan teknik sungging pada keseluruhan karya yang dipresentasikan.

Sunggingan itu merupakan teknik pewarnaan yang digunakan dalam membuat wayang kulit. Bisa dalam bentuk blok warna, gradasi, maupun isen-isen (isian). Untuk isian saya seringnya menggunakan drawing kisah-kisah pewayangan,” Subandi menjelaskan.

Untuk pewarnaan Subandi menggunakan standar pewarnaan wayang kulit klasik gaya Yogyakarta dalam pola komposisi merah dengan hijau, biru untuk hal-hal tertentu dengan warna merah, ataupun warna oranye dengan biru atau ungu.

“Selalu begitu. Ternyata komposisi tersebut (setelah saya aplikasikan ke mana-mana) tidak menjemukan. Ini menjadi ciri khas pewarnaan (sunggingan) pada wayang kulit gaya Yogyakarta,” lebih lanjut Subandi menjelaskan.

Dalam pola komposisi tersebut lukisan Subandi bisa dengan mudah dibedakan dengan dengan lukisan wayang gaya Ubud-Batuan yang kerap menggunakan campuran warna putih kehitaman, maupun hijau kehitaman. Dan pola komposisi sunggingan tersebut menjadi ciri khas karya-karya Subandi Giyanto.

Pada beberapa karya terbaru berjudul Kuda, Panji, dan Aku, Mantapkan Langkah Kudaku, Derap Langkah Kudaku, Wuku Gumbreg di Tanah Emas, Indonesia Emas, Subandi mengaplikasikan warna prada (emas) serta objek-objek besar binatang kuda, sapi, sebagai isen-isen melengkapi isen-isen cerita wayang dalam karyanya.

Dalam karya lukisan berjudul Jangan Rakus, Jangan Korupsi Mari Membangun Negeri, secara jelas Subandi menyampaikan pesan haus kekuasaan dan praktik korupsi yang bersumber dari kerakusan menjadi penyakit kronis bangsa Indonesia, yang bisa merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa-bernegara dan harus dilawan bersama.

Pameran seni rupa bertajuk "Nunggak Semi" berlangsung sampai tanggal 10 Mei 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta.

Editor : Sotyati

Back to Home