Loading...
EKONOMI
Penulis: Sabar Subekti 23:26 WIB | Rabu, 17 Juni 2020

Suriah Devaluasi Mata Uangnya Akibat Sanksi Amerika Serikat

Warga Suriah menunggu di luar toko penukaran mata uang di kota Sarmada di Provinsi Idlib barat laut Suriah, pada 15 Juni 2020 (Foto: dok AFP)

DAMASKUS, SATUHARAPAN.COM-Bank sentral Suriah mendevaluasi pound Suriah pada hari Rabu (17/6) menyerah setelah beberapa pekan mengalami depresiasi di pasar gelap karena sanksi baru Amerika Serikat mulai berlaku.

Bank sentral menaikkan nilai tukar resmi dari 704 menjadi 1.256 pound Suriah terhadap setiap dolar AS, dalam pernyataan yang dipublikasikan di laman media sosialnya. Nilai tukar sebelumnya itu berlaku sejak Maret.

Awal bulan ini, mata uang negara yang dilanda perang selama hampir satu dekade itu mencapai rekor terendah di pasar gelap sekitar 3.000 pound terhadap dolar, memicu protes langka, sebelum naik sedikit setelah injeksi dolar.

Pada hari Rabu, nilai di pasar paralel sekitar 2.600 hingga 2.800 pound terhadap dolar, kata para pedagang kepada AFP.

Devaluasi terjadi ketika Amerika Serikat bersiap untuk menerapkan sanksi baru pekan ini di bawah Undang-undang Caesar (Caesar Act) yang menargetkan orang asing melakukan bisnis dengan pemerintah Damaskus, serta rekonstruksi negara itu.

Zaki Mehchy, seorang rekan konsultan senior di think tank Chatham House yang berbasis di London, mengatakan bank sentral Suriah berusaha meminimalkan kesenjangan antara nilai resmi dan nilai di pasar gelap. "Itu berusaha mendorong orang menggunakan saluran resmi, bukan pasar gelap," katanya.

Tetapi pound Suriah kemungkinan akan terus turun, diselingi oleh periode apresiasi singkat, katanya.

Akibat Perang

Ekonomi Suriah telah terpukul oleh perang sembilan tahun, dan sekarang terhuyung-huyung akibat dampak krisis keuangan di negara tetangganya Lebanon yang telah menghambat aliran dolar ke wilayah-wilayah yang dikuasai pemerintah.

Para analis telah mengatakan posisi terendah baru-baru ini di pasar gelap kemungkinan karena kekhawatiran menjelang berlakunya sanksi baru AS, dan kejatuhan secara tiba-tiba dari taipan dan sepupu presiden, Rami Makhlouf, yang telah membuat pebisnis top lainnya berada di ujung tanduk.

Pemerintah Damaskus telah lama menyalahkan krisis ekonomi negara itu atas sanksi internasional. Pekan lalu, Presiden Bashar Al-Assad memecat perdana menteri setelah empat tahun menjabat, karena mengkritik penanganan pemerintah terhadap krisis.

Sebelum konflik, nilai tukar pound Suriah pada angka 47 terhadap dolar. (AFP)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home